Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ghibah, Digosipi Kok Beruntung?

Ghibah, Digosipi Kok Beruntung?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Salah satu orang yang beruntung adalah orang yang terkena musibah.

Kok bisa disebut beruntung?

ilustrasi

dakwatuna.com – Bagi kebanyakan orang, musibah yang bersifat pribadi (aib) dalam keluarga, tentunya tidak ingin disebarluaskan kepada khalayak umum.

Namun, kenyataan di lapangan berkata lain, orang yang terkena musibah dalam keluarganya malah menjadi bahan perbincangan di kalangan makhluk yang bernama manusia penggosip (penggibah). Makhluk penggosip ini merasa nikmat jika mengetahui urusan dapur orang lain.

Jika orang yang terkena musibah bersabar ketika dirinya menjadi bahan perbincangan, maka baginya pahala secara instan karena kezaliman yang dilakukan oleh Si Penggosip ini menyebabkan auto transfer amalan-amalan kebaikan dari rekening kebaikannya kepada yang digosipi secara gratis dalam sekelip mata.

Artinya, tanpa capek-capek beribadah pundi-pundi amalan orang yang digosipi bertambah begitu cepat dari ratusan teman sekantor dan tetangga yang membicarakan tentangnya.

Tidak salah jika menyebut orang yang terkena musibah tersebut adalah orang yang beruntung sedangkan penggosip disebut orang yang bangkrut karena telah berbuat zalim kepada saudaranya.

Kondisi di atas ternukil dalam hadis Nabi Saw berikut:

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta.” Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu.

Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Tidak heran Imam Hasan Al Bashri malah mengirim sepiring kurma kapada orang yang menggibahinya sebagai hadiah dan rasa terimakasihnya karena telah diberikan pahala secara gratis.

Dalam riwayat lain disebutkan juga tentang bahaya menggosip.

Suatu ketika Amr bin Ash bepergian bersama serombongan sahabatnya. Kemudian dia melewati bangkai seekor bagal dengan kondisi membengkak. Dia pun berkata,”Demi Allah! Seandainya seorang dari kalian makan bangkai ini hingga memenuhi perutnya (kenyang) adalah lebih baik daripada dia memakan daging seorang muslim (menggunjingnya).

Duhai saudaraku, seandainya engkau begitu sucinya, tentunya engkau tidak akan tega memakan bangkai saudaramu dengan membicarakan musibah yang terjadi padanya. Siapapun itu, tentunya tidak ingin musibah yang dianggapnya aib tersebut engkau sebarkan kepada orang lain walaupun hal tersebut benar-benar terjadi padanya.

Fikirkanlah dengan bijak, apa gunanya bagimu membicarakan musibah tersebut kepada orang lain? Apalagi engkau membumbuinya dengan dugaan-dugaanmu sehingga berlipat dosamu karena tidak hanya telah menggibahinya, namun juga telah memfitnahnya. Pikirkanlah secara mendalam apa manfaatnya bagimu? Apakah engkau makin hebat dengan gibah tersebut? Atau apakah gibah tersebut akan memuliakanmu?

“Sekali-kali tidak”!

Itu hanya menambah celamu di hadapan Allah. Gibah itu hanya menghancurkan sholatmu, puasamu, zakatmu, zikirmu, sedekahmu dan amalan-amalanmu selama ini.

Sadarilah itu saudaraku! Hindari perbuatan buruk ini. Hidup itu tidak perlu kepo terhadap privasi orang lain. Hidup itu perlu kuper jika menyangkut hal pribadi saudara seimanmu. Duniamu tidak akan kiamat jika orang mengejek dirimu tidak kekinian karena ketahuilah justru mereka itulah teman-teman setan yang akan membawamu kepada jurang kebinasaan.

Semoga kita tidak menjadi salah satu orang yang bangkrut di hari perhitungan nanti seperti yang digambarkan Nabi Saw di atas. (sunan/dakwatuna.com)

 

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Sarjana Universitas Negeri Maritim Raja Ali Haji, Kepulauan Riau jurusan Teknik Informatika. Saat ini penulis bekerja di lembaga pemerintahan di Batam. Di sela-sela waktunya penulis menyempatkan diri untuk menulis serta mengajar.

Lihat Juga

Berita-berita