Home / Konsultasi / Konsultasi Psikologi / Kecanduan Film, Apa yang Harus Saya Lakukan?

Kecanduan Film, Apa yang Harus Saya Lakukan?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (niletc.tv)

dakwatuna.comAssalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Perkenalkan nama saya V, Umur Saya 22 tahun dan saya masih kuliah.

Saya ingin berkonsultasi terkait masalah pada diri Saya. Saya seorang introvert, tidak suka keramaian dan lebih cenderung menyendiri karena itu saya memiliki hobi menonton.

Kebanyakan film yang saya tonton adalah film genre romance. Melalui film yang saya tonton, saya seolah belajar kehidupan, meskipun film itu hanyalah sandiwara belaka tapi saya mempercayainya.

Selain itu saya bisa melihat hidup yang beragam, saya merasa tidak kesepian, saya merasa melihat dunia dan seolah-olah saya bisa mengunjungi beberapa negara melalui film-film yang saya tonton. Tapi sayangnya hobi saya yang suka menonton ini sudah menyimpang terlalu jauh dan membuat saya jadi kecanduan, selain itu saya jadi lupa waktu dan jauh dari Allah.

Ketika kecanduan ini memuncak, saya sulit mengendalikannya, apalagi saat datang bulan, saya bisa seharian di kamar untuk menonton, selain itu film yang saya tonton pun sudah bermacam-macam. Hal itu membuat saya jadi sering mengkhayal hidup seperti dalam film yang saya tonton, tidak pernah bersyukur, terkadang meniru adegan dalam film, pokoknya membuat pikiran ini semakin kacau. Saya tidak ingin Seperti ini terus, saya ingin hobi ini hilang, apa yang harus saya lakukan?

Mohon bantuannya bapak/ibu psikologi

Jawaban:

Waalaikum salam wr wb

Terima kasih atas email yang adik ajukan, saya turut prihatin atas masalah adiksi film yang adik alami. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Bacaan dan tontonan sangat mempengaruhi kehidupan kita, karena di masa perkembangan usia remaja kita sedang mencari figur idola yang akan kita tiru. Ketika adik terus menerus menonton film tersebut dan adik akhirnya enggan bersosialisasi, tidak menjalankan shalat, malas, tidak disiplin dan tidak bertanggung jawab atas tugas-tugas adik sebagai seorang mahasiswa maka adik bisa dikatagorikan sudah mengalami kecanduan atau adiksi film dan mengakibatkan kesehatan mental adik terganggu.

Film khususnya yang bernuansa romantis seperti film korea dan jepang membuat kita berkhayal dan berangan-angan sehingga kita selalu menginginkan keadaan yang ada dalam film dalam kehidupan nyata, padahal semua adegan adalah fiksi.

Film romantis juga banyak menampilkan adegan seksual yang mengandung pornografi yang itu tentu saja merusak pikiran dan perbuatan dosa. Untuk bisa berubah adik perlu melakukan hijrah dan menghentikan aktivitas tersebut.

Cara yang paling efektif adalah adik segera melakukan taubatan nasuha, karena adik sudah melakukan kemaksiatan dengan mengkonsumsi tontonan negatif, menuhankan tontonan manusia dari pada menjalankan perintah Allah Swt. Adik lebih mengutamakan film dari pada Allah Swt.

Kemudian adik untuk sementara segera menghentikan sementara akses internet dan film tersebut, segera lakukan muhasabah dengan bertafakur alam, melihat ciptaan Allah, bersilaruhim dan memohon maaf dengan orang tua dan keluarga, senantiasa mengingat mati dengan ikut menshalatkan jenazah, menguburkan dan ziarah kubur untuk bermuhasabah, hingga menyadari bahwa hidup ini sementara dan apa yang selama ini adik lakukan adalah kesalahan yang bisa menjerumuskan adik kepada perbuatan maksiat.

Bila adik sulit bebas dari internet, ganti tontonan dengan tontonan yang membangkitkan semangat dan gairah hidup, seperti film islami, kisah perjuangan biografi tokoh, nasyid, ceramah agama dan pelajaran sejarah Islam yang membuat adik bertambah wawasan dan berpikir positif.

Aktiflah di organisasi sosial dan remaja masjid, rajin dan aktif berolah raga sehingga hidup menjadi seimbang. Carilah seorang guru atau tokoh yang bisa memberi nasihat dan pendidikan agama, rajin membaca Alquran dan mengamalkannya. Kunci sukses dari bebas dari Adiksi adalah keinginan dari dalam diri adik sendiri untuk berubah, kuatkan tekad dan ingatlah bahwa hidup ini hanya sementara dan jangan sampai mati dalam keadaan lemah iman.

Dukungan sosial dari keluarga sangat penting. Terbukalah dengan keluarga, sampaikan apa yang adik alami dengan mereka dan minta dukungan agar adik bisa bebas dari adiksi ini. Wallahu a’lam (sb/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Dr. H. Muhammad Iqbal, M.SocSc (Psy)
Sarjana Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Kemudian melanjutkan S2 Program Magister Profesi Psikologi Konseling dan S3 Psikologi dari School of Psychology and Human Development Faculty Social Science and Humanities Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Alumni ILO Labour Migration Academy ILO Training Center Turin Italy dan Asian Graduate Students Fellowship National University of Singapore (NUS) dan Lulus Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA-54) Lemhannas RI. Saat ini menjabat Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta dan Direktur Rumah Konseling (PT.Namary Insan Solusi), bergerak dalam bidang Konsultan Psikologi SDM dan Keluarga. Mendirikan Praktik layanan psikologi, Rumah Konseling di Jl. Saidin No. 17 Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan. Layanan pelatihan (Life Skill), konseling dan asesmen psikologi melalui temu janji dengan psikologi terlebih dahulu melalui Tlp : 082272187182/081218953316 Pertanyaan dan konsultasi psikologi dapat dikirim ke: iqbal.konsult[email protected] Jawaban Rubrik Konsultasi Psikologi

Lihat Juga

Halaqah dan Solusi Hijrah