Home / Narasi Islam / Sejarah / Abu Hurairah Digugat?

Abu Hurairah Digugat?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Di antara para sahabat perawi hadis, Abu Hurairah merupakan perawi yang paling banyak dijadikan sandaran awal periwayatan (tingkatan sahabat) dalam kutub al-tis’ah (9 kitab hadis primer) dengan jumlah 8740 hadis dari jumlah keseluruhan yang mencapai 62.169 hadis. Jika dikonversi maka jumlah hadisnya berkisar 1/7 atau 14.05 % dari jumlah hadis secara keseluruhan (Buhindi: 2002). Ini merupakan angka yang sangat fantastis, selain karena jumlah yang besar faktor kebersamaannya bersama Rasulullah yang relatif singkat juga menjadikan capaian ini menjadi luar biasa.

Hal inilah yang kemudian menjadi motivasi para sarjana hadis kontemporer untuk mengkajinya. Katakanlah seperti Mahmud Abu Rayyah, dalam karyanya Adlwa’ ‘ala as-Sunnah al-Muhammadiyah beliau sangat gencar mengkritik konsep ‘adalatu al-shahabah (keadilah sahabat). Abu Hurairah termasuk yang menjadi objek sasaran kritiknya, antara lain karena jumlah periwayatannya.

Ia meragukan Abu Hurairah karena dalam waktu sesingkat itu membersamai Rasulullah, lebih kurang tiga tahun, dapat meriwayatkan hadits lebih banyak dibanding para sahabat lain yang masuk Islamnya lebih dahulu dari pada Abu Hurairah. Selain Mahmud Abu Rayyah, adalah Musthafa Buhindi juga ikut andil dalam meragukan kredibilitas Abu Hurairah dalam periwayatan hadis. Tidak jauh berbeda, kritiknya tidak terlepas dari jumlah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Dalam ranah Islamic studies terutama dalam bidang studi ilmu hadis, sosok Mustafa Buhindi tidak atau belum cukup terkenal, khususnya di Nusantara. Ia merupakan seorang dosen studi perbandingan agama di Universitas Hassan II, Casablanca, Maroko. Ia sempat populer di Maroko karena pemikiran-pemikirannya yang cukup kontroversial.

Ada beberapa gagasan yang diutarakannya yang sempat membuat publik terhenyak. Diantaranya ia menafikan kema’suman para nabi. Karena menurutnya para Nabi tidak berbeda dengan manusia lainnya yang punya kesalahan manusiawi, selain itu, ia beranggapan bahwa bahasa Alquran bukanlah suatu mukjizat, bahasa Alquran adalah bahasa arab biasa. Kemudian, ia juga menilai Abu Hurairah sebagai pendusta, hadis-hadisnya tidak benar dan ia bukanlah seorang sahabat (Faizah: 2014).

Dalam kitab Aktsara Abu Hurairah, Mustafa Buhindi hanya menfokuskan kritiknya kepada Abu Hurairah. Bisa dikatakan kitab ini merupakan kitab rijal al-hadis, ia membahas tentang seluk beluk Abu Hurairah baik dari aspek kesejarahan maupun dari segi kredibilitasnnya. Seperti pembahasan tentang banyaknya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Dalam pengkajiannya terhadap Abu Hurairah, Buhindi sering menukilkan riwayat-riwayat dari kitab hadis. Walaupun begitu, tidak jelas persis metode apa yang sedang digunakan dalam penulisannya. Karena memang metode dan sistematika penulisannya tidak seperti kitab-kitab pada umumnya.

Hafalan tak terlupakan

Salah satu sasaran pembahasan yang dilakukan oleh Mustafa Buhindi adalah tentang hadis nabi yang memberikan kekuatan hafalan kepada Abu Hurairah. Tentang keistimewaan Abu Hurairah ini, Buhindi sangat gencar mengkritik keabsahan hadis tersebut. Tercatat ada 11 hadis yang dinukil oleh Buhindi, 6 riwayat Bukhari, 2 riwayat Muslim dan 3 riwayat Ahmad

Dalam tulisan ini penulis hanya menyertakan 2 hadis yang dinukilkan oleh Buhindi melalui riwayat Bukhari, yaitu HR. Bukhari nomor 115 dan nomor 116. Adapun hadisnya sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah berkata: “sesungguhnya orang-orang mengatakan “sesungguhnya Abu Hurairah adalah yang paling banyak meriwayatkan hadis”, kalau bukan karena dua ayat dalam kitabullah aku tidak akan menyampaikannya.” Lalu dia membaca ayat (sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa penjelasan dan petunjuk) hingga akhir ayat (Q.S. Al-Baqarah 159-160). Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan muhajirin, mereka disibukkan dengan perdagangan di pasar-pasar dan saudara kita dari kalangan anshar, mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dalam mengurs harta mereka. Sementara Abu Hurairah selalu menyertai Rasulullah SAW dalam keadaan lapar, ia selalu hadir saat orang-orang tidak bisa hadir, dan ia dapat hafal saat orang-orang lain tak bisa menghafalnya. (HR Bukhari 115)

