Home / Narasi Islam / Sosial / Menjadi Setegar Yusuf AS

Menjadi Setegar Yusuf AS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (henydwi.wordpress.com)
Ilustrasi. (henydwi.wordpress.com)

dakwatuna.com – Setiap manusia pasti merasakan ujian, penderitaan dan berbagai hal yang melahirkan rasa sedih yang kadang bertumpuk, dan berlapis-lapis.

Di antara hal yang bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kesedihan adalah menikmati hiburan, di antaranya, yang banyak dilakukan adalah menikmati kisah yang indah dan menggugah. Nah, Alquran telah menghadirkan kisah terindah yang bisa kita nikmati, yaitu kisah nabi Yusuf alaihi salam.

Ibnu Atho’ bahkan berkata: “Tidaklah seseorang bersedih lalu mendengar surat Yusuf kecuali pasti dia akan merasa lega”. Bahkan ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan kalau surat Yusuf diturunkan sebagai hiburan atas kesedihan Rasulullah yang bertubi-tubi karena mendapat ujian berat saat masih di Mekkah.

Dari kisah ini kita tidak hanya mendapat hiburan untuk menghilangkan kesedihan, tapi sekaligus di dalamnya ada ibroh, hikmah, faidah dan pelajaran yang bermanfaat untuk urusan dunia maupun akhirat, sehingga Allah menyebutnya sebagai kisah terbaik.

Di dalamnya ada kisah persaudaraan, persahabatan, perjuangan menjaga kesucian,  muruah, lapang dada dan puncak maaf, juga kesabaran terdahsyat, yang semuanya membekaskan pelajaran berharga; bahwa setiap ujian itu pasti baik buat kita, asal kita bisa menyikapinya dengan cara yang baik pula.

Mari kita ikuti tahap-demi tahap ujian berat yang dilalui oleh Nabi yang sangat mulia ini, sebagaimana telah dirangkum dalam buku Al-Mushoffa min sifati duat berikut ini:

  1. Upaya pembunuhan

Rencana pembunuhan ini berasal dari orang terdekatnya, yaitu saudara-saudaranya. Dan ini yang menjadikan cobaan ini terasa lebih pahit dan menyakitkan, berbeda dengan misi pembunuhan lain yang biasanya datang dari orang yang paling jauh nasabnya. Adapun saat rencana pembunuhan itu berasal dari saudara laki- laki yang sama-sama keluar dari satu sulbi, pasti ini menambah pedih bagi  yang menanggung ujian ini, terlebih jika sebab upaya pembunuhan ini adalah hal yang sangat sepele, yaitu sesuai dengan klaim mereka, adalah kecintaan  ayah mereka pada Yusuf dan sikapnya yang lebih mengutamakan Yusuf daripada mereka.

Dan kita memperhatikan kelembutan Allah Yang Maha Kuasa pada Yusuf dengan membuat salah satu dari saudaranya berbicara agar kehendak-Nya berjalan dan menjadikan usulan salah satu dari mereka adalah jalan keluar  pertama dari ujian pertama ini:  “Seorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah Dia ke dasar sumur supaya Dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”  (Yusuf: 10).

Akhirnya mereka menyetujui usulan ini dan dengan persekongkolan yang matang, mereka menghadap ayah mereka untuk meyakinkannya agar mengizinkan mereka membawa serta Yusuf untuk pergi tamasya bersama mereka. Dan meskipun Ya’qub ‘alaihissalam bimbang, namun mereka mampu meyakinkannya dan akhirnya merekapun pergi dan Yusuf memasuki sumur sebagai ujian kedua.

  1. Di buang ke dasar sumur

Saudaranya mengusulkan agar Yusuf tidak di bunuh, dan lebih baik di buang ke sumur karena diprediksi akan dipungut oleh rombongan yang melewati tempat tersebut. Tapi sebenarnya ini bukanlah prediksi yang cukup kuat. Karena bisa saja kafilah musafir terlambat melewati sumur tersebut dan Yusuf terancam mati kelaparan. Pemikiran seperti ini bisa saja hadir dalam benak Yusuf, wallahu a’lam.

