Home / Berita / Internasional / Amerika / Foreign Policy: Palestina, Korban Perang Saudi – Iran

Foreign Policy: Palestina, Korban Perang Saudi – Iran

Seorang berdoa di depan Kubah Sakhra, Al-Quds. (foreignpolicy.com)

dakwatuna.com – Washington. Majalah dua bulanan asal Amerika Serikat, Foreign Policy, menyorot persaingan regional antara Arab Saudi dan Iran di kawasan Timur Tengah. Disebutkan, Palestina merupakan korban dari perang di antara kedua negara. Sementara baik Saudi dan Iran lebih sibuk dengan konflik bilateral daripada klaim Trump yang menyebut Al-Quds ibukota bagi Israel.

Dilansir dari Aljazeera.net, Sabtu (23/12/2017), hal itu sebagaimana artikel yang ditulis oleh Kim Ghattas. Menurut Ghattas, mendiang Presiden Yasser Arafat merupakan tokoh asing pertama yang mengunjungi Teheran. Kunjungan tersebut terjadi beberapa hari setelah revolusi Iran tahun 1979 silam.

Masih menurut Ghattas, Arafat hendak menjadikan peristiwa bersejarah Iran itu sebagai momentum bagi gerakan perlawanan yang dipimpinnya. Kepada wartawan, Arafat mengungkapkan bahwa saat mendarat di Teheran, seakan-akan ia mendarat di Al-Quds.

Beberapa hari setelahnya, lanjut Ghattas, Teheran kemudian memberikan Kantor Misi Perdagangan Israel kepada Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang dipimpin Arafat. Saat itu, Arafat mengatakan, “Hari ini, kita menyaksikan kemenangan revolusi Islam di Iran dan besok akan kita saksikan kemenangan di Palestina.”

Daya Tarik Revolusi

Sebelum kembali ke Iran, Ayatollah Khomeini sangat sadar bahwa konflik Palestina – Israel akan menjadi faktor mobilisasi dunia Islam. Selain juga akan menjadi perluasan dari daya tarik revolusi-nya ke luar komunitas Syiah.

Sejak saat itu, kata Ghattas, permasalahan Palestina menjadi markas perseteruan antara Saudi dan Iran. Perseteruan yang bertujuan untuk mendominasi kawasan.

Ghattas juga menyebut keputusan dan klaim Trump terkait status Al-Quds tidak dilakukan pada waktu yang tepat. Menurutnya, jika itu dilakukan di waktu yang lain, niscaya dua kekuatan regional tersebut pasti akan saling bahu-membahu untuk menghadapinya. Namun, pada saat ini Saudi dan Iran sibuk untuk saling bunuh satu sama lain, yang jelas sangat menguntungkan klaim Trump.

Lebih lanjut dijelaskan, langkah Trump malah menjadi kesempatan bagi kedua negara untuk saling bersaing satu sama lain. Alih-alih untuk bersatu guna menghadapinya bersama-sama.

Ambisi Iran

Ghattas melanjutkan, memang Iran tidak mengembalikan Al-Quds kepada rakyat Palestina. Namun begitu, permasalahan Palestina akan sangat membantu ambisi regional Iran. Maka tidak heran jika Iran merayakan Hari Al-Quds di Teheran, menamai salah satu pasukan elitnya dengan ‘Pasukan Al-Quds’, mempersenjatai Hizbullah Syiah Lebanon dan juga Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).

Disebutkan, pasca revolusi, sesungguhnya Saudi siap membangun front persatuan dengan Iran mengenai masalah Palestina. Karena pasca kunjungan Arafat ke Teheran, dalam sebuah artikel di Surat Kabar Kuwait disebutkan bahwa Saudi memuji revolusi yang terjadi di Iran.

Namun Saudi secara cepat menyadari bahwa Khomeini merupakan ancaman bagi mereka. Ghattas juga menuliskan tentang aliansi yang terbangun antara Saudi dan AS. Menurutnya, hal itu semakin menunjukkan sikap mereka yang tidak lagi mendukung perlawanan senjata terhadap Israel.

Kekalahan Iran

Menurut Ghattas, Saudi saat ini sudah tidak terikat lagi pada aliansinya dengan AS. Namun mereka masih membutuhkan dukungan AS karena ambisi utamanya adalah mengalahkan eksistensi Iran.

Lebih lanjut, ia juga mengungkap adanya beberapa pemberitaan tentang terjalinnya kerja sama rahasia Saudi-Israel untuk menghadapi Iran. Rupanya, Iran menjadi prioritas strategi Saudi daripada sekedar mengamankan Palestina dan Al-Quds.

Sementara itu, Iran berusaha menjadikan langkah Trump untuk meraih simpati dari pesaingnya, Saudi. Seperti diketahui, Negara-negara Islam menolak langkah tersebut dalam ajang KTT Darurat OKI di Istanbul (13/12) lalu yang mana Saudi hanya mengutus perwakilan setingkat menteri dalam KTT tersebut. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

PBB Putuskan Kirim Tim Investigasi Kejahatan Perang ke Gaza