Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Hari Terakhir Bersama Ayah

Hari Terakhir Bersama Ayah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (wikimedia.org)
Ilustrasi. (wikimedia.org)

dakwatuna.com – Kamis pagi yang kelabu, diikuti rintik demi rintik air yang jatuh dari langit. Tak ada aktivitas yang terlihat, semua bersembunyi di balik selimut hangat. Chika, gadis SMA yang mulai menapaki dunia remaja, mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Namun, apa daya ketika cuaca tidak mendukung sepenuhnya.

“Chik, kenapa kamu melamun di jendela?”, kata Ibu.

“Aku bingung bu bagaimana berangkat ke sekolah kalau hujannya awet seperti ini”, jawab Chika.

“Ya sudah, kamu sarapan dulu sebelum berangkat. Siapa tahu, setelah sarapan hujannya reda”, kata Ibu.

“Benar kata ibumu, sebaiknya sarapan dulu Chik, nanti selesai sarapan, biar Ayah antar kamu ke sekolah”, kata Ayah.

“Baik Ayah, Bu”, jawab Chika.

Pak Aryo adalah seorang Ayah yang sangat menyayangi keluarga, terlebih pada anak sulungnya, Chika. Pak Aryo memiliki dua orang anak, yaitu Chika dan Akbar. Sebagai seorang PNS, Pak Aryo merasa sangat cukup dengan kehidupannya bersama keluarga, ditambah hadirnya kedua putra dan putrinya.

Entah, hari itu memang cuaca sedang tidak ingin menampakkan kecerahan. Keengganan mentari untuk memancarkan sinarnya tenggelam sudah bersama awan gelap nan kelabu. Tak ayal, banyak orang yang harus merelakan waktu mereka melambat sedikit demi keharusan untuk berteduh.

Usai sarapan, Chika bergegas berangkat ke sekolah bersama Ayah dan adiknya, Akbar. Sepeda motor yang usianya sudah tak lagi muda, mengharuskan untuk mengangkut ketiga orang majikannya secara bersama. Mereka harus berbagi tempat duduk dan jas hujan yang ukurannya tak seberapa. Kesederhanaan ini tak pernah mereka keluhkan satu sama lain, karena bagi mereka kebersamaan dan kehangatan keluargalah yang terpenting.

Chika telah tiba di sekolah, setelah sebelumnya mengantar terlebih dahulu sang adik ke sekolahnya. Sesampainya di sekolah, Chika menggerutu karena ternyata sebagian tasnya basah terkena air hujan. Saat itu, dirinya baru saja turun dari sepeda motor, sehingga sang Ayah mendengar kekesalannya.

“Aduh, tas aku basah, tahu gini mending terlambat ke sekolah deh”, ucap Chika dengan wajah murung.

“Kenapa Chik tas kamu? Basah ya? Sini biar Ayah keringkan terlebih dahulu sebelum kamu masuk, toh masih ada waktu kok”, kata Ayah. Pak Aryo tak ingin putrinya kecewa, meskipun ia tahu bahwa ia akan terlambat bekerja. Seperti diketahui, bahwa PNS yang terlambat datang maka gajinya akan dipotong.

Chika menyerahkan tasnya agar dikeringkan oleh sang Ayah. Setelah tasnya kering dan hujan sudah mereda, Chika pamit untuk masuk ke kelas. Pak Aryo tidak langsung bergegas untuk berangkat ke kantor, melainkan ia memandangi putrinya yang berjalan memasuki ruangan kelas dari kejauhan. Entah apa yang ada di pikirannya, ia hanya merasa bahwa hari itu ia begitu berat untuk pergi meninggalkan putrinya.

Setelah melakukan aktivitas seharian di luar rumah, keluarga kecil ini selalu menyempatkan diri untuk mengobrol bersama setelah makan malam. Malam itu, keceriaan sudah tampak kembali di raut wajah Chika, setelah insiden tasnya yang basah karena terguyur hujan. Chika yang saat ini kelas 2 SMA, sangat antusias ketika membicarakan kuliah dan cita-citanya. Chika sangat ingin menjadi dokter, dan masuk kuliah kedokteran di Universitas Indonesia. Pak Aryo, Ayah Chika, sangat senang ketika putrinya memiliki mimpi yang begitu tinggi. Oleh sebab itu, ia rela melakukan pekerjaan apapun demi mengisi pundi-pundi rekeningnya untuk masa depan anak-anaknya kelak.

“Ayah, nanti setelah lulus SMA, aku mau masuk kedokteran di UI yah, aku mau jadi dokter”, kata Chika.

“Apapun impian dan cita-cita kamu, selama itu baik, pasti Ayah dukung, nak”, jawab Ayah.

“Tapi, apa ayah akan tetap terus antar aku?”, Tanya Chika.

“Ayah akan tetap terus antar kamu bahkan sampai nanti ada pria yang akan menikahimu”, ucap Ayah.

“Apa Ayah akan tetap antar pakai motor butut itu? Itu kan sering mogok yah,” jawab Chika lagi.

