Home / Narasi Islam / Sejarah / Para Kesatria Pembawa Panji

Para Kesatria Pembawa Panji

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tirto.id)

dakwatuna.com – Saat umat Islam mempersiapkan diri membendung gempuran musyrikin Mekkah di Bukit Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi kekuatan Madinah dalam tiga batalion. Salah satunya dipimpin oleh Mush’ab bin Umair. Pria tampan dari Mekkah yang meninggalkan harta dan kemewahan keluarganya demi Islam. Saat menggempur pasukan musyrikin, Mush’ab membawa panji dan memimpin perlawanan. Kendati sempat menguasai keadaan, pertahanan pasukan muslimin akhirnya porak poranda digempur pasukan Khalid bin Walid yang pada waktu itu belum masuk Islam.

Kondisi genting, banyak sahabat Rasulullah yang terbunuh. Bahkan Rasulullah patah gigi serinya dan terluka bibirnya kena hantaman senjata. Salah satu panglima Kuffar Quraisy, Abdullah bin Qamiah hampir saja membunuh Rasulullah dengan tebasan pedang di bahu baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memukul kening Rasulullah hingga berlumuran darah. Pertempuran berkobar hebat di sekitar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat berkerumun di sekeliling beliau menjadi benteng manusia. Satu persatu syahid. Bahkan Thalhah bin Ubaidillah kehilangan semua jari tangannya ditebas musyrikin karena menjadi tameng bagi Baginda. Di sinilah terlihat butir-butir kecintaan dan kesetiaan serta patriotisme sejati para sahabat.

Mush’ab bin Umair bertempur dengan gencar melindungi Nabi dari serangan Abdullah Bin Qamiah dan gerombolannya. Setiap ada pedang atau panah yang ditujukan ke tubuh Rasulullah, Mush’ab menangkisnya, sembari tetap memegang panji Rasulullah di tangan kanannya. Beberapa pukulan dan hujaman panah melukai tubuhnya, tak dihiraukannya. Baginya Rasulullah dan panji Islam lebih mahal dari nyawanya. Sampai akhirnya musyrikin berhasil menebas putus tangan kanannya. Lalu dia membawa panji itu dengan tangan kirinya. Terus bertahan dengan puluhan sabetan luka di tubuhnya. Lalu mereka menebas putus tangan kirinya. Kemudian panji itu ia dekap ke dadanya dengan dua pangkal lengan yang berlumuran darah. Sampai akhirnya dia syahid dengan tikaman tombak Abdullah bin Qamiah.

Melihat Mush’ab terbunuh, Rasulullah memerintahkan Ali Bin Thalib membawa panji tersebut. Pertempuran terus berlangsung sampai akhirnya pasukan musyrikin menghentikan serangan dan berbalik ke Mekkah. Tujuh Puluh sahabat Rasulullah gugur dalam peperangan ini. Jasad mereka tumpang tindih bercampur debu dan pasir. Beberapa di antaranya dicincang jenazah mereka oleh Kuffar Quraisy. Bahkan paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib dibelah dadanya dan dikunyah jantungnya. Memilukan. Ibnu Mas’ud berkata, “Kami tidak pernah melihat Rasulullah sesegukan menangis daripada tangisannya terhadap Hamzah.”

Pemandangan para syuhada benar-benar mengenaskan dan membuat hati teriris. Saat jenazah mereka akan dikafankan, kaum muslimin bahkan tak memiliki kain yang cukup untuk menutupi jenazah mereka. Jika bagian kepala mereka ditutupi akan terlihat kakinya, jika ditutupi kakinya akan tersembul kepalanya. Padahal mereka orang-orang terbaik, generasi pilihan yang Allah jadikan sebagai pedoman sepanjang zaman. Mereka generasi pembawa panji Rasulullah, pengibar Panji Islam, Panji Tauhid, Panji Kemenangan, panji yang dengannya kita mulia atau terhina. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A
Duta Sosialisasi Palestina KNRP [Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina]. Direktur International Institute for Islamic World Studies (INIWS).

Lihat Juga

Bendera, Literasi, dan Titik Temu