Home / Berita / Opini / Kartini Inspirator Bangsa dalam Membangun Keluarga yang Kokoh

Kartini Inspirator Bangsa dalam Membangun Keluarga yang Kokoh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Repro negatif potret RA. Kartini (wikipedia)
Repro negatif potret RA. Kartini (wikipedia)

dakwatuna.com – Sejak kita duduk di bangku sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi, bahkan sampai kita menjadi dewasa, pasti setiap kita mengenal peringatan hari Kartini yang jatuh pada bulan April, tepatnya pada tanggal 21 April sebagai hari lahir ibu kita Kartini. Bahkan setiap kita pasti hafal lagu tentang Kartini:

”Ibu kita Kartini, putri sejati, Putri Indonesia,
Harum namanya. Wahai ibu kita Kartini , Putri Yang Mulia,
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia”.

Pertanyaannya, sudah sejauh manakah kita mendapat manfaat dari hari peringatan ini? Apakah manfaat dalam bentuk sebuah inspirasi yang mampu meningkatkan kemajuan bangsa dan tanah air, atau manfaat suatu suri teladan mulia yang dapat memperbaiki moral bangsa dan masyarakat tanah air Indonesia tercinta. Benarkah kita bangga memiliki tokoh nasional seperti ibu kita Kartini? Marilah kita jujur pada diri kita secara personal atau komunal bangsa. Benarkah kita sudah merasakan efek positif dari keberadaan beliau? Jika kenyataannya tidak atau belum, marilah kita lebih dalam menyelami kehidupan beliau, agar kita mampu menggali inspirasi yang lebih dalam dan banyak dari kehidupan beliau, sebagai bukti nasionalis kita kepada bangsa.

Dalam kajian ini penulis ingin menggali sisi lain yang jarang dikaji selama ini tentang Kartini dari sisi keteladanannya dalam ketahanan keluarga, agar menjadi sumber mutiara inspirasi bagi bangsa Indonesia dalam membangun ketahanan keluarga. Karena kokohnya suatu bangsa berbanding lurus dengan kokohnya keluarga di dalamnya. Adapun sisi-sisi mas Kartini dalam kehidupan keluarganya adalah sebagai berikut:

1. Kartini sosok pencinta ilmu yang luar biasa, kendatipun mendapat tantangan yang dahsyat dari keluarga.

Lahir sebagai perempuan dari kalangan bangsawan, yang kental dengan budaya patrilineal, namun walaupun demikian, bukan berarti hidup tanpa tantangan. Kartini muda dilarang keras untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orang tuanya. Kartini tidak menyerah, segera ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku-buku ilmu pengetahuan lainnya untuk dibaca, dikaji dan dipelajari di taman rumah dengan ditemani pembantunya. Bahkan lebih dari itu, Kartini sangat peduli dengan kaum perempuan dengan berbagi ilmu kepada mereka, dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Begitulah Kartini muda saat itu, yang sangat mungkin saat itu memilih hidup berfoya-foya bersenang-senang dalam kehidupan yang cukup, namun justru beliau manfaatkan kebangsawanannya untuk menggali ilmu pengetahuan yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

2. Kartini berhasil mempersiapkan kehidupan rumah tangga yang mendukung visi dan misi dirinya dalam mengangkat harkat kaum wanita.

Saat remaja beliau menikah dengan Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat yang sangat mendukung cita-cita Kartini dalam membangun kualitas bangsa dengan ilmu pengetahuan. Berkat kegigihannya dan dukungan suami tercinta, beliau berhasil mendirikan sekolah-sekolah di berbagai tempat, seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan lain-lain, yang terkenal nama “Sekolah Kartini.” Inilah inspirasi besar yang harus menjadi motivasi bagi bangsa Indonesia. Mendirikan sekolah pada zaman itu (hari lahir Kartini 1879) pasti banyak keterbatasan dan minim daya dukung, dibanding zaman sekarang, namun semuanya tidak menyurutkan Kartini untuk berjuang meningkatkan harkat kaumnya. Di sinilah pentingnya mencari pasangan yang serasi dalam mencapai cita-cita mulia. Tentu dalam hal ini Rasulullah SAW lebih awal memberi contoh kepada kita, dengan memilih Khodijah sebagai istrinya, beliau sangat terdukung dalam perjuangannya dalam memperbaiki umat walaupun mendapat tantangan yang luar biasa dari kaumnya.

