Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sudahkah Kita Bersabar?

Sudahkah Kita Bersabar?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (himasal.lirboyo.net)

dakwatuna.com – Sabar, sikap yang sudah sepatutnya ditunjukkan oleh seorang muslim, seburuk apa pun keadaannya, sesakit apa pun luka yang kita rasakan, dan seberat apa pun cobaan yang kita hadapi, kita harus selalu sabar. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 53 yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar“.

Sabar ibarat obat yang harus kita minum setiap kali kita merasakan perihnya deraan cobaan yang datang mendatang. Kita harus selalu yakin bahwa setiap ujian yang datang menghampiri kita adalah cara terindah dari Sang Mahakuasa untuk menaikkan derajat kita, sebagaimana ketika kita ingin naik kelas ke tingkatan yang lebih tinggi maka kita harus melewati ujian terlebih dahulu, demikian pula hidup ini, jika kita ingin menjadi hambanya yang setia, maka kita haruslah tegar dalam menghadapi setiap ujian dengan kesabaran yang indah.

Sering kali kita mendengarkan celotehan, cacian, dan makian orang, orang-orang yang dengan seenaknya sendiri men-judge diri kita ini dan itu. Lantas, apa yang kita lakukan ketika kita mendengarkan suara-suara sumbang dari orang-orang itu.

Marah? Apakah kita akan dengan mudah dikalahkan oleh setan. Bahkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.

“Bukankah sabar itu ada batasnya, sudah sewajarnya aku marah”, kalimat yang sering kita dengar, yang entah dari mana asal-usulnya. Padahal Allah telah berfirman dalam Az-Zumar ayat 10,

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.

Apakah kita akan melewatkan pahala tanpa batasan yang dijanjikan oleh Tuhan hanya untuk memuaskan diri memenuhi hawa nafsunya yang disetir oleh kemarahan?

“Jangan terlalu sabarlah, dia sudah keterlaluan”, kalimat yang sering dilontarkan orang lain yang berempati kepada kita. Awas tipuan syaithan! Bukankah perintah bersabar datangnya dari Tuhan yang Maha Penyabar dan ucapan-ucapan manusia bisa berasal dari syaithan yang tak ingin kita sabar dalam menghadapi ujian. Saudaraku, kita diciptakan di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya semata, menjaga hati, lisan, dan perbuatan dari hal yang tercela haruslah kita lakukan selalu.

Dunia ini penuh kenikmatan yang menipu, terkadang kita terlalu berharap kepada manusia yang pada akhirnya, orang tersebut dapat mengecewakan kita. Kita kesal, kita marah, kita menganggap bahwa orang yang kita percayai telah melalaikan amanah yang kita berikan. Saudaraku, cobalah berhenti sejenak, renungilah setiap kejadian yang telah engkau lewati, bersabarlah dengan kesabaran yang indah. Mungkin kau terlalu berharap terhadap manusia dan ini adalah cara Allah menyadarkanmu bahwa tiada tempat untuk mengharap lebih melainkan hanya kepada Allah semata. Ketika tidak ada bahu untuk bersandar, kau akan selalu punya sajadah untuk bersujud. Shalat di sepertiga malam terakhir, mencurahkan segalanya pada Tuhan Semesta Alam dan berpasrah kepada-Nya adalah cara menyembuhkan hati dari segala penyakit kesempitan urusan duniawi.

Cacian, cercaan, makian, dan hinaan yang dilontarkan oleh orang lain yang menerjang hati kita bisa mengancam keteguhan kita layaknya ombak laut yang mengikis dan bisa menghancurkan karang. Dalam Al-Ahqaf ayat 35, Allah mengingatkan kita untuk terus bersabar,

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari kalangan rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka”.

Sabar, sabar, dan sabar… dua tanganmu tidak akan cukup untuk menutup mulut orang-orang yang mencacimu tapi kedua tangan itu akan cukup untuk menutup kedua telingamu, jangan dengarkan ocehan mereka yang menjatuhkanmu dan tetaplah berjalan di atas jalan kebenaran. Jangan lupa untuk selalu berintrospeksi diri, orang lain yang salah atau niat kita yang keliru? Bukankah kita melakukan segala sesuatu hanya untuk mengharap ridha-Nya semata, lantas kenapa kita masih menghiraukan cercaan orang? (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Hijrah, shift

Lihat Juga

Makna di Balik Sabar