Home / Berita / Opini / Babak Baru Perjuangan Melawan Hegemoni Israel (Bagian ke-1)

Babak Baru Perjuangan Melawan Hegemoni Israel (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, AS dan negara-negara barat telah menjadi penyokong utama negara Yahudi tersebut sehingga bisa bertahan sampai hari ini dan bahkan menjadi salah satu negara yang paling kuat di kawasan. Letak geografis Israel yang dikelilingi negara-negara Arab mayoritas muslim menjadi alasan utama kegelisahan dan kekhawatiran negara Yahudi tersebut akan keamanan dan eksistensinya sehingga membutuhkan dukungan militer dan finansial dari Barat. Ditopang oleh jaringan lobi dan donatur yang kuat mereka mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan negara Barat untuk mendukung pendudukan yang mereka lakukan di tanah Palestina.

AS merupakan sekutu dan pelindung utama Israel di dunia internasional. Dalam sejarah, resolusi yang berisi kecaman atau sanksi dari Dewan Keamanan PBB tidak pernah dijatuhkan atas pelanggaran yang dilakukan Israel karena selalu diveto oleh AS. Israel adalah negara penerima bantuan luar negeri terbesar dari AS, di mana setiap tahunnya lebih dari 3 miliar dolar dari anggaran belanja negara dialokasikan sebagai bantuan ke Israel dan akan dinaikkan menjadi sekitar 4.5 miliar dolar sebagai kompensasi perjanjian nuklir antara AS dengan Iran. Angka tersebut tidak termasuk 2 miliar dolar yang dikucurkan ke negara-negara sekitar terutama Mesir dan Jordan untuk menjaga hubungan baik dengan Israel. Tidak hanya itu, setiap tahun sekitar 4 miliar dolar dana yang tidak dikenakan pajak mengalir ke Israel melalui berbagai organisasi non-profit untuk mendukung berbagai aktivitas pendudukan dan propaganda. Dalam konflik di Palestina, semua usaha perdamaian yang disponsori AS tidak pernah berhasil karena negara adidaya tersebut tidak mampu menghadapi Israel yang kerap kali tidak mau berkompromi.

Dukungan buta AS ke Israel tentunya mengundang banyak pertanyaan tidak hanya dari luar tapi juga dari dalam negeri AS sendiri. Apa untungnya bagi AS sehingga mati-matian membela Israel dan menutup mata atas pelanggaran-pelanggaran internasional yang mereka lakukan? Bukankah AS adalah negara demokrasi terbesar di dunia yang mengklaim dirinya sebagai model negara yang bebas, demokratis, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia? Kenapa para politisi selalu berlomba-lomba menunjukkan dirinya lebih pro-Israel di dalam kampanye-kampanye mereka? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sudah banyak dilontarkan namun selalu dibungkam oleh media-media mainstream yang kebanyakan diisi oleh jaringan pro-Israel. Tuduhan anti-semit menjadi senjata utama mereka untuk menyerang siapapun yang mempertanyakan -apalagi menentang- keberpihakan AS kepada Israel.

Namun meskipun hegemoni Israel sangat kuat, AS adalah negara demokrasi yang melindungi hak-hak untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Di AS siapapun tidak dibenarkan secara konstitusi untuk membungkam hak setiap individu maupun kelompok untuk berbicara meskipun berisi pernyataan yang menyerang pihak lain. Jaminan kebebasan berbicara inilah yang menjadi modal utama gerakan perlawanan terhadap Israel yang muncul di Barat. Dengan semakin terbukanya informasi, semakin banyak publik yang sadar dan mempertanyakan kebijakan AS dalam konflik Israel-Palestina dan berani mengangkat isu tersebut ke ruang diskusi. Salah satu contoh yang paling penting adalah konferensi tahunan mengenai Pengaruh Israel di Amerika yang pada bulan Maret lalu diadakan untuk ketiga kalinya. Konferensi yang diadakan seminggu sebelum konferensi AIPAC tersebut menghadirkan para aktivis, wartawan, dan akademisi yang membahas berbagai isu mengenai pengaruh Israel di dalam negeri AS. Meskipun tidak banyak diliput oleh media mainstream, acara tersebut mendapat perhatian cukup banyak di media-media online yang memiliki banyak pembaca.

Fenomena ini menandai babak baru perjuangan hegemoni melawan Israel yang dipelopori oleh para aktivis, wartawan, dan akademisi yang objektif dan independen. Yang menarik, garis terdepan kelompok ini banyak diisi oleh orang-orang Palestina dan orang-orang Yahudi yang tinggal dan besar di Barat, mereka yang memiliki ikatan emosional dan historis dalam konflik berkepanjangan tersebut.