3. Suasana keluarga yang harmonis, menjadikan Kartini sosok produktif dalam bidang keilmuan. Hasil karyanya “Habis Gelap Terbitlah Terang.” merupakan hasil karya tulis beliau yang sangat monumental.

Di sela-sela kesibukannya Kartini sering menjalin hubungan akrab dengan teman-temannya di Eropa terutama Belanda dengan saling kirim surat, salah satu teman akrabnya adalah J H Abendanon. Sepeninggalnya J.H Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan dan dikumpulkan menjadi satu buku dengan judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT.” Yang artinya habis gelap terbitlah terang, yang melegenda dan sangat monumental serta menjadi sumber inspirasi bangsa Indonesia. Buku tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat dan memperjuangkan hak-hak wanita, serta menyuarakan kesetaraan gender dalam nilai-nilai ketimuran yang mulia, sehingga wanita Indonesia sama dengan wanita di Eropa khususnya belanda dalam batas-batas yang sesuai dengan ke-Indonesiaan. Sungguh sangat disayangkan jika bangsa Indonesia tidak bangga dengan tokoh dan pahlawan nasionalnya sekelas Kartini. Karena ternyata masyarakat Belanda pun sangat bangga dengan Kartini, begitu bangganya mereka mengabadikan dengan menjadikannya sebagai nama-nama jalan di kota-kota Belanda, seperti di Venlo. Amsterdam Harleem dan Utrecht.

Pada era kemerdekaan seperti saat ini Indonesia juga mampu melahirkan Kartini-Kartini baru seperti Ibu Sri Mulyani yang saat ini memegang peranan penting di Bank Dunia, Indonesia memiliki Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya yang visioner dan mengayomi masyarakatnya. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh wanita lain yang sukses seperti Kartini.

4. Kehidupan Kartini adalah inspirasi keberkahan usia manusia.

Keberkahan usia manusia pada hakikatnya tidak diukur dengan berapa lama manusia hidup di dunia ini, 60 atau 70 tahun dan seterusnya, atau dengan berapa harta dan fasilitas hidup yang telah didapatkan, ketika hal ini menjadi ukuran kehidupan, maka manusia hanya akan hidup berlomba-lomba meraihnya, tanpa berpikir apa yang harus ia persembahkan untuk bangsa dan negara, maka manusia bisa saling bermusuhan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Bayangkan jika negeri ini diurus oleh sosok-sosok manusia seperti ini, sudah dapat dibayangkan bagaimana nasib negeri ini ke depan. Hal ini sangat jauh dari sosok Kartini yang selalu ingin memberi dan berkarya untuk bangsanya, siang malam Kartini selalu berpikir untuk mempersembahkan karya yang terbaik dan nyata untuk bangsanya, Sebagai sosok perempuan yang fitrahnya lemah dan terbatas, namun dengan semangat pengabdian yang besar dan pemikiran-pemikirannya yang luas, mampu mengalahkan fitrahnya sendiri. Sehingga walaupun usia dan kesempatan hidupnya hanya 25 tahun-Kartini lahir di Jepara Jawa Tengah 21 April 1879 dan wafat di Rembang pada 17 September 1904-Namun hakikat usianya adalah tanpa batas dan abadi, ini disebabkan oleh karya-karyanya yang besar untuk bangsa dan Negara ini.

