Home / Pemuda / Essay / Pantaskah untuk Menyakitinya?

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (media.shafira.com)

dakwatuna.com – Ingatkah, saat kita kecil dulu? Di mana kita tak bisa berbuat banyak kecuali dengan bantuan ayah dan ibu. Makan kita disuapi, minum harus dibimbing. Ketika malam tiba, ia rela terjaga, menimang-nimang kita. Beliau tak rela bila ada seekor nyamuk pun menggigit kita.

Dan ibu, perjuangan beliau tuk merawat kita telah dimulai sejak Sembilan bulan sebelum kelahiran kita. Besarnya kecintaan beliau kepada kita jauh melebihi rasa lelah yang dirasakannya. Bahkan perjuangan beliau tertulis penuh haru dalam Al-Quran,

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”. (QS. Al-Ahqaf: 15).

Kini, telah terjadi fenomena menyedihkan. Banyak anak yang justru menghardik ibunya hanya karena keinginannya tak terpenuhi. Terlontarlah hujatan tuk sang ibu yang telah merawatnya bertahun-tahun. Tersebarlah hinaan di berbagai media sosial tuk sang ibu yang telah susah payah membinanya. Dan bahkan tersakitilah fisik sang ibu yang telah lama menyayangi dengan penuh ikhlas serta kesabaran.

Padahal, Rasulullah SAW, ia sangat mencintai dan menghormati ibunya. Rasa cinta itu terpancar ketika beliau ditanya oleh salah seorang sahabat “Kepada siapakah aku harus berbakti?”, maka Rasulullah pun menjawab “Ibumu” sampai dengan tiga kali beliau menjawab dengan jawaban yang sama. Dan Rasulullah pun suatu ketika bersabda bahwa, “Surga itu di bawah telapak kaki ibu”. Dan Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang Ayah.

Maka tak layaklah bagi kita membuat ibu sakit hati, atas apa yang kita perbuat. Bilamana ada kesuksesan di balik ridhanya maka ada kegagalan di balik kesedihannya. Bilamana di waktu kecil kita merepotkannya, maka kini saatnya kita bertekad membahagiakannya. Bilamana kala itu kita membuatnya bersedih, maka kini saatnya kita membuatnya tersenyum. Tanpa doa dan ridhanya tak akan dapat apa yang kita citakan. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Anwar Alwinanto
Alumni Ma'had Al An nuaimy. Ma'had Binaul Ummah Kuningan. Ma'had tahfidz Salim Awwad Al jandal

Lihat Juga

Menjadi Calon Ibu Peradaban yang Bijak dalam Penggunaan Media Sosial