Home / Pemuda / Cerpen / Manisnya Iman Semanis Kurma Ketika Berbuka

Manisnya Iman Semanis Kurma Ketika Berbuka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (banat.ma7room.com)

dakwatuna.com – Sejak kecil hingga beranjak remaja, Mawar tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan kondisi ekonomi yang sederhana serta nuansa agama yang masih belum kondusif dalam kesehariannya. Mawar tinggal bersama kedua orang tua, seorang kakak perempuan dan juga seorang adik laki-lakinya. Hingga suatu masa Mawar pun tumbuh menjadi sosok yang sering lalai karena pengaruh lingkungan dan labilnya usia remaja. Berjilbab masih sewaktu sekolah saja itupun jilbab bergo kecil dan kalau di luar sekolah masih belum berjilbab. Bahkan sering kali keluar rumah hanya bermodal kaos dan celana selutut merupakan hal yang wajar baginya. Pacaran biar dibilang gaul juga pernah walaupun tidak sampai yang kencan ke mana-mana. Tidak hanya merasa biasa dalam berbuat yang Allah tidak suka, Mawar pun kadang merasa malu untuk memulai berubah dalam memenuhi shalat lima waktunya. Takut dibilang sok alim katanya. Semua itu terjadi karena belum adanya lingkungan yang mendukung untuk memotivasi Mawar berhijrah. Di saat itu Mawar hanya sebatas tahu bahwa Allah itu Tuhan saja dan belum bisa mengenal akan kebesaran karunia dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak hanya lalai dalam hal agama dan pergaulan, Mawar pun sempat mengalami kemerosotan akademik ditahun terakhir ia menjejak di SMP yang mana sebelum itu Mawar termasuk anak yang cukup cerdas dalam akademiknya. Tak disangka, di saat Mawar merasa sedih dengan kondisi akademiknya, ternyata Allah punya rencana awal yang lebih baik untuk dirinya.

——————–

Suatu ketika skenario indah dari Allah mulai Mawar rasakan saat menjejak sebuah Madrasah Aliyah Negeri di sebuah desa. MAN yang dulunya semasa SMP tak perah ia rencanakan, karena MAN tersebut menjadi pilihan terakhir bagi Mawar di saat hasil nilai UN SMP tidak tembus untuk mendaftar di sekolah favorit lainnya. Namun Allah Sang Maha Bijaksana selalu punya rencana yang terbaik dibalik segala keputusan yang diberikan kepada hamba-Nya. Perekonomian ayah Mawar pun lebih terasa ringan ketika Mawar memutuskan untuk memilih MAN tersebut karena biaya sekolah yang begitu murah bahkan pernah gratis dalam bayar SPP dalam beberapa bulan.

Satu hal yang saat itu perlu Mawar persiapkan ketika dia memilih melanjutkan sekolah di sana yaitu Mawar harus belajar untuk bisa memakai jilbab segi empat sesuai dengan seragam yang sudah dianjurkan sekolah, yang mana sebelum itu dia hanya bisa memakai jilbab bergo saja. Seiring berjalannya waktu satu hingga dua bulan, dimasa MAN inilah Mawar mulai punya niatan untuk mulai istiqamah berjilbab meskipun berawal dari rasa sungkan ketika dilihat orang sekitarnya.

Semenjak itu Mawar mulai berlatih untuk berjilbab ke mana-mana meskipun dengan jilbab yang masih terawang dan tidak lebar. Hingga akhirnya dalam masa berproses itu timbullah rasa nyaman dengan berjilbab dan jilbab pun sudah menjadi identitas diri Mawar, niatan Lillah Alhamdulillah mulai terasa. Dari pengalaman Mawar pertama kali berjilbab dapat diambil sebuah pelajaran bahwa dalam memulai suatu kebaikan tidaklah harus menunggu ikhlas atau Lillah, tetapi it’s ok jika pertama niatnya karena terpaksa atau yang lain, Insya Allah niat ikhlas karena Allah baru akan terasa saat kita sudah terbiasa menjalaninya. Tidak hanya soal jilbab, semenjak itu Mawar pun mulai belajar melaksanakan shalat 5 waktu meski sering kali hampir di akhir waktu. Mawar memutuskan tak perlu lagi malu untuk dibilang sok alim ataupun aneh bagi siapa pun yang melihat perubahan yang mulai dilakukannya.