Inilah inspirasi-inspirasi singkat tentang Kartini, jika kita ingin menyorotinya dari sisi kekokohan keluarganya yang telah mengantarkan Kartini pada zamannya menjadi pahlawan bagi wanita dan bangsanya. Oleh karena itu kita harus siap melakukan otokritik terhadap sikap-sikap tentang Kartini selama ini, agar peringatan Kartini tidak menjadi acara seremonial yang tanpa ruh dan dampak positif. Seperti:

  1. Peringatan Kartini selama ini identik dengan memakai busana kebaya beramai-ramai yang anggun dan cantik untuk waktu sesaat, setelah itu Kartini ditinggalkan tanpa menghasilkan semangat dan inspirasi Kartini yang visioner. Tentu seharusnya bukan itu yang ditanamkan kepada bangsa ini. Seharusnya yang ditanamkan adalah nilai-nilai perjuangan dan kegigihan kepahlawanannya dalam membangun dan meningkatkan kualitas bangsa. Kalau saja setiap pencinta Kartini berpikir seperti Kartini, apa yang dapat saya lakukan untuk bangsa ini, tentu setiap kali kita memperingati hari Kartini, akan selalu menjadi ledakan-ledakan perubahan dan perbaikan bangsa ini, karena semangat kepahlawanan adalah ingin selalu memberi dan mempersembahkan yang baik dan positif bukan ingin menerima dan memanfaatkan pemberian pihak lain, sehingga terjadilah kondisi bangsa seperti saat ini yang belum sesuai dengan semangat Kartini.
  2. Peringatan Kartini seharusnya identik dengan gerakan cinta dan haus ilmu dengan kembali mencintai buku sebagai sumber pengetahuan, berkarya dengan tulisan yang memberi pencerahan dan peningkatan kualitas bangsa dan negara, terutama masyarakat yang hidup pada era zaman ini, yang penuh dengan kemajuan teknologi seperti televisi, internet, gadget dan sarana kehidupan yang lain. Saat ini telah terjadi kecenderungan orientasi yang sangat jauh dari nilai-nilai luhur Kartini yang cinta ilmu, masyarakat digiring kepada kehidupan yang penuh dengan hiburan-hiburan, gosip-gosip dan berbagai macam tayangan yang jauh dari semangat Kartini yang cenderung menjauhkan manusia dari ilmu pengetahuan. Survei membuktikan bahwa acara televisi yang bersifat pencerahan dan peningkatan kualitas bangsa pasti tidak laku di masyarakat, sehingga tidak diminati oleh para pengiklan dari berbagai macam perusahaan, dampaknya menjadikan setasiun-setasiun televisi berlomba-lomba menyiarkan acara-acara hiburan demi meraih rating tinggi yang memancing datangnya iklan dalam jumlah banyak. Akhirnya televisi kita penuh dengan acara sampah, buktinya semakin banyak menonton TV, semakin menjadikan manusia jauh dari ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas diri. Peringatan hari Kartini seharusnya mampu mengubah pola pikir masyarakat, menjadi pola pikir yang positif. Terutama bagi umat Islam yang sudah terdukung oleh ajaran-ajarannya yang luhur dan suci, baik yang tersurat ataupun tersirat dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
  3. Hari Kartini bukanlah hari Liberalisasi kehidupan terutama kehidupan perempuan. Kita yakin, bukan ini yang diajarkan oleh Kartini, sedikit pun baik yang tersurat maupun tersirat tidak ada dalam kehidupan Kartini. Sungguh suatu pembelokan fakta sejarah Kartini yang menyedihkan, jika peringatan Kartini menjadi identik dengan mengarahkan kehidupan bangsa yang jauh dari nilai-nilai agama, sendi-sendi rumah tangga yang luhur dan kehidupan yang terhiasi ilmu pengetahuan. Peringatan Kartini bukan dengan mengumbar pornografi, kemaksiatan atau kehidupan ala barat yang tidak bertuhan dan tidak sesuai dengan adat ketimuran dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia.