Dan yang menjadikan ujian ini terasa lebih berat adalah Yusuf kecil menyaksikan sendiri kakak-kakaknya memeganginya dan mereka semua bekerja sama menjebloskannya ke dalam sumur tua, lalu ia menatap mereka pergi berlalu dan membiarkannya seorang diri di padang tandus berdiam diri di kegelapan sumur tanpa seorangpun menemani dan menghiburnya. Hanya ada dinding sumur yang bisu, dan dinginya air di dasar sumur.

Seolah ini adalah dalam rangka mempersiapkannya untuk penjara yang sebenarnya yang Allah takdirkan akan dimasuki oleh Yusuf pada fase-fase ujian yang akan datang dalam kehidupannya.

Kemudian datanglah kemudahan setelah masa sulit dan setelah kesabaran itu pada Yusuf saat dia ditimpa kesendirian yang mematikan dalam sumur itu. Jalan keluar itu berupa kafilah yang memungutnya dari sumur:

Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, Maka Dia menurunkan timbanya, Dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” kemudian mereka Menyembunyikan Dia sebagai barang dagangan. dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yusuf: 19).

Yusuf dikeluarkan dari sumur agar melihat dunia lagi dan telah digariskan agar ia menjalani hidupnya lagi di dunia manusia. Namun keluarnya dari sumur ini merupakan awal dari ujian baru dalam kehidupannya.

  1. Perbudakan

Kafilah musafir itu memungutnya dari sumur dan mereka kagum atas ketampanan Yusuf dan mereka menyangka bahwa ia berasal dari keturunan keluarga yang terhormat, karena itulah mereka khawatir kalau ketahuan dan segera menjualnya sebagai budak dengan harga murah di negeri Mesir:

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, Yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh Jadi Dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut Dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (Yusuf: 20-21).

Yusuf berpindah dari kehidupan merdeka yang dijalaninya bersama kedua orang tuanya, dalam keadaan mulia dan terhormat, yang membuat iri saudaranya menuju kehinaan perbudakan dan kehidupan sebagai hamba sahaya di istana penguasa Mesir. Statusnya sama dengan para budak yang bertugas mengangkut barang berat milik tuannya, membersihkan sampah dan kotoran,  dan melayani kebutuhan dan permintaan yang remeh temeh, diperintah dan harus taat. Dan ini adalah ujian tersendiri yang memerlukan kesabaran.

Dan takkan bisa memahami seperti apa kesengsaraan budak kecuali orang yang mau mendengar keluh kesah mereka atau pernah mengalami kehidupan mereka. Dan cukuplah sebagai penderitaan bagi seorang budak, ia tidak seperti manusia pada umumnya. Tidak diperlakukan sebagai manusia, bahkan seringkali diperlakukan hampir seperti binatang.

  1. Ujian wanita

Yusuf ‘alaihi salam sangat rupawan, dan istri petinggi Mesir tergoda oleh ketampananya meski usia mereka terpaut sangat jauh. Dan wanita ini tak mampu menyembunyikan  jika ia tertawan dan kasmaran, sedangkan ia adalah nyonya dan Yusuf sebagai budak sahaya.  Sampai ketika syahwatnya mencapai puncak, ia menemui Yusuf dan berkata: “Marilah kesini”, setelah menutup semua pintu dan yakin bahwa istana dalam keadaan kosong. Maka Yusuf berkata:

Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Yusuf: 23).

Sesungguhnya seorang wanita tak akan mengucapkan perkataan ini pada seorang laki-laki kecuali ia telah mempersiapkan diri untuk perbuatan tersebut dengan segala kesadaran akan daya tarik yang ia miliki, dan ia melakukan segala trik untuk menggoda orang yang dikehendakinya.

Bisa jadi ia menanggalkan seluruh busananya, atau menampakkan keindahan- keindahan tubuhnya, atau menampakkan bagian tubuh yang bisa membangkitkan syahwat laki-laki dan memakai riasan di wajah dan wawangian di tubuhnya. Sungguh, ujian wanita yang menimpa Yusuf adalah ujian terbesar yang dihadapinya di sepanjang hidupnya.

Dan agar kita bisa mengetahui besarnya ujian ini, kita mesti memahami faktor- faktor yang mendorong seorang  pria berzina dengan wanita. Tak ragu lagi, faktor itu banyak sekali. Dan seringkali adanya satu faktor saja sudah cukup mendorong terjadinya zina, maka bagaimana jadinya jika semua faktor itu terkumpul dalam peristiwa Yusuf dan istri pembesar istana?

Di antara faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya zina adalah:

  • Ketampanan pria

Karena akan mendorongnya untuk melakukan pendekatan pada para wanita karena tertipu dengan ketampanannya. Berbeda dengan yang buruk rupa, yang dari zaman dahulu diketahui bahwa tak akan ada yang tertarik padanya.

  • Ajakan wanita untuk berzina

Dan ini adalah faktor yang paling kuat. Dan faktor ini menjadi dorongan yang kuat ketika permintaan untuk memenuhi syahwat itu itu dilandasi rasa cinta wanita tersebut dan bukan karena alasan harta  atau alasan lainnya. Dan inilah yang terjadi pada Yusuf ‘alaihi salam.

  • Keterasingan

Orang yang terasing tak ada yang mengenalnya, dan ini memudahkannya untuk melakukan praktek zina karena ia jauh dari pengawasan orang-orang yang mengenalnya.

  • Perbudakan

Seorang budak tergadai oleh perintah tuannya, dan ia tak mampu menolak perintah itu karena kewajibannya adalah taat tanpa keraguan, karena ia tak memiliki keputusan sendiri.

  • Masa muda

Yusuf adalah seorang pemuda belia, dan ini adalah faktor utama yang membuat seseorang menerima ajakan zina. Lain halnya orang yang orang yang telah tua renta, yang telah lemah atau hilang syahwatnya.

  • Kesiapan wanita untuk berzina

Faktor ini berbeda dengan ajakannya untuk berzina. Maksudnya di sini adalah wanita tersebut memakai atau melakukan hal-hal yang membuat pria tergoda padanya:

Dan berkata: “Marilah ke sini”. (Yusuf: 23)

  • Menutup semua pintu

Dan ini mengundang rasa aman untuk melakukan perbuatan keji, karena jauh dari pantauan pegawai istana, atau kerabat wanita tersebut: “Dia menutup pintu-pintu”. (Yusuf: 23).

  • Kedudukan dan jabatan

Wanita ini adalah istri perdana mentri di masa raja-raja Firaun.  Dan posisi wanita ini membuatnya mampu menyembunyikan kejahatan meskipun sebenarnya telah terkuak. Dan ini adalah faktor rasa aman yang lain yang bisa mendorong seorang laki-laki melakukannya. Dan faktor ini benar-benar terjadi dalam ujian ini.

  • Suami yang tidak cemburu

Dari rangkaian ayat nampak jelas bahwa suami wanita tadi adalah laki-laki yang tak memiliki rasa cemburu, dan dalilnya adalah firman Allah SWT:

Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf: 25).

Setelah melakukan sidang dan jelas bahwa kebenaran ada di pihak Yusuf ‘alaihi salam, dia hanya mengucapkan pada Yusuf:  “(Hai) Yusuf rahasiakanlah hal ini”. (Yusuf: 29). Dan ia berkata pada istrinya: “dan (kamu Hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu Sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.”. (Yusuf:29).

Dan ini adalah pendorong yang besar untuk perbuatan yang nista sepanjang orang yang seharusnya melarang, dalam hal ini adalah suaminya, justru tidak menentangnya.