“Selama Ayah masih sanggup untuk mengantarmu, apapun kendaraannya Ayah tetap yang akan memastikan bahwa putri Ayah sampai tempat tujuan dengan selamat dan tetap utuh,” kata Ayah.

“Jika nantinya kamu malu terhadap keadaan Ayah, katakanlah nak, Ayah menghargai setiap apa yang kamu katakan. Ayah tidak akan meninggalkan putri Ayah sendirian, meski engkau dirundung rasa malu, tetapi Ayah akan tetap setia memandangmu dari kejauhan,” ucap Ayah lagi.

Chika yang mendengar ucapan tulus dari ayahnya langsung terenyuh hatinya dan segera memeluknya. Tanpa ia sadari bahwa itu adalah pelukan terakhir dari Chika untuk Ayah.

Setelah memastikan bahwa anak-anaknya telah tidur, Pak Karyo termenung di ruang keluarga. Entah apa yang ia pikirkan, namun tampaknya pikiran itu begitu sulit terpecahkan. Ibu Ami, istri Pak Karyo yang sudah mulai mengantuk datang menghampiri suaminya.

“Ayah, kenapa belum tidur?”, Tanya Bu Ami.

“Ayah belum mengantuk bu. Ibu sendiri kenapa belum tidur?”, Tanya Pak Karyo.

“Ibu baru saja mau tidur, tapi melihat Ayah masih di sini maka Ibu hampiri”, jawab Ibu.

“Ya sudah, Ibu tidur saja. Ayah masih ingin di sini, Bu”, kata Pak Karyo lagi.

“Ada apa yah? Sepertinya ada hal yang Ayah pikirkan”, Tanya Ibu.

“Ayah hanya kepikiran anak-anak, bu. Ayah hanya kepikiran tentang masa depan Chika yang sebentar lagi akan kuliah”, jawab Ayah.

“Ada apa memangnya yah?”, Tanya Ibu.

“Bu, jika nanti aku tidak memiliki kesempatan untuk melihat anakku mengenakan pakaian dokter, maka aku titipkan ia padamu. Jaga malaikat-malaikat kecil kita, jaga impian dan cita-cita mereka. Cukup aku saja yang membuat mereka kecewa, asal jangan dirimu, bu. Kelak mereka yang akan menggantikanku ntuk menjagamu, menjaga keluarga kita”, ucap Ayah.

“Ayah berbicara apa sih? Tidak perlu diminta, pasti akan kujaga anak-anak kita demi masa depan mereka”, jawab Ibu.

“Terima kasih ya bu”, ucap Ayah.

“Ya sudah, lebih baik kita tidur, sudah larut malam,” ucap Ibu.

Mereka beranjak ke kamar tidur, tanpa Bu Ami ketahui bahwa malam itu adalah malam terakhir ia tidur bersama suaminya.

Saat ayam berkokok membangunkan para semesta alam untuk menjalankan ibadah wajibnya. Saat itu pula Bu Ami berusaha membangunkan suaminya. Namun, apa daya, suara ayam dan adzan subuh tak mampu membangunkan lagi jiwa Pak Karyo. Ya, ternyata Tuhan lebih sayang kepada Ayah dua anak itu. Tuhan mengambil hamba-Nya untuk kembali ke rumah abadi-Nya. Alangkah terkejut keluarga kecil itu ketika ditinggal sosok kepala keluarga nan bersahaja. Saat yang bersamaan, Chika menemukan surat yang telah ditulis ayahnya di atas meja kerja.

Malaikat kecilku..

Di luar sana gelombang ombak menerjang begitu kuat. Karang pun bisa terpecah-belah oleh dahsyatnya hantaman. Tapi jangan dirimu, eratkan iman dan keyakinan pada hatimu. Kokohkanlah pendirian dan tekad kalian demi masa depan. Demi pondasi kehidupan yang akan kalian jejaki tanpa kehadiranku. Biar arus mengalir begitu derasnya, peganganlah yang kuat, nak. Kuatkan diri kalian, jangan sampai terhanyut derasnya arus. Lawan selama kalian mampu. Hadapi selama kalian bisa. Sebab aku percaya, bahwa Tuhan selalu melindungi malaikat-malaikat kecilku nan lucu ini. Kini, Ayah telah berada jauh, namun percayalah Ayah akan selalu berada di samping kalian. Ayah akan memandang kalian begitu dekat tanpa terlihat. Maaf, jika Ayah tidak bisa mengamati kedewasaan kalian. Tapi, percayalah Ayah akan selalu mengasi kalian saat kalian tumbuh. Ayah akan bantu bangkit jika kalian terjatuh, bukan dengan raga yang sudah kaku ini, melainkan dengan doa untuk malaikat-malaikat Ayah yang terindah di dunia

Titip rindu Ayah untuk malaikat-malaikat pelindung penghuni surga. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi semester 3 Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan di Politeknik Negeri Jakarta.

Lihat Juga

Doa Terbaik untuk Ayahanda Harvino, Co-pilot Pesawat Lion Air dan Ayah bagi 10 Anak Yatim

Figure
Organization