Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Kurikulum dan Guru

Kurikulum dan Guru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kurikulum masih selalu dianggap menjadi penyebab utama rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia bagi masyarakat terutama bagi guru. K-13 merupakan kurikulum yang masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat dan guru hingga saat ini. K-13 dianggap sangat memberatkan guru. Menurut Dedeh salah seorang guru matematika mengungkapkan bahwa salah satu kelemahan K-13 adalah sebagian besar guru beranggapan bahwa dengan K-13 ini guru tidak perlu menjelaskan materinya. Padahal peran guru sebagai fasilitator tetap dibutuhkan terlebih dalam memotivasi siswa untuk aktif belajar. Tentu hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang salah satunya adalah kurangnya pembinaan yang konsisten pada guru sehingga waktu untuk guru memperbaiki proses pembelajaran menjadi kurang bahkan tidak ada.

Seperti apa yang diungkapkan oleh Asep Sapaat salah seorang praktisi pendidikan yang juga mantan Direktur Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa “Tak ada satu pun model pembelajaran terbaik untuk guru-guru. Yang terbaik, yang tepat ditampilkan di tempat yang tepat dan situasi yang tepat. Tak ada satu pun strategi mengajar yang terbaik. Semua tergantung pada situasi dan waktu yang yang tepat untuk dipraktikan guru. Sedahsyat apa pun kurikulum berbasis saintifik dengan model tematik integratif, jika tidak dipahami dan tak bisa diterjemahkan guru dalam praktik pembelajaran semua hanya isapan jempol belaka”. Itu artinya tak ada metode ataupun strategi terbaik, melainkan ketepatan guru dalam menerapkan metode atau strategi pembelajaran di dalam kelas yang disesuaikan dengan tempat dan situasi yang tepat juga. Tentu hal ini dapat dijadikan bahan refleksi bagi para guru.

Selain itu Asep Sapaat menambahkan pendapatnya mengenai pelatihan guru yang merupakan salah satu cara meningkatkan kompetensi guru. Sayangnya, coaching guru yang sistematis, konsisten dan berkelanjutan tak dijadikan opsi terbaik untuk membina guru, karena yang krusial adalah proses coaching di saat guru praktik mengajar. Kelemahan guru bisa nampak dan bisa dijadikan bahan rekomendasi untuk melakukan tindak perbaikan. Pelatihan tanpa proses tindak lanjut hasil di kelas, guru hanya sekedar tahu tapi tak paham apalagi mampu mengembangkan ilmu untuk melayani kebutuhan belajar siswa.

Coaching yang konsisten dan berkelanjutan dalam proses pembinaan guru menjadi salah satu cara yang efektif dalam meningkatkan kompetensi guru. Karena guru merupakan ujung tombak pendidikan sehingga sehebat apapun kurikulumnya jika guru nya tak kompeten maka tujuan pendidikan nasional tetap tidak akan tercapai. (dakwatuna.com/hdn)

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Restgha N, S.Pd
Guru Relawan Sekoah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan , pada tahun 2015-2016. Mengajar di salah satu sekolah International tingkat taman kanak-kanak.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Figure
Organization