  • Ancaman penjara

Manusia kadang menjadi lemah dan terpukul dengan ancaman seperti ini. Dan ini juga termasuk faktor yang efektis dan berpengaruh bagi kebanyakan manusia. Dan wanita yang tengah kasmaran ini mengancam Yusuf di hadapan para wanita masyarakat yang sakit itu, setelah mereka memotong-motong jemari tangan mereka karena tersihir oleh ketampanannya, yang membuat mereka tak percaya kalau itu adalah ketampanan manusia, tapi mereka menyangkanya malaikat, istri perdana mentri itu mengancam dan berkata: “Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina.” (Yusuf: 32).

Banyak kejahatan berbahaya akhirnya bisa dikerjakan karena menggunakan ancaman penjara. Maka bagaimana dengan kejahatan yang dicenderungi dan diminati oleh hawa nafsu, yaitu berzina dengan wanita istana, pemilik kekuasaan dan jabatan.

Faktor-faktor ini semuanya terangkum dalam ujian yang diarungi oleh Yusuf ‘alaihi salam. Dan jika salah satu faktor saja membuat banyak pria berjatuhan, maka bagaimana jika semua faktor tadi terkumpul di hadapan Yusuf?  Inilah hal yang mendekatkan kita pada jenis tsabat atau keteguhan sikap Yusuf ‘alaihi salam, dan memberikan kita bekal sebuah tarbiyah yang orisinil yang dijalani olehnya, karena ia menjadi salah satu sebab keteguhannya.

Karena tak mungkin bisa bersikap teguh dalam suasana seperti ini orang-orang yang membiarkan jiwanya bersenang-senang semaunya, kemudian mengharapkan sikap tsabat. Sekali-kali tidak. Tak akan mampu tegar kecuali siapa yang lelah membina jiwa dan mensucikannya, sehingga Allah Ta’ala meneguhkannya pada kebanyakan ujian dan cobaan.

Dan setelah Yusuf lolos dalam ujian ini, Allah memberikan jalan keluar dan mengeluarkannya dari krisis tersebut, ke tempat yang jauh dari bau istana yang menyebarkan aroma kerusakan, dan kerendahan akhlak. Dan itu setelah ia menyandarkan diri sepenuhnya pada Allah semata, sambil mengakui kelemahan sisi basyariyahnya di hadapan derasnya ujian: “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh”. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Yusuf: 33-34).

Allah mengeluarkannya dari fitnah ujian tersebut dan mengabulkan permohonannya. Akan tetapi untuk membawanya pada jenis ujian yang lain, yaitu ujian penjara: “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”. (Yusuf: 33).

  1. Ujian kurungan penjara

Allah Ta’ala berfirman:

Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu. (Yusuf: 35).

Ketika memasuki penjara yang baginya laksana surga jika dibanding dengan istana yang menjulang itu, Yusuf  ‘alaihi salam tidak melupakan obsesi dan misinya, dan saat itu ada dua pemuda yang menyertainya dalam penjara mempercayai keilmuan yang Allah karuniakan padanya, dan memintanya untuk menafsirkan mimpi keduanya:

“Dan bersama dengan Dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.” dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” berikanlah kepada Kami ta’birnya; Sesungguhnya Kami memandang kamu Termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi)”. (Yusuf: 36).

Yusuf ‘alaihi salam memanfaatkan kepercayaan, kedatangan dan keperluan mereka untuk mengetahui mimpi yang aneh tersebut . Maka iapun memulai menerangkan tentang tauhid pada mereka secara bertahap sebelum menjawab permintaan mereka.

Nabi Yusuf menghabiskan sebagian besar waktu yang ada untuk menerangkan pokok-pokok tauhid dan mengupayakan agar mereka tertarik. Adapun jawaban atas pertanyaan keduanya, tak lebih dari dua statemen:

Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; Adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).”. (Yusuf: 41).

Sesungguhnya hal terberat yang menimpa orang–orang yang dipenjara adalah terputusnya mereka dari peristiwa di luar penjara, dari keluarga dan anak-anak, serta peristiwa yang terjadi setiap hari.