Bagi orang-orang Palestina yang bermukim di negara Barat, Palestina adalah tanah air dan identitas mereka yang dirampas oleh Israel. Penindasan hak-hak bangsa Palestina yang mereka alami dan saksikan merupakan sesuatu yang tidak diberikan ruang sedikit pun dalam pandangan dunia Barat di mana mereka dibesarkan. Kemarahan mereka tidak hanya tertuju ke Israel tapi juga ke negara-negara Barat yang menerapkan standar ganda dalam konflik Israel dan Palestina. Perlawanan mereka disalurkan dalam bentuk tulisan-tulisan di media, buku, gugatan ke pengadilan, aksi-aksi kemanusiaan, dan diskusi publik. Perpaduan antara identitas Palestina dengan segala warisan dan pengalaman yang mereka miliki dan produk pendidikan Barat di mana mereka dibesarkan memungkinkan mereka untuk menyampaikan pergulatan batin dan pikiran yang mereka rasakan dengan bahasa yang bisa dipahami dan diterima oleh publik di Barat.

Beberapa warga keturunan Palestina di AS telah menjadi tokoh yang memiliki posisi penting dan dikenal cukup luas. Dari kalangan pemuka agama misalnya terdapat nama Syaikh Omar Suleiman, seorang ulama muda karismatik di Texas yang sangat aktif di media sosial. Meskipun tidak terlibat secara langsung dalam aksi menentang Israel, melalui tweetnya beliau sering kali mengecam apa yang dilakukan Israel di Palestina dan memberikan dukungan untuk gerakan-gerakan perlawanan seperti BDS (Boycott, Divestment, and Sanction). Selain aktif berceramah di komunitas muslim, ia juga aktif melakukan dialog interfaith dengan komunitas agama lain termasuk Yahudi dan sering kali diwawancarai oleh media mengenai isu-isu seputar Islam dan muslim di AS.

Dari kalangan penulis dan wartawan terdapat nama seperti Susan Abulhawa, penulis novel “Mornings in Jenin” yang menjadi best seller internasional dan telah diterjemahkan ke 26 bahasa. Selain menulis, saat ini ia juga terlibat dalam proses hukum untuk menggugat Departemen Keuangan AS terkait dana-dana yang mengalir ke area pendudukan. Selain itu terdapat pula nama Rula Jebreal, seorang wartawan berdarah Palestina yang mengawali kariernya di Italia dan sukses hingga memiliki program acara sendiri. Buku yang mengisahkan perjalanan hidupnya semasa kecil di Palestina, “Miral”, menjadi best seller internasional dan diangkat ke layar lebar. Saat ini ia menjadi wartawan yang menulis untuk berbagai media dan sering muncul di TV sebagai pengamat luar negeri.

Dari kalangan akademisi, terdapat nama Steven Salaita, seorang profesor humaniora yang sempat berkarier di University of Illinois namun keluar karena kecaman yang dilontarkannya terhadap Israel di Twitter membuat gerah para donatur kampus ternama tersebut. Insiden tersebut berujung pada proses pengadilan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Salaita. Kemenangan tersebut dinilai sebagai kemenangan bagi para aktivis pro-Palestina dan mereka yang mendukung kebebasan berbicara di kampus-kampus.

Selain nama-nama yang sudah menjadi tokoh publik, generasi anak-anak muda Palestina di Barat juga memainkan peranan penting dalam bentuk diskusi di kampus-kampus dan media sosial. Salah satu contohnya adalah Mia Oudeh, seorang remaja berdarah Palestina penggemar serial Harry Potter yang bermukim di Inggris. Di Facebook, dengan menggunakan analogi-analogi karakter dan cerita yang ada di Harry Potter ia mempertanyakan posisi penulis JK Rowling yang menentang gerakan boikot ke Israel. Tulisannya mendapat sambutan yang luas dan direspons secara positif oleh JK Rowling. Di kampus-kampus para mahasiswa mendirikan kelompok-kelompok diskusi pro-Palestina seperti misalnya Students for Justice in Palestine (SJP) yang memiliki 80 chapter di berbagai kampus di AS. Di George Mason University, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Students Against Israeli Apartheid (SAIA) melakukan aksi walkout pada saat acara wisuda ketika seorang donor terbesar Israel berbicara di upacara tersebut.

Di negara di mana opini publik berperan sangat penting dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah, kiprah-kiprah yang mereka lakukan berupa tulisan, aksi, dan diskusi memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menggeser opini publik AS sehingga lebih berimbang dalam melihat konflik antara Israel dan Palestina. Suara-suara mereka menjadi counter untuk narasi yang dibuat oleh media-media mainstream yang menyingkirkan perspektif orang-orang Palestina dalam liputan-liputan berita. Opini publik yang lebih berimbang pada akhirnya akan menjadi tekanan bagi para pengambil kebijakan untuk mengubah pendekatan mereka yang selama ini terlalu condong ke Israel.

(bersambung..)

Bagian kedua tulisan ini akan menjelaskan peran orang-orang Yahudi yang menentang kebijakan politik Israel. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa pascasarjana di University of Maryland, College Park. Saat ini terlibat aktif sebagai pengurus Mesjid IMAAM Center di Washington, DC. Aktif mengikuti perkembangan dunia Islam. Suka membaca buku di sela-sela kesibukan.

Lihat Juga

Netanyahu Rayakan ‘Rekonsiliasi Arab’ dengan Rampas Rumah Palestina dan Tutup Masjidil Aqsha

Organization