Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Warnai dengan Al-Quran

Warnai dengan Al-Quran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com / Cmajor)
Ilustrasi (flickr.com / Cmajor)

dakwatuna.com – Anak-anak merupakan amanah terbesar dari Allah yang harus dijaga, dilindungi dan dirawat dengan baik. Apalagi orang tua berperan penting dalam tumbuh kembang seorang anak, baik buruknya seorang anak tergantung orang tua ketika mendidik di waktu kecil. Nabi SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (beribadah kepada Allah). Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi (Penyembah Api)”. (HR. Muslim)

Nah, melihat hadist di atas terbukti bahwasanya anak akan jadi seperti apa ketika dewasa tergantung orang tuanya yang mendidik. Seperti kata Imam Ghazali “Anak-anak kita adalah mutiara,” memang benar anak-anak itu bagai mutiara yang tak ternilai harganya. Bagaimna caranya agar mutiara tersebut tetap ada nilainya? Itu semua tergantung bagaimana cara orang tua menjaga dan merawatnya.

Tak jarang beberapa orang tua ketika anaknya menangis kebingungan untuk menenangkannya, dan berkata seperti ini. “Waah.. lihat itu burung di langit”. Padahal di langit tidak ada burung, memang menurut ilmu psikologi ketika anak menangis diminta untuk melihat ke atas. Tapi, tanpa sadar orang tua mengajarkan ketidak jujuran, ada juga ketika anak jatuh, orang tua menyalahkan lantainya. Tanpa sadar juga orang tua mengajarkan anak mengkambing-hitamkan lantai. Meski hal sepele itu kurang baik, karena setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Itulah mengapa ketika dewasa beberapa anak merasa takut untuk mencoba hal baru, kurang percaya diri dan lain sebagainya. “Ketika anak diabaikan pada masa pertumbuhan awal, umumnya ia akan berakhlak buruk, seperti pendusta, pendengki, pencuri, suka mengadu domba, suka meminta, suka melakukan hal-hal tiada guna, suka tertawa, dan bertindak gila. Semua ini bisa dihindari dengan pendidikan yang baik”, tutur Imam Ghazali.

Tidak berhenti pada orang tua saja, pendidik atau sering disebut orang tua kedua di sekolah juga turut berkontribusi besar dalam mencetak karakter anak-anak. Negara akan maju jika memiliki generasi yang berpotensi, pemberani, mandiri dan berakhlak mulia. Melihat moral anak-anak saat ini cukup memperihatinkan, perlahan tergerus oleh zaman yang semakin modern. Di sinilah tugas seorang pendidik mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan, sebagai fasilitator dalam belajar, sebagai uswah (teladan) di sekolah. Sebab setiap tindakan yang dilakukan seorang pendidik akan direkam anak didiknya, apalagi anak usia dini bisa dikatakan peniru ulung. Untuk itu harus berhati-hati setiap hendak berkata maupun bertindak.

Mendidik tidak asal-asalan ada ilmunya, apalagi mendidik anak-anak, harus penuh kasih sayang dan penuh cinta. Kenapa demikian?  Karena anak-anak tidak bisa dipaksa ataupun dikasari. Hati mereka lembut, sulit ditebak dan suka bermain, untuk bisa bersama mereka, orang tua dan pendidik harus bisa masuk ke dunianya. Untuk itu, orang tua dan pendidik hendaknya berkolaborasi dengan baik dalam mendidik anak-anak. Mumpung hati mereka masih bersih tak terwarnai, warnai hati mereka dengan Al Quran agar senantiasa yang diperbuat maupun diucapkan tidak jauh dari koridor islam. Waallahu ‘alam.. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswi PGPAUD Universitas Trunojoyo Madura, cinta dunia anak-anak, aktif sebagai anggota LDK-MKMI dan pengurus FLP cabang Bangkalan.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Organization