Home / Berita / Internasional / Kelompok Eropa Pembela Rohingya Kecam Serangan di Rakhine

Kelompok Eropa Pembela Rohingya Kecam Serangan di Rakhine

Anak-anak Rohingya di pengungsian (aa.com.tr)

dakwatuna.com – Myanmar. Dewan Rohingya Eropa (European Rohingya Council atau ERC) menyuarakan keprihatinan atas penderitaan penduduk Rohingya akibat serangan bersenjata di Rakhine.

Dalam siaran persnya pada Minggu kemarin (27/8/2017), ERC meminta masyarakat internasional ikut bergerak mewujudkan perlindungan perlindungan dan keamanan bagi rakyat sipil di wilayah bagian Myanmar tersebut.

Serangan mematikan terhadap pos-pos perbatasan di Rakhine, Myanmar Barat, terjadi pada Jumat lalu (25/8/2017), menyebabkan lebih dari 100 orang tewas.

Sejumlah laporan media muncul menyebutkan pasukan keamanan Myanmar telah mengusir ribuan penduduk desa Rohingya dan membakar rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

ERC mengatakan banyak penduduk termasuk wanita dan anak-anak berlindung ke dalam hutan, di samping ada yang berani mempertaruhkan nyawa dengan menyeberangi perbatasan Myanmar, masuk ke Bangladesh.

“Kami meminta masyarakat internasional untuk ikut bertanggung jawab melindungi penduduk sipil Rohingya yang terjebak dalam episode lain dari kejahatan terhadap kemanusiaan oleh militer Myanmar,” tegas ERC dalam pernyataannya.

Kelompok tersebut juga mengatakan rilis laporan oleh mantan anggota Komisi Penasihat Sekjen PBB untuk Penyelesaian Konflik Rakhine dan diikuti oleh konflik kemanusiaan baru-baru tersebut bukanlah hal kebetulan semata.

Serangan militer tersebut sengaja dilakukan sebagai penolakan atas rekomendasi komisi yang mengusulkan pemberian kewarganegaraan Rohingya, kebebasan beraktivitas, jaminan kesehatan dan pendidikan, serta akses terhadap bantuan kemanusiaan dan media, tegas pernyataan itu.

Kekerasan di Rakhine terus berlangsung antara penduduk pemeluk Budha dan Islam sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Operasi militer yang dimulai pada Oktober 2016 lalu di Maungdaw, di mana Rohingya menjadi mayoritas, telah diwarnai oleh berbagai pelanggaran HAM dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sebagaimana yang dilaporkan PBB, berbagai kejahatan terhadap penduduk sipil dilakukan, antara lain pemerkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak-anak, pemukulan, dan penculikan brutal. ERC mengatakan sekitar 400 orang tewas dalam operasi militer itu.

ERC juga mendesak anggota ASEAN, negara-negara tetangga Bangladesh, India, dan China untuk mendorong Myanmar agar mematuhi peraturan hukum dan menahan diri dari pelanggaran hak asasi manusia, mengembalikan warga sipil ke daerah mereka. (rem/dakwatuna)

Sumber: Anadolu Agency

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Alumnus Universitas Al-Azhar Cairo dan Institut Riset dan Studi Arab Cairo.

Lihat Juga

Misi PBB: Militer Myanmar Bakar Anak Rohingya Hidup-Hidup

Figure
Organization