Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menyusuri Lika Liku Cinta (Bagian ke-1)

Menyusuri Lika Liku Cinta (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (tentangmaknakata.wordpress.com)
ilustrasi (tentangmaknakata.wordpress.com)

dakwatuna.com – Jum’at 25 Januari 1991 silam, aku lahir sebagai anak pertama dari ibuku serta anak kelima dari ayahku. Menjadi putri pertama dari istri kedua tentu banyak rasa dalam hidupku, besar bersama kakak seayah yang ikut andil dalam mengasuhku, meski tak jarang juga menjadi teman bertengkar di rumah. Perbedaan usia yang hampir tiga puluh tahun antara ibu dan ayahku tentulah pola pikir mereka berbeda jauh hingga tak jarang terjadi konflik dalam rumah tangga mereka meskipun aku masih kecil. Bagaimana mereka bisa berjodoh? Terlepas dari jodoh, Allah yang atur, maka ada cerita yang aku dapatkan tentang mereka.

Ayahku adalah seorang petani sekaligus penjual kopi bubuk racikannya sendiri di kampung dan ibuku adalah salah seorang pelanggannya. Cerita bermula dari pelanggan yang seakan kena sihir cinta dari sang penjual kopi yang sejatinya adalah duda beranak empat. Entah apa yang terjadi hingga ibuku tak lagi bisa menghapus bayang-bayang si penjual kopi dari ingatannya. Sehari saja tak bersua maka siap-siap pusing mendera. Singkat cerita ibu pun meninggalkan kekasihnya yang hampir seusia untuk membina rumah tangga bersama sang penjual kopi. Meskipun tak sedikit keluarga yang menentang pernikahan itu tapi sihir cinta si penjual kopi itu ternyata jauh lebih kuat dari semuanya.

Menjadi istri kedua dari duda dengan empat orang anak tentulah tidak mudah. Tak jarang ibuku mendapat perlakuan yang tidak selayaknya dari anak-anak ayahku. Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh dengan anak tirinya menjadikan beliau kurang dihargai. Jujur kalau ingat ini semua ada kemarahan di hatiku kenapa ibu harus mau menikah dengan duda itu yang kini jadi ayahku. Mengapa harus menyeburkan diri ke dalam telaga kebencian yang nyata-nyata akan menyiksa diri. Dan masih banyak mengapa lainnya yang membuat aku serasa ingin murka.

“Pakasiah” begitulah orang di kampungku menyebutnya. Semacam sihir yang ditujukan kepada seseorang yang disukai agar dapat dimiliki secara instan. Sudah jelas sangat tidak ada keberanian si empu pakasiah untuk mendapatkan cintanya secara gentlement. Si penjual kopi pun menyelipkan pakasiahnya ketika si gadis membeli kopi untuk menjadi pengganti istri pertamanya yang telah kembali ke pangkuan yang ESA. Begitulah sedikit cerita tentang ibu yang terkadang menjadi sesalku. Mengapa harus seperti itu..?

Apapun yang terjadi tetap saja aku lebih dekat dengan ayah dibandingkan dengan ibuku. Ayah akan segera memanggilku tatkala ibu sudah hilang kesabaran dan terus memarahiku. Aku akan menangis dalam pangkuan ayah, entah itu juga salah satu penyebab aku sering dimarahi sama kakak yang seayah denganku. Sepanjang pengetahuanku tak lagi ku temui lelaki si penjual kopi, tetapi yang ada hanya petani yang ulet dan rajin. Ayah selalu punya cerita petualangannya merambah negeri Jiran kala muda, yang menjadi bahan obrolan kami ketika hanya berdua, aku dan ayah. Di samping punya sawah dan kebun yang luas, ayah pun punya puluhan pohon jeruk asam. Setiap dua minggu sekali kami akan panen bersama-sama, aku hanya kebagian memunguti buah asam yang sudah di jatuhkan ayah atau ibuku. Lalu aku dan kakak juga akan saling berebut mengambil buah asam yang paling besar untuk dibuat air asam nanti di rumah.

Biasanya aku ikut ayah untuk mengantar jeruk asam yang berkarung-karung itu ke rumah si pengepul dengan resiko libur mengaji ke surau. Hasil penjualan asam sebagian besar diperuntukkan untuk biaya kuliah anak ayah dari istri pertamanya. Walaupun kami hanya dapat sebagian kecil saja tapi ku lihat ibu tak pernah mengeluh. Tak jarang juga ketika hasil panen sedang tidak ada lalu kakak minta dikirimi uang maka ayah dengan sigap langsung mempertaruhkan malu ke rumah-rumah warga untuk mencari pinjaman. Tak jarang juga ini menjadi bahan pertengkaran ibu dan ayahku.

Maret 1994, aku pun punya adik yang pertama, anak keenam dari ayahku yang masih juga perempuan. Agustus 1996, adikku yang berikutnya juga lahir sebagai putra kedua dari tujuh anak ayah. Akhir Juli 1998, lahir pulalah seorang adik perempuan lagi yang selalu menjadi pengikutku kemanapun. Bersama mereka ku jalani masa-masa bahagiaku di sekolah dasar.