Dan lebih berat dari itu adalah saat seseorang masuk penjara sedang ia bebas dari dosa, dan ia tak dipedulikan di sana, tak seorangpun dari mereka yang ada di luar menaruh perhatian bahwa di sana ada manusia yang hidup di penjara. Dan lebih pedih lagi, bahwa orang yang di penjara tadi tak memiliki kekuasaan atas dirinya mengenai kapan pergi, dan kembali, apa yang dikonsumsi, atau apakah tetap di tempat itu ataukah yang lain.

  1. Perpanjangan masa kurungan

Sesungguhnya orang yang di penjara dan ia mengetahui kapan bisa keluar, dan kapan masa penahanan itu berakhir, tidak akan mengalami apa yang dirasakan oleh nara pidana yang tak mengetahui kapan berakhir masa tahanannya, dan tak pernah dikatakan padanya kapan akan keluar. Setiap hari ia terus menunggu-nunggu, dan setiap hari berlalu seperti sebelumnya tanpa ada kepastian kapan akan berakhir, yang menjadikannya tertimpa ujian psikologis yang terus- menerus, terutama jika penahanan itu berlangsung lama tanpa ada seorangpun yang menyadari hal itu. Dan inilah yang terjadi pada Yusuf ‘alaihi salam, maka ia berpesan pada salah satu dari kedua temannya yang menurut prediksinya akan selamat: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.”. (Yusuf: 42).

Akan tetapi setan menjadikan pria tersebut lupa untuk menceritakan kondisi Yusuf yang terdzalimi pada tuannya, dan sikap lupanya menyebabkan bertambahnya masa tahanannya: “Karena itu tetaplah Dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya”. (Yusuf: 42).

Dan tak seorangun mengingatnya kecuali setelah raja memerlukan orang yang bisa menafsirkan mimpinya. Saat itulah pria itu mengingat temannya, Yusuf ‘alaihi salam dan ia menceritakannya pada raja. Namun prinsip Yusuf yang orisinil menolak untuk keluar dari penjara dengan cara seperti ini, dan ia menolak bebas dari penjara namun dengan tuduhan zina masih melekat padanya, hingga diumumkan secara resmi di hadapan khalayak ramai siapa pendosa yang sebenarnya, dan diumumkan pula bahwa ia bersih dan tak bersalah.  Nabi Yusuf menjawab ajakan utusan raja dengan penolakan, tak terpengaruh dengan gelapnya penjara dan deritanya, serta lamanya ia mendekam di sana:

“Kembalilah kepada tuanmu dan Tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. (Yusuf: 50).

Dan ketika raja bertanya pada para wanita tersebut dan merekonstruksi rincian peristiwa kriminal itu bersama mereka yang hadir dan berperan dalam peristiwanya, sang pendosa mengaku: “Mereka berkata: “Maha sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar.”. (Yusuf: 51).

Hanya saat itu saja ia ridha untuk keluar secara terhormat, bersih, dan bukan sebagai pesakitan yang bebas karena kemuliaan sang raja dan keperluannya pada Yusuf. Namun ia keluar menuju ujian lain yang para tokoh sekalipun hanya sedikit yang mampu bertahan, yaitu:

  1. Ujian jabatan

Tak diragukan lagi bahwa ujian jabatan termasuk ujian terbesar yang mungkin menimpa para dai. Dan disini Yusuf ‘alaihi salam meminta jabatan bukan karena cinta jabatan, namun karana ia tahu di sana tak ada orang yang lebih kompeten darinya. Dan ia tahu bahwa meninggalkan urusan ini berarti meninggalkan tanggungjawab seorang dai yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan manusia, jika ia memiliki kemampuan untuk itu.

Adapun jika ia tahu bahwa ada orang lain yang lebih kapabel dari dirinya, maka yang lebih utama adalah besikap zuhud atas jabatan, karena kecintaanya pada hal ini tidak lain merupakan bentuk dari kecintaan pada dunia. Bahkan Al-Qosim bin Ustman al-Jau’i menganggapnya sebagai bagian dari dosa – dosa yang membinasakan, dengan berkata: “Cinta kepemimpinan adalah pokok segala yang membinasakan”.

Orang-orang yang rakus menyongsong jabatan dan kepemimpinan, Allah haramkan atasnya kelezatan iman dan kekhusyuan. Karena hatinya tertambat dengan selain akhirat. Dan inilah yang diisyaratkan oleh Abu Ja’far al-Muhauli ketika berkata: “Haram bagi jiwa yang di dalamnya ada kecintaan menjadi pemimpin manusia untuk merasakan manisnya akhirat”.

Namun Yusuf ‘alaihi salam tidak termasuk dalam golongan  yang rakus pada dunia ini. Bahkan hatinya tertambat dengan akherat. Ujian jabatan tak mengoncangnya untuk tetap berserah diri pada Allah, menjaga adab di hadapan-Nya, dan mengakui kenikmatan-Nya. inilah dia berkata di akhir petualangannya, setelah Allah mengumpulkan ayah dan saudaranya untuknya di negeri Mesir:

Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (Yusuf: 101).

Sayyid Qutb berkata: “Dan begitulah, nama besar dan kekuasaan tertutupi. Dan kegembiraan karena perjumpaan dan pertemuan dengan keluarga dan kebersamaan dengan saudara juga menghilang. Dan muncullah episode terakhir, episode seorang hamba yang memohon pada Rabbnya agar dijaga keislamannya hingga ajal menjemputnya, dan agar dipertemukan dengan orang-orang shaleh di haribaan-Nya. Ini adalah kesuksesan mutlak dalam ujian akhir”. (Fi Dhilali al-Qur’an: 4/ 2030).

Dari sela-sela ujian yang dilewati Yusuf, jelas bahwa jalan keluar setelah masa- masa sulit itu didahului oleh keteguhan pada prinsip. Kadang jalan keluar itu merupakan hadiah dari keteguhan itu. Atau bisa jadi jalan keluar itu sendiri merupakan ujian lain yang dengannya Allah menguji keteguhan hamba-Nya di waktu datang kemudahan. Dan betapa banyak dai yang teguh di saat datang ujian dan kesulitan, namun ketika datang kemudahan, jalan keluar, dan kejayaan, iapun berpaling dari sikap yang sungguh-sungguh dan menjauh dari barisan dakwah.

Dan pelajaran dari kisah ini adalah:

  • Pertama: Kadar cobaan sesuai dengan kadar kedekatan seseorang pada Allah
  • Kedua: Cobaan kadang terjadi karena menjauh dari Allah pada salah satu makna ubudiyah, meski hanya sedikit.
  • Ketiga: Bahwa setiap cobaan disertai rahmat dari Allah SWT.
  • Keempat: Jalan keluar setelah kesulitan di dahului oleh sikap teguh pada manhaj.

Seberat apapun beban ujian yang menimpa, pasti hanya sepersekian dari ujian yang telah dipikul oleh nabi Yusuf kita. Dan meski kita tak sesabar dan setegar Nabi mulia ini, setidaknya kita pasti mampu memerankan berbagai episode kehidupan kita dengan indah dengan mencermati dan meneladani kisah spektakuler beliau.

Semoga Allah selalu meneguhkan hati kita, dan melepaskan beban yang membebani punggung serta menghilangkan duka kita. Amin.

Wallahu a’lam.

Sumber: Tafsir Al-Baghowi, Al-Mushoffa min shifat ad-Du’at, Syekh Al-Bilali.

(dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Pengajar dan penerjemah yang memiliki minat pada issu seputar wanita dan pendidikan.

Lihat Juga

Ujian yang Datang Beruntun Tanpa Henti, Mungkinkah Azab?

Figure
Organization