Home / Berita / Opini / Mother’s Day: The Supermom Project

Mother’s Day: The Supermom Project

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (seehati.com)

dakwatuna.com – Hari Ibu merupakan salah satu hari istimewa yang selalu diperingati setiap tahunnya di berbagai negara sejak awal abad ke-20. Amerika Serikat sebagai negara yang pertama kali menyuarakan kampanye Hari Ibu dapat dikatakan sebagai founder of The Mother’s Day in the early 20th century. Namun, tidak semua negara menyatukan kebijakan terkait tanggal peringatan Hari Ibu. Begitu pun Indonesia, pemerintah Indonesia pada tahun 1959 melalui Dekrit Presiden Soekarno No. 316 mengukuhkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Berbicara mengenai sejarah peringatan Hari Ibu di Indonesia, tidak akan terlepas dari salah satu peristiwa kebangkitan nasional dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia dahulu, sama halnya seperti peringatan hari-hari lainnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hari-hari besar dan istimewa di Indonesia diperingati sebagai hari bersejarah, untuk mengenang peristiwa-peristiwa tertentu dalam sepak terjang kebangkitan nasional.

Tanggal 22 Desember diperingati di Indonesia sebagai Hari Ibu sangat erat kaitannya dengan Kongres Perempuan Indonesia-yang selanjutnya berganti nama beberapa kali. Dalam kongres yang diselenggarakan pada tanggal 22 Desember 1928 tersebut diusung tema pokok, yaitu menggalang persatuan dan kesatuan antara organisasi wanita Indonesia yang pada waktu itu masih bergerak sendiri-sendiri.

Kemudian, kongres Perikatan Perkoempoelan Isteri Indonesia (PPII) tahun 1930 di Surabaya memutuskan bahwa “Kongres berasaskan kebangsaan Indonesia, menjunjung kewanitaan, meneguhkan imannya.”

Bahkan, pada Kongres Perempoean Indonesia II tahun 1935 di Jakarta, ada beberapa keputusan penting yang perlu diperhatikan yaitu: 1) Bahwa kewajiban utama wanita Indonesia ialah menjadi “IBU BANGSA” yang berarti berusaha menumbuhkan generasi baru yang lebih sadar akan kebangsaannya 2) Agar anggota kongres mengadakan hubungan yang baik dengan generasi muda sehingga tercipta saling pengertian dalam rangka keseimbangan antar generasi, oleh karena itu perlu sikap saling menghargai dan tidak menonjolkan diri.

Atas dasar keputusan beberapa kali kongres di atas dapat disimpulkan bahwa Hari Ibu seyogianya adalah hari  untuk memperingati perjuangan kaum ibu yang sejak dahulu memiliki banyak peranan penting di berbagai sektor. Hari Ibu merupakan cara bangsa Indonesia mengenang, menghormati, dan meneladani sosok-sosok perempuan tangguh yang tidak hanya memperjuangkan kehidupan keluarga dalam rumah tangga, tetapi juga memiliki banyak peranan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dahulu. Selain itu, kaum ibu dahulu juga menjadi tokoh-tokoh yang kritis terhadap keberjalanan pembangunan bangsa dalam mengembangkan masyarakat dan perbaikan kualitas bangsa.

Perjuangan kaum ibu di Indonesia sejak zaman dahulu, tidak sama persis dengan pergerakan perempuan di Barat. Namun, kesamaan antara keduanya tidak berada dalam ranah yang fundamen. Kesamaan ini dapat ditarik dari sejarah munculnya terminologi superwoman pada saat Post Second-Wave Feminism antara tahun 1970 hingga tahun 1980 di kalangan perempuan Barat. Istilah superwoman ini dapat dimaknai sebagai perempuan yang bekerja keras untuk mengatur berbagai peran sebagai ibu rumah tangga, pengasuh anak, pekerja, aktivis sosial, dan peran lainnya yang menuntut waktu intensif dalam melakukannya.

Dalam Oxford Dictionary, supermom diartikan sebagai “An exemplary or exceptional mother, especially one who successfully manages a home and brings up children while also having a full-time job.” Selain itu, dalam Merriam-Webster Dictionary terminologi supermom diartikan sebagai “A woman who raises a child and takes care of a home while also having a full-time Bob.” Selain itu, disebutkan juga bahwa penggunaan kata supermom ini pertama kali muncul di tahun 1974 dalam beberapa buku yang ditulis oleh aktivis-aktivis feminisme. Sesuai dengan maraknya Post Second-Wave Feminism antara tahun 1970 hingga tahun 1980 di kalangan perempuan Barat.

Kalangan barat, khususnya kaum feminis, menyikapi skeptis terminologi superwoman ini-terlihat dari makna supermom dalam Oxford Dictionary. Hal mendasar yang menjadi alasan mereka adalah bahwa tidak akan mungkin seorang perempuan dapat melakukan segala hal yang menuntut banyak waktu yang intensif. Justru sebaiknya perempuan menjadi career woman, menjadi wanita karier yang mengorbankan tanggung jawab mengurusi rumah tangga dan keluarga. Konsep pergerakan mereka ini adalah kesetaraan gender yang sama sekali tidak bersesuaian dengan konteks pergerakan kaum ibu Indonesia di zaman dahulu.

Realita yang terjadi saat ini adalah arus feminisme sudah begitu akut melanda perempuan-perempuan di Indonesia. Banyak sekali wanita-wanita karier yang tidak menyadari bahwa peran mereka sebagai ibu dalam keluarga amatlah penting. Kaum ibu Indonesia saat ini mayoritas sama sekali tidak mencerminkan perjuangan-perjuangan kaum ibu di zaman kebangkitan nasional dahulu.