Dari Abu Hurairah berkata: “aku berkata, “wahai rasulullah, aku telah mendengar dari tuan banyak hadis namun aku lupa”. Beliau lalu bersabda: hamparkanlah selendangmu. Maka aku menghamparkannya, beliau lalu (seolah) menciduk sesuatu dengan tangannya, lalu bersabda: “Ambillah”. Akupun mengambilnya, maka sejak itu aku tidak pernah lupa lagi.” (HR Bukhari 116)

Buhindi berpendapat bahwa hadis-hadis tentang mukjizat nabi yang menganugerahkan kekuatan hafalan kepada Abu Hurairah hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah seorang diri dan tidak memiliki landasan pijakan yang kuat. Tidak ada dari kalangan sahabat lain yang meriwayatkan hal yang sama seperti ini sehingga patut dipertanyakan keabsahannya.

Bagi Buhindi, adalah sebuah kejanggalan ketika hadis yang menyampaikan tentang keunggulan Abu Hurairah namun sumber dan informan awalnya berasal dari Abu Hurairah sendiri. Hal inilah yang kemudian menjadikan Buhindi menolak keabsahan hadis ini bahkan sampai kredibilitas seorang Abu Hurairah.

Apa yang dilakukan oleh Buhindi bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya, kritik tentang konsep ‘adalatu al-sahabah (keadilan para sahabat) juga telah dilakukan oleh para sarjana hadis kontemporer. Ahmad Amin, Mahmud Abu Rayyah dkk juga telah melakukan hal yang sama. Menurut mereka, anggapan bahwa semua sahabat itu adil perlu dikaji ulang, karena para sahabat juga merupakan manusia, manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan.

Penolakan tentang konsep keadilan sahabat ini kemudian dikritik oleh Mustafa Al-Siba’i. Menurutnya para shahabat tidak pernah mereka-reka hadits nabi dan hal itu tidak mungkin mereka lakukan. Banyak riwayat yang mengatakan bahwa para shahabat adalah orang-orang yang pemberani dalam menegakkan kebenaran, mereka juga tidak akan tinggal diam terhadap orang yang berbohong mengenai Rasulullah SAW.

Mereka sangat ingin menggambarkan segala sesuatu tentang Nabi Muhammad dengan benar, bahkan sampai menghitung jumlah uban dijenggotnya. Semua ini ditujukan untuk menyatakan bahwa al-kidzb tidak terjadi dikalangan para sahabat. Begitu juga tentang kredibilitas Abu Hurairah yang meriwayatkan banyak hadis. Permasalahan mengenai iktsar al-hadits, al-Siba’i tidak menunjukkan adanya kecurigaan sedikitpun. Ia menganggap hal ini sebagai sebuah keajaiban yang dianugerahkan Allah kepada seseorang. (Makmun (ed):179-180)

Dalam pandangan penulis, untuk memahami pandangan-pandangan ini perlu dilakukan kajian yang mendalam. Dalam tulisan ini penulis tidak menggiring dan memaksa para pembaca untuk mengikuti pandangan yang telah dipaparkan oleh Mustafa Buhindi ataupun sebaliknya. Tidak etis rasanya kita harus memilih satu diantara dua jalan ini secara tergesa-gesa karena konsekuensinya sangat besar.

Menggugat krebilitas Abu Hurairah sebagai perawi yang tsiqah maka secara tidak langsung juga menolak sekitar seribuan hadis yang terdapat dalam kitab Sahih Bukhari. Pilihan yang cukup berat, bukan? Maka dari itu, tulisan ini hanya berupa perangsang untuk memicu adrenalin pembaca untuk melakukan kajian yang lebih kritis dan serius.

Harapannya, dari kajian yang serius itu dapat meletakkan Abu Hurairah pada posisi yang tepat dan benar. Semoga dengan memahami suatu permasalahan secara mendasar dan komprehensif dapat membantu dalam menyikapi suatu persoalan dengan lebih bijak dan adil.

Wallahu a’lamu bi al-shawab. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa aktif Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. selain aktif di organisasi pergerakan muslim di Yogyakarta, ia juga seorang peminat dan penikmat sastra, seni dan budaya.

Lihat Juga

Menyibak Rahasia Kesuksesan Ala Hadits Nabi tentang Pentingnya Ilmu, Ulama, dan Adab

Organization