Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Allah Menegur Seketika

Ketika Allah Menegur Seketika

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi

dakwatuna.com – Ada banyak cara Allah menegur hamba-Nya. Terkadang Allah menegur seketika itu juga. Kemarin merasa bangga dengan seragam baru yang dikenakan. Sempat terbersit, walau halus sekali, rasa sombong.

Hari ini, sebotol kecil tinta telah menumpahi rok, baju, dan jilbab seragam itu. Pakaian yang pernah jadi kebanggaan, bahkan terbersit pengen memamerkan (Astaghfirullah), seketika telah menjadi pakaian yang tak lagi indah dipandang. Tak seapik ketika awal pengen disombongkan. Setelah sombong, memulai hal tanpa menyebut asma-Nya, pada akhirnya bisa muncul teguran paling mengena. Ternyata, Allah minta lagi kenikmatan untuk mengenakan seragam yang seharusnya bisa dipakai setiap dua hari dalam sepekan.

Ketika di siang hari terlakoni perilaku yang tidak baik. Malam harinya, Allah ambil salah satu nikmat yang tiada tandingannya. Nikmat kebersamaan bersama-Nya. Nikmat bermunajat kepada-Nya, di waktu yang amat mustajab. Waktu yang ketika itu bahkan Allah turun. Seolah ingin menemani hamba-Nya yang sengaja membuka matanya untuk bertemu Rabbnya. Mengelus lembut hamba-Nya yang yang rela mengurangi waktu tidurnya, sembari berkata lirih, “Mohon ampunlah kepada-Ku, maka akan Aku ampuni kesalahanmu. Mintalah hanya kepada-Ku, maka akan Aku beri.”

Maka, siapa yang tidak sangat merugi ketika Allah ambil nikmat itu? Hamba mana yang tak bercucuran air mata ketika matanya membuka ketika fajar telah menampakkan kehadirannya? Tanda bahwa malam telah terlewati tanpa indahnya bermesra dengan Rabbnya.

Allahu Rabbi, ampuni hamba-Mu dengan segala dosa-dosa dan kekhilafannya.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Aku pernah terhalang (tidak bisa bangun) untuk mengerjakan shalat malam selama lima bulan disebabkan satu dosa yang telah aku lakukan.” Ditanyakan kepada beliau, “Dosa apakah itu?” Beliau menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki yang menangis, lalu aku katakan di dalam hatiku bahwa itu dilakukannya sebagai bentuk kepura-puraan saja.”

Pun Al-Hasan pernah berkata, “Tidaklah seseorang itu meninggalkan shalat malam kecuali karena dosa yang dilakukannya. Oleh karena itu, periksalah diri kalian setiap malam ketika matahari terbenam, kemudian bertaubatlah kepada Rabb kalian, agar kalian bisa mengerjakan shalat malam.”

Sedang Syeikh Ibrahim bin Adham pernah didatangi oleh seseorang untuk meminta nasehat agar ia bisa mengerjakan shalat malam. Kemudian berkatalah beliau kepadanya, “Janganlah engkau bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla di siang hari, niscaya Allah akan membangunkanmu untuk bermunajat di hadapan-Nya pada malam hari. Sebab munajatmu di hadapan-Nya di malam hari merupakan kemuliaan yang paling besar, sedangkan orang yang bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan itu.”

Percayalah, selalu ada hikmah di setiap kejadian.

Teguran Allah itu, kadang datang seketika itu juga. Setelah melakukan kesalahan-kesalahan, Allah cabut nikmat-nikmat. Ketika hati mulai hitam, Allah beri kode-kode. Berharapkan kita insyafi lagi tingkah dan kata, pikiran dan benak dalam hati. Kita taubati lagi apa yang telah kita lakukan. Semoga dengannya, Allah karuniakan rahmat dan kasih sayangnya untuk kita. Sebab, tak ada yang perlu kita risaukan kecuali satu hal, cintanya Allah.

Al-Habib Umar bin Hafidz berkata, “Janganlah kamu menanggung kebingungan dunia karena itu urusan Allah. Janganlah kamu menanggung kebingungan masa depan karena itu kekuasaan Allah. Yang harus kamu tanggung adalah satu kebingungan, yaitu bagaimana Allah ridla kepadamu.”

Salim A. Fillah menyampaikan dalam nasehatnya, “Memiliki Allah berarti memiliki segalanya. Kehilangan Allah berarti kehilangan segalanya.”

Maka, jangan biarkan kamu kehilangan waktu-waktumu bersama Rabbmu.

Teguran Allah, kadang datang seketika itu juga. Kadang juga datang belakangan. Sesalnya, bahkan kadang sangat belakangan, di akhirat kelak. Alangkah sedihnya, langkah meruginya, alangkah bahayanya, jika teguran Allah ternyata masih Dia tahan, baru Dia tampakkan ketika hidup setelah mati. Di akhirat, di kehidupan yang sesungguhnya. Tahukah berupa apa teguran itu? Adzabkah? Allahu Rabbi, ampuni hamba.

Maka selagi teguran itu Allah karuniakan seketika, ketika diri masih mampu memohon ampun, ketika jiwa masih bisa bertobat. Syukurilah. Bersyukur Allah masih mengingatkan atas kesalahan yang telah dilakukan. Sadari bahwa Allah amat menyayangi. Allah memberi kesempatan untuk terus meminta ampunan, memperbaiki kesalahan, dan berusaha menjadi semakin baik. Selagi Allah beri kesempatan, pergunakan sebaik-baiknya!

Semoga kita menjadi hamba yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Wallahu a’lam bishshawab. (sarsiyani/dakwatuna.com)

***

Ditulis dengan berlinang air mata, ingat betapa banyak dosa-dosa. Pengingat untuk diri sendiri, dan semoga bermanfaat untuk sebanyak mungkin sesama.

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Tentang

Sarsiyani

Lahir di Magetan bulan Februari 1993. Alumni Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang angkatan tahun 2011. Pernah aktif di Unit Aktivitas Kerohanian Islam (UAKI) UB, Forum Kajian Islam Teknologi Pertanian (FORKITA) FTP UB, MYLIFE Kota Malang, dan Komunitas Kebaikan Kecil (KANCIL) Kota Malang. Kini menjadi salah satu staff pengajar di YLP2AIT Al Uswah Center Magetan.

Lihat Juga

Cinta Adalah Memberi