Lalu, apa kesimpulan yang seharusnya didapat berdasarkan pembahasan di atas? Sudah sepantasnya kaum ibu Indonesia menjadikan tanggal 22 Desember setiap tahunnya tidak hanya sebagai peringatan seremonial belaka, dengan menerima ungkapan kasih sayang dan terima kasih dari para anak-anak dan suaminya. Sudah sepantasnya kaum ibu Indonesia sadar dan mulai bergerak bahwa mereka bisa bergerak dalam cakupan yang lebih luas. Tidak hanya dalam ranah sektor keluarga. Lebih dari itu, yaitu memiliki kontribusi lebih dalam membangun masyarakat. Minimal dalam lingkup antar tetangga hingga menjadi tokoh yang berpengaruh dalam menentukan kebijakan. Sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh masing-masing ibu.

Oleh karena itu, sikap yang harus dilakukan oleh kaum Ibu Indonesia adalah menjadikan Hari Ibu sebagai ajang proyek supermom, Mother’s Day: The Supermom Project. The Supermom Project ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi kaum ibu Indonesia untuk mengingat kembali apa yang sudah diperjuangkannya sejak hari pernikahan terjadi. Hari Ibu sudah sepantasnya menjadi pengingat bahwa kaum Ibu Indonesia memiliki potensi lebih bahwa mereka memiliki kapasitas dalam membangun masyarakat juga.

Dalam konteks khazanah dakwah, hal paling konkret yang dapat dilakukan seorang ibu adalah menjadi aktivis dakwah pembangun masyarakat dengan membentuk komunitas-komunitas keilmuan seperti pengajian, ta’lim, liqooat dan sebagainya-tentu hal ini dilakukan ketika urusan rumah tangga telah diselesaikan bersama suami dan anak-anak. Selain sebagai madrasatul aula bagi anak-anak, kaum Ibu sudah sepantasnya juga menginspirasi masyarakat atas capaiannya dalam mendidik anak-anaknya. Setidaknya hal ini telah dibuktikan dapat dicapai oleh beberapa ibu yang berhasil dalam membangun keluarga dan mendidik anak-anak serta berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.

Pada dasarnya, fitrah seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu. Jika ada perempuan yang memutuskan untuk mengorbankan perannya sebagai ibu, maka ia telah mengingkari fitrahnya sendiri. Allah SWT sudah mempersiapkan perempuan dengan jiwa dan raga yang kuat dalam menjalani perannya sebagai seorang ibu. Bahkan, jika seorang ibu sadar akan potensi lainnya yang ia miliki dalam bidang-bidang tertentu, itu bisa menjadi added values yang seharusnya menjadi sarana untuk berdakwah dalam membangun masyarakat.

Kaum Ibu di Indonesia perlu mencontoh kehidupan para istri Rasulullah SAW. Dari Khadijah ra. kaum ibu dapat belajar bagaimana menggapai surga dari keridhaan suami dan mendidik anak serta kegigihan dalam memperjuangkan dakwah. Dari Aisyah ra.-salah satu perawi terbanyak hadits Rasulullah SAW-kaum ibu dapat belajar bahwa menjadi seorang murabbiyyah bagi masyarakat muslim merupakan hal paling mengesankan dalam menjalani hidup. Dari Shafiyyah ra. kaum ibu dapat belajar tentang kegigihan seorang muslimah dalam menyempurnakan keislamannya.  Dari Hafshah ra. kaum ibu dapat belajar bahwa menjadi seorang istri di surga dengan keilmuan, pemahaman, dan ketakwaan dapat dicapai dengan kesempatan yang besar. Dan banyak lagi istri-istri Rasulullah SAW dengan peranan mereka masing-masing.

Tulisan ini didedikasikan bagi seluruh ibu di Indonesia, secara khusus bagi ibu-ibu yang telah menyadari bahwa kewajibannya tidak hanya dalam keluarga, tetapi kewajiban dakwah yang terus menggelayuti hari-hari. Mereka adalah ibu-ibu terbaik yang dikenal sebagai pengemban dakwah dengan cinta, menginspirasi perempuan-perempuan lain dalam membangun keluarga sesuai tuntunan Islam.

Dari kami, anak-anak dari ibu pengemban dakwah, kami bangga akan aktivitas dakwahmu kepada masyarakat. Kami yakin bahwa semua aktivitas dakwahmu menjadi sebab bagi kami untuk menjadi anak-anak terbaik bagi generasi penerus peradaban umat Islam. You are my Supermom!  (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Lahir di Medan, 8 Maret 1996. Saat ini tinggal di Kota Bandung.Pernah menempuh pendidikan di Yayasan Ummul Quro Bogor, Ma'had Husnul Khotimah Kuningan dan Insan Cendekia Serpong. Memiliki minat dalam sains dan energi serta selalu berusaha mengungkapkan kebenaran ilmiah dengan cahaya ilmu yang berada di Al-Qur'an. Berbagai perlombaan dan prestasi telah diraih olehnya dan Insha Allah dapat menorehkan prestasi yang lebih membanggakan. Dalam hidup berusaha untuk dapat menjadi yang terbaik dintara yang lain dalam ketaqwaan kepada Allah. Semoga Allah memudahkan sekaligus meridhoi apa-apa yang dilakukan olehnya dan ia pun ridho atas apa yang Allah SWT tentukan untuknya.Saat ini sedang berusaha menggeluti dunia tulis menulis dengan baik dan selalu menjadi mujahid yang haus akan ilmu dan hikmah. Penulis merupakan salah satu mahasiswa dan aktivis dakwah kampus di Institut Teknologi Bandung??? ???? ?? ????? ??? ? ???? ??