Home / Berita / Opini / Berpolitik itu Jejak Sikap

Berpolitik itu Jejak Sikap

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna.com/hdn)

dakwatuna.com – James F. Jeffrey, mantan Dubes AS di Turki mengatakan, “Erdogan tidak disukai Washington. Tidak juga dikehendaki Uni Eropa. Berbeda dengan pemimpin Arab. Mereka senantiasa patuh kepada kami dalam kondisi apapun. Pemimpin Arab setia bersikap seperti keinginan kami. Nampak sekali, kami dibutuhkan dan diposisikan sebagai sekutu. Mereka ngiler dengan F-16. Lain halnya dengan Erdogan. Ia sosok yang berani menentang, menantang, mengangkat muka, dan menempeleng kami. Ia tak mau sedikit pun bersahabat dengan kami.” (Sumber: http://www.dailysabah.com/columns/merve-sebnem-oruc/2016/08/18/why-doesnt-the-west-like-erdogan)

Tiada manusia sesempurna baginda Nabi. Erdogan adalah umat Nabi. Meniru, meneladani dan menerjemahkan. Lembut pada dhu’afa, jumawa pada kaum angkara. Semua panah mengarah. 5 kali diancam pembunuhan. Allah membimbingnya selamat. Salah satunya, di tahun 2013. Erdogan jadi target dibunuh, saat akan operasi. Namun sehari sebelumnya. Erdogan membatalkan operasi yang dilakukan dokter-dokter pelaku kudeta gagal.

Mengapa jejak sikap Erdogan begitu berani? Jawabannya. Sebab ia memiliki energi powerfull yang tidak sekadar mengimbangi. Namun mengungguli kekuatan dunia. Erdogan terpilih secara demokratis. Di bawah kepemimpinannya ekonomi Turki mengalami kemajuan. Di bawah kepemimpinannya militer Turki semakin kokoh. Infrastruktur kuat dan rakyat disejahterakan. Pun pendidikan gratis, kesehatan cuma-Cuma, teknologi maju dan Turki terbebas dari utang. Tuduhan korupsi tak terbukti. Erdogan pula yang paling nyata jejak kebijakannya untuk dunia.

Erdogan ialah seorang qa’idul qaadah, Great Leader. Jika salah, segera muhasabah, introspeksi dan saat gagal, cepat istighfar. Terpeleset, langsung tasbihat, memuji Allah Yang tidak pernah terpeleset. Bukan tipe qiyadah yang planga-plongo, disetir kepentingan, ditaujih kebutuhan, atau ditentir kondisi. Bak boneka yang tak berdaya. Hanya sibuk mencari kambing hitam. Tajam ke anak kambing.

Ada baiknya politikus dunia Islam berguru pada Erdogan. Berguru soal bersikap. Berguru untuk bagaimana berani menantang, tegar menentang, mengangkat wajah. Sesekali membalas angkara murka. Erdogan tidak lagi husnuzhan, berbaik sangka pada lawan yang sudah nyata-nyata mengharu biru kekuatan Islam. Jualan politikus adalah sikapnya, bukan untaian nasihat atau kata bijak, bak pujangga. Erdogan tegas soal Palestina dan Suriah. Beliau mampu berdiplomasi pada musuh untuk suatu kepentingan strategis umat. Memainkan senjata “ancaman dan perdamaian”.

Erdogan paham bahwa Iran dan Rusia atas restu AS dan Israel di balik kejumawaan Assad membantai umat Islam di sana. Erdogan memainkan diplomasi karena ia sadar bahwa jika saat ini ia terlalu keras dengan Israel –Israel telah mempersenjatai ISIS dan PKK yang menguasai 2/3 garis perbatasan dengan Turki–, maka satu-satunya jalan adalah dengan tetap menjaga jalur diplomatik. Sebab ia tahu, konspirasi di kawasan Timur Tengah salah satu tujuannya adalah untuk menghancurkan “kemajuan Turki” yang sedang dipimpin oleh Erdogan, termasuk juga sebagai upaya menundukkan seluruh penguasa Arab.

Untuk Indonesia, saya pesimis. Justru di Indonesia, mereka yang bersuara lantang dikekang. Mereka yang kritis dibuat krisis. Mereka berani melawan dihadang. Mereka yang tegar bersikap, malah disekap. Wajar. Di 71 tahun kemerdekaan. Indonesia tidak punya stok politikus semisal Muh. Natsir, H. Agus Salim, Kahar Muzakkar. Di era reformasi pun masih perlu kedewasaan dari para pemimpin atau elit pimpinan yang mempunyai otoritas dan kendaraan untuk memberikan ruang dan panggung buat barisan pejuang yang tegar dalam sikap, yang cerdas dalam narasi, yang kuat dalam memikul beban, yang lincah dalam berdiplomasi. Bukan sebaliknya. “Maaf, Anda kurang beruntung”. (nandang/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Lihat Juga

Pernyataan Sikap PP Pemuda PUI Tentang Insiden Pembakaran Bendera Tauhid di Garut

Organization