Home / Muhammad Abrar

Muhammad Abrar

Pegawai Swasta. Anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Untukmu Belahan Jiwaku

Hadirmu menjadikan hidup lebih bermakna, tawamu mampu menghapus luka di dada, tangismu membuat jiwa gundah gulana. Lakumu terkadang mengundang rasa cemburu tak terkira, senyum manismu menyembuhkan rasa sakit di jiwa, tingkahmu menghilangkan rasa lelah yang dirasa selepas bekerja.

Baca selengkapnya »

Dia yang Kini Bukanlah Dia yang Dulu

Selepas SMU kami tidak pernah ketemu lagi, karena melanjutkan pendidikan pada universitas berbeda. Sampai pada suatu ketika di tahun 2005, dua tahun setamat SMU. Dari jauh kuperhatikan, seakan tidak percaya bahwa itu adalah dia. Seketika lisanku bergumam, "Subhanallah, tidak salah lihatkah mata ini?".

Baca selengkapnya »

Surat Cinta Buat Anak-anakku

Assalamu'alaikum, Nak, dengarlah abimu ini ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Barangkali ini akan menjadi bekal hidupmu dalam mengarungi samudera kehidupan yang dipenuhi onak dan duri. Begitu banyak pertarungan yang akan engkau temui. Pertarungan yang haq dan bathil.

Baca selengkapnya »

Walau Bagaimanapun, Beliau Adalah Ibu Kita

Kisah Al-Qomah dengan ibunya cukuplah menjadi pelajaran, betapa berharganya ridha kedua orangtua bagi kita. Dikisahkan pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada seorang anak bernama Al-Qomah. Di saat sakaratul maut ia begitu susah mengucapkan kalimat tauhid, padahal dia seorang yang sangat taat beribadah semasa hidupnya. Ternyata murka ibunya telah menyebabkan lidahnya begitu berat untuk mengucapkan kalimat tauhid itu.

Baca selengkapnya »

Bukittinggi, Ambo Di Siko

Ketika disebutkan Bukittinggi, maka orang akan segera teringat Jam Gadang. Tak bisa dipungkiri bahwa Jam Gadang memang dikenal sebagai ikonnya Kota Bukittinggi. Jam berukuran besar yang terletak di jantungnya Kota Bukittinggi ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) pada masa penjajahan Belanda. Seperti terlihat di kover buku ini, gambar Jam Gadang

Baca selengkapnya »

Bidadariku, Hadirmu Ibarat Purnama

Tidak banyak yang paham, Hanya sedikit yang mengerti, Akan tugas beratmu sebagai seorang istri, Sebagai ibu dari anak-anak, Waktu kerjamu bukanlah 8 jam, Bukan pula 12 jam, Akan tetapi 24 jam bahkan lebih, Bukanlah dari pagi sampai sore, Bukan pula dari malam sampai pagi Akan tetapi dari pagi hingga pagi lagi, Siang engkau lelah bekerja, Tak bisa istirahat barang sekejap, Malam engkau lelah begadang.

Baca selengkapnya »

Ibu, Engkaulah Matahariku

Ibu, Memori tentangmu, Tak mungkin bisa kulupa, Walau sampai akhir hayatku, Semua jasamu, Tak mungkin bisa kubalas, Walau seluruh isi bumi, Kupersembahkan untukmu, Ibu, engan gajimu sebagai abdi negara, Kurasa cukup untuk hidupmu, Tanpa harus berlelah-lelah lagi, Dengan pekerjaan lain, Namun itu tak berlaku , Ibu, Ku masih ingat, Betapa keras perjuanganmu, Belum lepas lelahmu, Sepulang dari sekolah.

Baca selengkapnya »
Organization