Masa kecilku adalah masa aku mengeksplorasi semuanya secara otodidak tanpa pembiasaan dari siapapun. Sejak mulai bisa membaca aku menjadi kutu buku yang sangat sering kena tegur kala di rumah.  Pulang sekolah tak langsung menuju rumah tapi mampir ke rumah teman yang sebenarnya berbeda jalur dengan rumahku. Rela menunggunya meminjamkan majalah bobo yang tak hanya sekali pinjam. Sampai di rumah buka sepatu dan simpan tas, langsung siap majalah di tangan, tak peduli mau makannya berjam-jam karena lebih fokus membaca dibanding makan. Tak peduli juga aku sudah berapa kali membaca majalah yang sama.

Berkali kali aku diingatkan untuk selalu mengganti seragam sekolah sebelum makan tetap saja tak merubah kebiasaanku. Sudah terlalu nyaman dengan keadaan yang ada. Setelah makan aku pun harus mengasuh adik tetap saja sambil membaca. Terkadang aku pun ikut menjadi buruh membersihkan bawang untuk menambah jajan sendiri, kalau yang ini bukan bawa buku tapi bawa adik, ya aku bekerja sambil mengasuh. Kesibukan di luar rumah membuat aku tak pernah melakukan pekerjaan rumah walau hanya untuk sekedar mengayunkan sapu. Jika bebas dari adik maka aku akan bermain sepanjang siang hingga senja menjelang. Sebelum akhirnya aku harus mengaji ke surau. Pulang mengaji aku pun berkutat dengan buku pelajaran di bawah lampu minyak hingga terlelap. Ketika bangun pagi hari maka arang lampu sudah berpindah ke hidungku.

Bukan tak pernah disuruh melakukan kewajiban di rumah hanya diriku saja yang tidak peduli dengan masalah begituan. Keadaan yang seperti ini sering membuat aku dijadikan bahan perbandingan orang tua teman-temanku. Tak jarang ketika sedang asyik bermain, orang tua temanku menghardik anaknya,”pulang cepat, itu di rumah banyak kerjaan numpuk, piring belum dicuci, belum memasak nasi, gak usah ngikutin Sasni, dia mah gak pernah ngerjain yang begituan”. Waktu itu tak sedikitpun aku peduli dengan omongan mereka, yang jelas orang tuaku di rumah aja tidak memaksaku, lantas apa hak mereka.

Jika sudah kehilangan teman begini aku akan kembali ke rumah lalu sembunyi di belakang pintu dapur (dapur pisah dari rumah) kebetulan tiang dapurku adalah pohon nangka yang masih berbuah. Bukan karena takut dimarahi cuma karena hobi ngusilin orang aja. Ketika ibuku akan masuk ke dapur maka serta merta aku akan teriak dan berdiri mengagetkannya. Setelah berhasil begitu aku akan kabur sambil ngakak diiringi ocehan ibuku. Ini tidak layak ditiru, takut nanti dosaku kian bertambah.

Sejak tahun 1997 aku sudah mulai duduk di bangku SD dengan guru luar biasa. “Ibuk Tando” begitu kami menyebut beliau. Nama beliau sebenarnya adalah Yuliarnis, tapi karena beliau punya tanda lahir maka di panggillah ibuk tanda yang dalam bahasa Padang jadi Ibuk Tando. Aku yang juga mempunyai tanda lahir di tangan maka sering juga dibully akan jadi ibuk tando seperti guruku. Aku sich masa bodo, palingan juga ngadu sama ayah di rumah. Hal yang tidak bisa dilupakan lagi dari beliau adalah selalu memanggil gelar adat ayahku kalau harus memanggilku. Sebal juga sich karena tak jarang ini jadi bahan olok-olokan teman-teman. “Hoooi angku malin” tak jarang juga membuat aku menemui beliau sambil ngedumel. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Januarita Sasni, S.Si, SGI. Lahir di Sumatera Barat pada tanggal 25 Januari 1991. Menyelesaikan Pendidikan menengah di SMAS Terpadu Pondok Pesantren DR.M.Natsir pada tahun 2009. Menyelesaikan Perguruan Tinggi pada Jurusan Kimia Sains Universitas Negeri Padang tahun 2014. Menempuh pendidikan guru nonformal pada program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) sejak Agustus 2014 hingga Januari 2015, kemudian dilanjutkan dengan pengabdian sebagai relawan pendidikan untuk daerah marginal hingga Januari 2016. Sekarang menjadi laboran di Lab. IPA Terpadu Pondok Pesantren Daar El Qolam 3 sejak Februari 2016. Aktif di bidang Ekstrakurikuler DISCO ( Dza ‘Izza Science Community) sebagai koordinator serta pembimbing eksperiment dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah. Tergabung juga dalam jajaran redaksi Majalah Dza ‘Izza. Mencintai dunia tulis menulis dan mengarungi dunia fiksi. Pernah terlibat menjadi editor buku “Jika Aku Menjadi” yang di terbitkan oleh Mizan Store pada awal tahun 2015. Salah satu penulis buku inovasi pembelajaran berdasarkan pengalaman di daerah marginal bersama relawan SGI DD angkatan 7 lainnya. Kontributor tulisan pada media online (Dakwatuna.com) sejak 2015.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization