Home / Berita / Opini / Sosok ‘Kartini’ Masa Kini

Sosok ‘Kartini’ Masa Kini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)
Ilustrasi (padang-today.com)

guru2dakwatuna.com – Sejarah mencatat beberapa tokoh wanita yang tampil sebagai pejuang-pejuang pendidikan yang gigih. Kartini adalah salah satunya. Ialah figur seorang wanita idealis yang visioner. Wanita pendekar kaumnya dengan nama lengkap Raden Ajeng Kartini. Sebagai seorang tokoh nasional yang mem­perjuangkan hak perempuan di Indonesia, Raden Ajeng Kartini terbukti telah berhasil mewujudkan impiannya untuk menyuarakan emansipasi bagi seluruh perempuan yang ada di Indonesia dan dampaknya dapat dirasakan sampai saat ini.

Pada masa itu, kaum wanita di Jawa terkungkung oleh sistem kebudayaan yang membatasi sepak terjang mereka. Para perempuan hanya dianggap sebagai “pemeran pembantu” yang menjalankan kontribusinya sebagai konco wingking dengan tugas utama melahirkan anak dan melayani suami. Adapun Kartini, tak puas dengan kungkungan kultural itu. Ia mendambakan dan memperjuangkan nasib wanita supaya dapat mengaktualisasi diri secara penuh melalui pendidikan yang maksimal. Kemampuannya dalam membagi visi, melakukan lobi-lobi, dan membina kerja sama dengan para penguasa yang pro-rakyat terbukti telah melahirkan proyek-proyek pendidikan nyata yang terukur untuk kepentingan rakyat.

Dari keprihatinan Kartini terhadap rendahnya pendidikan para perempuan yang merupakan cikal bakal sosok pendidik pertama bagi seorang anak yang kemudian disebut sebagai ‘ibu’ itulah akhirnya ia mampu membuka jalan bagi pendidikan para perempuan pribumi. Betapa ia memahami betapa pentingnya peran seorang perempuan bagi pertumbuhan dan pendidikan anak-anaknya kelak.

Apa yang telah diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini ternyata memiliki pengaruh besar yang positif dalam menginspirasi se­luruh wanita di Indonesia. Raden Ajeng Kar­tini merupakan tokoh wanita yang akan selalu menjadi inspirasi sepanjang masa. Perjuangan dan semangat hidupnya tidak akan pernah le­kang oleh waktu. Beliau memperjuangkan hak perempuan sehingga hak perempuan setara dengan lelaki dalam hal hak memperoleh pendidikan. Jika laki-laki bisa bersekolah maka perempuan pun begitu. Inilah peran Ibu Kartini dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan.

Wanita pada zaman Kartini dulu tentu berbeda dengan wanita masa kini yang bahkan telah memiliki hak untuk memimpin suatu perkumpulan maupun pemerintahan. Wanita masa kini bisa bebas bersekolah tinggi, bebas mengutarakan pendapat, dan bebas memilih profesi.

Namun meski demikian, memiliki hak untuk memperoleh pendidikan saja ternyata tidak cukup tanpa adanya sekedar fasilitas dan fasilitator dalam melaksanakan sebuah proses pendidikan itu sendiri. Tetap memerlukan guru sebagai pengajar dan tempat sebagai peraduan menuntut ilmu. Jika kita lihat potret pendidikan di daerah marginal seperti Kepulauan Meranti misalnya tepatnya di Dusun Bandaraya, Desa Sokop, Kec. Rangsang Pesisir, Pulau Rangsang, yang notabenenya terputus dari akses pendidikan. Sebuah dusun baru yang berpenghuni masyarakat suku asli yang masih dipandang primitif oleh masyarakat modern Meranti.

Masyarakat suku Akit yang sering disebut ‘orang asli’ tersebut baru sekitar dua tahun lebih hidup secara menetap. Mendiami perumahan sederhana, bantuan dari Kemensos sejak dua tahun lalu. Berdasarkan pengakuan warga bahwa dahulu mereka tinggal di tepian laut dan hutan dengan memanfaatkan pelepah dan daun sagu sebagai rumah tradisional mereka. Hidup dengan pakaian ala kadarnya juga tanpa menggunakan alas kaki merupakan hal yang biasa bagi mereka. Hanya beberapa orang saja dari mereka yang mampu membaca dengan terbata-bata. Anak-anak mereka tidak bersekolah. Kehidupan masa berkembangnya penuh dengan bermain dan membantu orang tua melaut juga ‘ngolek sagu’.