Dengan segala rutinitas agama yang menjadi agenda harian di MAN, Mawar juga mulai belajar dalam merutinkan shalat Dhuha sebisa dia hingga suatu ketika Mawar termenung merasakan sebuah rasa yang luar biasa. Rasa indah yang belum pernah Mawar alami sebelumnya, rasa rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta Semesta, rasa sadar atas Kehadiran-Nya di dalam hati yang sebelumnya belum peka. Masya Allah Alhamdulillah, itulah kali pertama Mawar mulai berhasil mengenal siapa Tuhan dia. Semenjak masa itu datanglah skenario demi skenario indah dalam hidup Mawar penuh dengan kejutan yang tak terbayangkan sebelumnya, karena di sutradarai oleh yaitu Allah Sang Sebaik-baiknya Sutradara. Hingga sering kali Mawar dibuat begitu terharu oleh skenario yang sungguh manis dari-Nya. Tidak hanya manis dalam urusan akhirat saja, Allah pun mulai memperbaiki urusan dunia Mawar termasuk kembali adanya peningkatan dalam akademik bahkan juga dalam bakat soft skill di bidang organisasi dan pengembangan minat bakat yang dimilikinya. Motivasi dari bapak ibu guru di setiap harinya juga membuat Mawar lebih bersemangat dalam merangkai asa. Beberapa prestasi dibidang akademik dan non akademik pun pernah Mawar rasakan dalam masa proses hijrahnya di aliyah. Meskipun perjalanan hijrah Mawar sewaktu aliyah belum sepenuhnya sempurna karena belum mampu berpakaian syar’i seperti yang dianjurkan untuk muslimah, Mawar begitu bersyukur atas proses yang Allah berikan kepadanya. Mawar yang semasa SMP atau kecilnya sering melakukan kegiatan yang tidak jelas dan sia-sia, kini Allah mulai membimbingnya dalam kegiatan yang lebih produktif dan mulia.

————

Menjadi seorang Mahasiswa, sebenarnya tidak pernah Mawar pikirkan semasa kecilnya. Namun lagi-lagi, skenario Allah lah yang menuntun Mawar mempunyai keinginan untuk melanjutkan kuliah sewaktu dia tamat dari madrasah aliyahnya. Hal ini bermula pada suatu malam di tengah rutinitas belajar persiapan Ujian Nasional dengan polosnya Mawar berdoa kepada Rabb-Nya, lalu Mawar menulis di selembar kertas bahwa Mawar ingin bisa melanjutkan sekolah ke PTN dengan full beasiswa karena dia merasa berasal dari keluarga yang begitu sederhana. Mawar tidak ingin memberatkan beban orang tuanya. Tibalah masa pendaftaran seleksi ke PTN dan mendengar informasi mengenai beasiswa Bidikmisi, waktu itu Mawar merasa bahwa Allah mulai membuka pintu untuk menjawab doanya.

Meski dari MAN sendiri sebenarnya belum ada sosialisasi mengenai tips pemilihan jurusan dan kampus sebagai tujuan daftar seleksi PTN baik SNMPTN maupun SBMPTN 2014, Mawar tetap bersemangat dalam mempersiapkan diri menuju seleksi PTN semampunya. Hingga akhirnya, hasil dari bulir perjuangan Mawar melangkah ke jenjang seleksi PTN tersebut Allah berikan Mawar sebuah kado untuk lolos seleksi SBMPTN 2014 jalur Bidikmisi pada salah satu dari sepuluh kampus PTN terbaik di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Alhamdulillah, sebuah mimpi besar untuk bisa melanjutkan kuliah di PTN dengan full beasiswa kini menjadi sebuah ketercapaian bagi dirinya. Mawar pun menjadi orang pertama yang menikmati bangku kuliah dalam keluarga kecilnya dan menjadi siswa pertama yang lolos ujian masuk salah satu sepuluh PTN terbaik di Indonesia dari madrasah aliyahnya.

Di saat Mawar menjalani proses verifikasi sebelum resmi menjadi mahasiswa, bersama ayahnya saat itulah kali pertama ia memasuki kampus ITS Surabaya. Karena berkah dari rutinitasnya di aliyah dulu, Mawar pun mulai tidak nyaman jika melewati harinya tanpa shalat Dhuha. Hingga di waktu pagi itu, Mawar mengajak ayahnya sejenak mampir di Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menunaikan rutinitas yang sudah menjadi nutrisi baginya. Pada sujud seusai shalat Dhuha, lirih doa yang Mawar panjatkan ialah agar diberi kesempatan bersujud kembali di Masjid Manarul Ilmi dilain hari dan mampu menjadikan tempat ini sebagai sebaik-baiknya tempat di masa perkuliahan nanti, mengingat keputusan untuk benar-benar diterima sebagai mahasiswa ITS juga belum 100% saat itu. Alhamdulillah, lewat lantunan doa tersebut pada hari itu juga Mawar resmi menjadi mahasiswa ITS dan langsung mendapat kartu tanda mahasiswa. Doa Mawar pun Allah ijabah, kini Mawar semakin mampu untuk memperbaiki masa hijrahnya menjadi lebih sempurna dalam kampus ITS Surabaya. Selama menjadi mahasiswa dari zaman mahasiswa baru hingga mahasiswa lama di tahun ke empat, Mawar menjadikan Masjid Manarul Ilmi ITS sebagai tempat persinggahan favoritnya. Mawar pun tumbuh menjadi seorang aktivis dakwah hingga dia mulai nyaman dan membiasakan diri untuk berpakaian syar’i serta bersahabat dengan orang-orang yang satu visi dalam mencari ridha dari Sang Ilahi. Selain itu, Mawar juga mulai belajar menjaga dalam berinteraksi dengan lawan jenis hingga dia ingin menjadi seorang muslimah yang mampu menjaga izzah diri. Termasuk juga dengan belajar menjadi seorang aktivis dakwah, Alhamdulillah sedikit demi sedikit Mawar mulai berhasil mengajak keluarganya untuk lebih mendekat lagi kepada Sang Rabbi.

Deretan skenario terindah yang Allah berikan mampu menuntun Mawar kepada seberkas cahaya kehidupan yang bernafaskan Islam dan kebaikan. Mawar semakin percaya bahwa dengan lebih mendekat kepada-Nya, maka skenario kehidupan pun terasa mengalami perubahan yang cukup signifikan, lebih manis untuk diceritakan, serta lebih menghasilkan keberkahan dan kebermanfaatan. Karena bagi Mawar manisnya iman ketika sudah dirasakan itu seperti semanis kurma ketika berbuka puasa dan seindah cinta hakiki yang diberikan oleh Sang Maha Cinta. Tidak hanya mensyukuri atas nikmat iman yang sudah ia cicipi, Mawar pun mulai belajar untuk terus berdoa kepada Allah agar selalu diberi rahmat dan kekuatan dalam menjaga dan memperbaiki iman hingga nafas berakhir dengan khusnul khatimah di penghujung masa nanti. Hingga impian terbesar berada di Jannah untuk bertemu dengan-Nya dan Rasul-Nya pun menjadi sebuah ketercapaian paling indah yang akhirnya terealisasi. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Allah's servant.

Lihat Juga

Manisnya Ramadhan

Organization