Home / Berita / Nasional / Pernyataan Sikap PP Muhamamdiyah Jelang Hari Pencoblosan

Pernyataan Sikap PP Muhamamdiyah Jelang Hari Pencoblosan

Logo Muhammadiyah (wikipedia.org)

dakwatuna.com – Jakarta. Pimpinan Pusat Muhammadiyah Senin (15/4) menyampaikan pernyataan tentang Pemilihan Umum 17 April di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Jakarta Pusat.

Pernyataan dibacakan oleh Dr. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum, didampingi Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Ketua, Dr. Anwar Abbas, Ketua, Prof Dr. Suyatno, Bendahara.

Menjawab pertanyaan tentang kriteria caleg dan presiden yang harus dipilih, menurut  Haedar Nashir, soal kriteria sudah selesai saat kampanye. Muhammadiyah ingin menyampaikan pesan moral bersama-sama komponen bangsa mencerahkan kehidupan kebangsaan setelah tujuh bulan lebih berada dalam suasana proses kampanye pemilu.

PP Muhammadiyah dengan delapan poin pernyataan itu sudah cukup representasi untuk menyongsong hari “H” pemilhan dalam konteks kebangsaan lebih luas.

“Jadi urusan kriteria sudah selesai saat kampanye”, ujarnya dalam siaran pers yang diterima Dakwatuna.

Haedar percaya anak bangsa sudah cerdas, matang dan bijaksana. PP Muhammadiyah mengingatkan bahwa bangsa ini sudah sebelas kali pemilu sejak Orde Baru sampai Orde Reformasi. Sengaja memori ini dibuka agar kita belajar bersama, sehingga kita semakin cerdas dan bijaksana dalam pemilu. Ada riak gelombang itu sebagai dinamika politik. Begitu masuk pemilihan semua harus menciptakan susana damai toleran.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan terimakasih kepada semua komponen bangsa, bahwa kampanye secara umum berjalan secara baik. Karena itu mari bersama memastikan dengan spiritualitas berbangsa pemilu bisa berlangsung sebaik-baiknya.

Menjawab pertanyaan himbauan tentang tentang shalat subuh berjamaah di sekitar TPS, apakah itu bentuk politisasi ibadah, Haedar merujuk pada pernyataan poin lima pernyataan, yang berbunyi seluruh warga negara yang memiliki hak pilih agar menggunakan hak politiknya dengan penuh tanggung jawab dan seterusnya, Haedar percaya bahwa umat Islam akan menjalankan ibadah maghdaf secaga khusu, karena ibadah seperti itu tidak perlu  dimobolisasi untuk kepentingan politik.

Shalat-shalat ditunaikan di masjid, jadikan kemakmuran masjid untuk membawa kehidupan akhlak mulia, membangun kehidupan berbangsa bernegara yang lebih baik.

Terhadap pertanyaan wartawan tentang people power, Haedar menghimbau hendaknya yang mendapat keberhasilan diterima sebagai amanah dengan penuh rendah hati, dan bagi yang belum memperoleh mandat supaya menerima dengan lapang hati, kalau ada masalah persengketaan selesaikan melalui prosedur hukum Mahkamah Konstitusi dan peraturan perundang-undangan, tidak perlu mobilisasi massa. Sebagai umat beriman, hasil apa pun kita terima dengan syukur, sabar, dan sikap yang baik. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Referendum Mesir, Cara As-Sisi Untuk Berkuasa Hingga 2030

Organization