Sejak dua tahun lalu, ketidakberdayaan pendidikan bagi anak-anak suku Akit diputus oleh seseorang dengan sosok Kartini modern. Wanita yang juga seorang guru agaknya begitu terinspirasi dengan apa yang dilakukan oleh Kartini pada masanya. Bukan memperjuangkan para perempuan untuk kesetaraan gender terhadap laki-laki tetapi menjembatani anak-anak suku asli untuk bisa bersekolah mendapatkan haknya memperoleh pendidikan sama halnya dengan anak-anak Indonesia di daerah lain.

Cita-cita guru Riati ini adalah wujud kemuliaan Kartini pada zaman modern seperti saat ini. Tidak peduli sepadat apapun jadwal mengajar dan aktivitasnya dalam berkontribusi di masyarakat desanya. Ia tetap meluangkan waktu khusus untuk mengajari anak-anak suku Akit dengan fasilitas seadanya. Seragam yang bisa dikatakan masih jauh dari kata seragam. Belajar dengan cara lesehan di dalam balai pertemuan dusun Bandaraya. Di tempat itulah anak-anak pedalaman suku Akit mulai terbangun dari mimpinya untuk benar-benar bisa mengejar asa mereka.

Berawal dari belajar mengenal huruf, mengenal angka untuk kemudian pelan-pelan menuliskannya, guru Riati berharap anak-anak pedalaman suku Akit kelak akan menjadi anak-anak yang bisa membawa perubahan besar pada kaumnya. Tidak lagi primitif dan terbelakang. Tidak lagi akrab dengan cemoohan kekolotan dan gaya hidup yang jauh dari kata layak. Tidak lagi hidup nomaden demi mencari sesuap nasi.

Begitulah sejatinya perjuangan Kartini harus dimaknai oleh setiap wanita di negeri ini. Tanah air kita terlalu luas untuk dapat dijangkau dan dilihat hiruk pikuknya. Peran pemerintah saja tidak cukup untuk kita andalkan. Tetapi juga perlu peran perseorangan atau perkumpulan untuk memperjuangkan hak-hak yang belum sampai kepada pemiliknya. Selagi sang saka merah putih dikibarkan di bagian terpencil negeri ini, di situ juga terdapat hak-hak penduduknya untuk dipenuhi. Dalam hal ini terkait dengan pendidikan putra-putri daerahnya.

Ketulusan hati guru Riati dalam memutus kelumpuhan pendidikan bagi anak-anak pedalaman suku Akit tersebut saat ini sudah mulai memperlihatkan hasilnya. Budaya cium tangan orang tua sudah mulai mendarah daging dalam keseharian mereka. Pun telah banyak yang memakai sandal ketika bepergian. Meski mereka masih menganut kepercayaan animisme namun mereka sudah mulai berbaur dengan suku lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui hidup bersosialisasi.

Potret Kartini modern barangkali banyak kita temui, namun tidak semua diketahui. Belajar dari para relawan yang mengorbankan sebagian waktu luang dan sibuknya untuk perjuangan-perjuangan yang tidak tampak namun memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan orang lain adalah sikap paling bijak dalam meneladani, menghargai dan mengenang Ibu kita Kartini. Tepat pada 21 April tahun ini, adalah tahun yang seharusnya kita tak lagi berdiam diri. Tetapi bergerak untuk ikut memperjuangkan kehidupan orang-orang yang memang patut untuk diperjuangkan. Tidak peduli dari mana mereka berasal, tak peduli apa warna suku dan agama mereka. Sebab berbagi itu indah meski harus melewati jalan sunyi, yang tidak banyak orang berlalu lalang mengorbankan banyak hal yang ia miliki. Jalan sunyi yang tak banyak orang-orang sudi sekedar menyingkirkan duri-duri yang menghalangi.

Semangat yang dimiliki para Kartini modern seperti guru Riati dan juga banyak Kartini-Kartini lain di penjuru negeri tercinta ini, semoga kiprahnya menjadi cahaya yang memberikan energi bagi wanita-wanita lain untuk ikut berjuang. Sudi membersamai di jalanan panjang yang kata orang ‘sunyi’. Sebab Kartini tampil bukan hanya untuk memperjuangkan hak-hak para wanita tetapi menjadi teladan serta membuka mata jiwa kita untuk mengikuti jejaknya. Jejak sunyi. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Kitty Andriany. Alumnus Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau. Semasa kuliah aktif di UKMI Al-Maidan dan Forum Lingkar Pena cabang Pekanbaru. Saat ini sedang mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sebagai Guru Konsultan Makmal Pendidikan Yayasan Dompet Dhuafa dengan program Sekolah Literasi Indonesia di daerah penempatan Kab. Kp. Meranti, Riau.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK