Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pecinta Musik, Itu Saja

Pecinta Musik, Itu Saja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi-musik (agussiswoyo.com)
ilustrasi-musik (agussiswoyo.com)

dakwatuna.com – Pecinta musik di Indonesia tidak bisa dikatakan sedikit jumlahnya. Negara ini, yang memiliki pelbagai varian hidup dengan warna di dalamnya. Selain itu, ada juga sepak bola, yang begitu dikenal masyarakat saat ini. Ya, olahraga yang sangat digemari, bahkan ada yang fanatik dengan olahraga ini. Terlepas dari itu, musik pun tidak kalah kepopulerannya.

Bersyukurlah, keberadaan musik tidak begitu sepopuler sepak bola. Namun, perlu dicermati, eksisnya musik di Indonesia juga cukup diperhatikan. Pasalnya, hampir di setiap konser ada saja peristiwa yang terjadi, seperti perkelahian, dan sebagainya. Ibarat sebuah istilah “serupa tapi tak sama”. Serupa bahwa sama-sama digemari, namun berbeda kegiatannya.

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (QS Luqman: 6).

Terdapat perbedaan pendapat mengenai maksud yang tertera dalam Alquran tersebut. Namun, bisa diambil dari kata “perkataan tidak berguna”, yaitu perkataan yang dapat melalaikan hati. Menjauhkan diri pada ketaatan dalam beribadah, dan bisa berujung kepada kemaksiatan. Itulah dahsyatnya musik, yang seseorang bisa terlena saat mendengarnya, terlebih hingga meresapi ke dalam jiwanya.

Belum lama ini, artis ternama dunia dalam dunia musik, menggelar konsernya di Indonesia. Tepatnya di Banten, Tanggerang Selatan. Tidak asing lagi di mata masyarakat, penyanyi solo tersebut pernah menjadi kontroversi beberapa tahun lalu, karena masalah aqidah. Tidak hanya itu, ada pula penyanyi yang mengatasnamakan sebagai “boy band”, dan berhasil membuat feedback positif dari para fans. Ditambah dengan pemusik dalam negeri.

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku, sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutra, khamar, dan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, ‘kembalilah kepada kami esok hari’. Kemudian Allah membinasakan mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.”

Ibnul Qayim berkata, “Tidak ada seorang pun yang mendengarkan nyanyian, kecuali hatinya munafik. Sebab, tidak mungkin berkumpul di dalam hati seseorang antara dua cinta, yaitu cinta nyanyian dan cinta Alquran, kecuali yang satu mengisi yang lain.”

Hati seorang manusia, tentu hanya Tuhan dan hamba-Nya saja yang tahu. Namun, pernahkah kita menemui orang yang lebih cinta pada musik, bahkan yang mengaku orang alim sekalipun? Apabila mereka mendengar nyanyian, maka pikirannya menjadi tenang dan segar. Bahkan, saking menikmatinya bisa meneteskan air mata. Lalu mengapa ketika membaca Alquran, hampir tidak ada gejolak sedikit pun di dalam hatinya? Seperti yang tercatat di dalam bukunya Dody Yudho Utomo dalam buku Kado Spesial Untuk Pecinta Musik.

Bila kita bisa menanam petikan berikut ini di dalam hati, sejatinya dengan perlahan aliran musik apapun, bisa ditinggalkan. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs ar-Ra’d: 28). Karena itu, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya ataupun miskin, tak dibenarkan menjadikan musik sebagai hobi atau makanan sehari-hari.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Lahir bulan Januari 1990 di Jakarta. Ketertarikan dengan dunia tulis-menulis berawal dari kebiasaan menulis berita, membaca buku dan kuliah di jurusan jurnalistik. Menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 72 Jakarta. Kemudian, memasuki dunia perkuliahan S1 di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehari-harinya aktif di Komunitas sosial di Jakarta, organisasi kampus, dan menulis. Menyukai dunia cerpen dimulai dari organisasi Forum Lingkar Pena Ciputat, yang setiap akhir pekan diadakan pelatihan menulis dengan mentor berpengalaman. Sudah menulis dan menghasilkan karya melalui perlombaan cerpen yang diadakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK Award) UIN Syahid Jakarta dengan judul Hukum Telah Mati, dan perlombaan Essay yang diadakan dari organisasi Islam di Universitas Negeri Jakarta dengan judul Konsistensi Pribadi Qurani Di Bulan Ramadhan. Agama Islam, hobi membaca, memasak, tenis meja dan menonton film. Alamat di Kelurahan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Organization