Home / Narasi Islam / Sosial / Kesatuan Jiwa dan Semangat Para Kader Muhammadiyah

Kesatuan Jiwa dan Semangat Para Kader Muhammadiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Muhammadiyah (wikipedia.org)

dakwatuna.com –  “Semangat bermuhammadiyah adalah amar ma’ruf nahi munkar. Tentunya sebagai seorang kader Muhammadiyah harus saling mengingatkan dimanapun berada. Karena di dalam sebuah struktural pastilah terdapat kode etik, baik tersurat maupun tersirat.”

Muhammadiyah baru saja memasuki babak baru di usianya yang genap 104 tahun. Tentunya bukan usia yang terbilang muda lagi. Dari sekian generasi, Muhammadiyah telah memberikan banyak sumbangsih pada NKRI. Muhammadiyah memiliki semangat berkemajuan dimana tidak pernah ada rasa puas diri di setiap pencapaiannya dan tetap memikirkan hal-hal out of the box dari gerakan lainnya. Ini merupakan semangat yang diwariskan oleh pendirinya, KH Ahmad Dahlan.

Muhammadiyah senantiasa mengedepankan nalar agar para kadernya tidak mudah bertaklid buta dan terombang-ambing pada suatu hal. Pada hakikatnya, bagi seorang kader yang telah berkecimpung lama di Muhammadiyah akan memiliki rasa kenyamanan yang lebih besar ketimbang di organisasi lainnya. Karena mereka merasa telah menjadi bagian dari tubuh Muhammadiyah dan kegiatan-kegiatannya. Di Muhammadiyah, setiap kader diajarkan tentang bagaimana bersikap moderat dalam menyikapi suatu permasalahan.

Muhamadiyah telah memiliki banyak amal usaha dan menjadi wadah bagi ortom-ortom yang ada. Di setiap ortom, banyak jiwa ikhlas para kader yang siap membangun dan memajukan persyarikatan menjadi lebih baik lagi. Kader-kader muda saat ini merupakan nafas bagi intelektualitas Muhammadiyah yang akan menjadi tongkat estafet kepemimpinan persyarikatan kelak.

Setiap jiwa muda memiliki track dan jalannya masing-masing. Kadang lurus kadang pula berbelok. Tentunya dalam setiap ortom hendaknya ada pendekatan personal dan kultural yang diharapkan mampu memupuk rasa solidaritas dan soliditas antar kadernya, seperti mengadakan kegiatan-kegiatan positif yang membuat mereka semakin nyaman. Di dalam persyarikatan sendiri banyak proyek yang dapat dikerjakan dan menambah suasana kental dalam menjalin hubungan yang erat antar kader. Salah satunya ialah mengamalkan tombo ati yakni wong kang sholeh kumpulana, seperti forum dan komunitas yang di dalamnya berisi orang-orang sukses dan menginspirasi agar semangat tetap terjaga.

Setiap kader Muhammadiyah itu unik. Mereka akan merasa nyaman dan tumbuh rasa memiliki ketika mereka benar-benar telah menyelami tubuh Muhammadiyah secara saksama. Dan secara gamblang mereka akan turut andil bagian dalam menyumbangkan pemikiran dan kontribusi berkemajuan bagi umat dan bangsa ini tanpa harus menjadi seorang ustadz atau ulama. Bisa menjadi dokter, programmer, guru, petani, dan profesi lainnya. Karenanya dalam ber-Muhammadiyah itu seperti menaiki sebuah kendaraan. Tetapi dengan jalan dan tujuan keislaman guna menjaga ukhuwah keumatan. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Pejuang Pena
Bukan tentang siapa dirimu. Tapi tentang bagaimana dirimu menghargai orang lain

Lihat Juga

Keberagaman untuk Bersatu

Organization