Pemikiran-pemikiran Kartini

Bukti nasionalisme kita kepada negeri ini, atau jika laik disebut sebagai bangsa yang besar, jika kita mampu menghargai para pahlawannya, begitu kata Soekarno presiden pertama negeri ini. Sungguh Kartini dalam zamannya yang masih dalam penjajahan Belanda sudah memiliki pemikiran-pemikiran yang cemerlang dalam mengubah kualitas bangsanya. Adapun pemikiran-pemikiran Kartini yang harus diingat oleh bangsa saat ini adalah sebagai berikut;

1. Masyarakat harus melek ilmu pengetahuan, kejarlah walaupun jauh, raihlah walaupun sangat sulit.

Kalau saja Kartini menyerah oleh tantangan yang ada saat itu, sungguh sangat dimaklumi oleh sejarah. Kartini adalah sosok wanita yang cenderung dianggap lemah dan harus tunduk kepada keadaan. Penjajahan Belanda saat itu yang selalu membatasi masyarakat untuk mengakses ilmu, ilmu pengetahuan khusus bagi kalangan ningrat saja. Adat Jawa yang juga berperan membatasi gerak wanita, bahkan ayah Kartini sendiri sebenarnya ikut berperan membatasi gerak Kartini muda saat itu. Namun inilah sosok kepahlawanan Kartini, yang tidak mau menyerah oleh keadaan, demi meraih ilmu pengetahuan.

2. Masyarakat harus melek Al-Quran

Sebagai seorang wanita muslimah, Kartini sangat menyayangkan kondisi kehidupan masyarakat pada zamannya yang hanya fokus kepada interaksi Al-Quran pada sisi membaca dan menghafal. Al-Quran adalah kitab hidayah yang berisi ilmu pengetahuan, maka jika tidak dikaji dengan baik dan terus menerus, maka Al-Quran tidak akan kelihatan sisi hidayahnya sebagai sumber ilmu pengetahuan yang hakiki dan pasti, karena semua yang ada dalam Al-Quran adalah keniscayaan dan tidak ada keraguan di dalamnya. Adat inilah yang juga tidak luput dari perhatian Kartini dalam masa hidupnya. Tampaknya kondisi ini masih harus menjadi perhatian kita bersama di era modern ini. Masih sangat banyak masyarakat kita yang belum melek Al-Quran.

3. Masyarakat harus melek dan perhatian terhadap agama.

Agama menurut Kartini-karena beliau wanita muslimah, tentu yang dimaksud adalah agama Islam- sangat penting dalam mengawal kehidupan masyarakat. Masyarakat yang religius akan terjaga dari berbagai penyimpangan-penyimpangan seperti dosa kecil apa lagi dosa besar. Agama bagi manusia tidak akan tergantikan oleh pemikiran dan ajaran apapun, karena sumbernya dari Allah sebagai pencipta, maka dengan agama manusia tidak hanya diikat dengan suatu ajaran, namun juga diikat dengan pengatur kehidupan dan peletak aturannya. Dialah Allah Rabbul aalamin. Terutama suatu ketahanan keluarga mustahil diraih oleh manusia tanpa ikatan agama. Cinta saja, seperti yang dipahami oleh umumnya manusia, sangat tidak cukup untuk mempertahankan suatu keluarga, sebagaimana awal pembentukan keluarga dengan agama, yang disebut dengan akad nikah, maka proses pelaksanaannya pun mutlak harus dengan agama. Tanpa agama kehidupan keluarga dan lainnya tidak akan tegak dengan baik.

Inilah kajian komprehensif tentang Kartini, semoga menjadi inspirasi bangsa ini, menuju kehidupan yang sesuai dengan cita-cita Kartini. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Ketua Deputi Kajian Perempuan, Anak dan Keluarga, Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPW PKS DKI Jakarta.

Lihat Juga

Carilah Keutamaan Ramadhan

Organization