al-quran solusidakwatuna.com – Pembahasan disertasi yang ditulis oleh Aksin Wijaya, “Arah Baru Studi ‘Ulumul Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya,” ia menuturkan bahwa tidak mungkin firman Allah SWT yang diturunkan ke dunia seluruhnya utuh dengan sempurna. Ia menambahkan bahwa istilah wahyu, Al Quran, dan Mushaf Utsmani harus dipahami secara berbeda. Substansi wahyu, Al Quran, dan Mushaf Utsmani tidak sepenuhnya sama. Wahyu Allah SWT bisa dikatakan murni merupakan firman-Nya yang turun dari langit. Namun, tidak berlaku bagi Al Quran yang pada zaman Nabi Muhammad SAW masih dalam bentuk oral dan Mushaf Utsmani yang sudah dibukukan. Al Quran memiliki kandungan 50% kemurnian firman Allah SWT. Sedangkan Mushaf Utsmani memiliki kandungan 30% kemurnian firman Allah SWT.

Inilah salah satu upaya dekonstruksi wahyu yang dilancarkan orang-orang liberal. Daya nalar berlandaskan teori hermeneutika sudah berhasil masuk ke dalam perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Tidak sedikit para dosen dan mahasiswa yang menjadi pengagum teori Hermeneutika ini yang pada mulanya digunakan untuk menafsirkan Bible di Barat. Saat ini banyak sekali bermunculan makalah-makalah tentang studi ilmu Al Quran yang menjadikan teori Hermeneutika sebagai landasannya. Ini merupakan upaya dekonstruksi wahyu yang sangat berbahaya.

Komaruddin Hidayat, penulis buku pertama tentang teori Hermeneutika, “Menafsirkan Kehendak Tuhan,” menyatakan bahwa tidak ada permasalahan tentang keabsahan Al Quran sebagai wahyu Allah SWT. Namun, setelah wahyu Allah SWT diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk bahasa Arab, maka dapat dipastikan terdapat campur tangan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya dalam kandungan isi Al Quran. Apalagi ketika pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan akhirnya dibuat kebijakan untuk menyeragamkan semua mushaf yang tersebar di kalangan umat Islam saat itu dengan cara pembakaran mushaf-mushaf selain Mushaf Utsmani. Bang Komeng, sapaan Komaruddin Hidayat, menjadikan tolak ukur kebahasaan sebagai landasan argumennya bahwa Al Quran yang diketahui umat Islam saat ini tidak murni. Jadi, karena Al Quran berbahasa Arab, maka Al Quran merupakan produk buatan Nabi Muhammad SAW dan bangsa Arab.

Filsafat Hermeneutika inilah yang menjadi sebab utama mengapa banyak sekali orang-orang yang dikatakan cendekiawan Muslim melakukan upaya-upaya dekonstruksi wahyu. Teori Hermeneutika menjadikan bahasa sebagai pijakan utama dalam menafsirkan wahyu Tuhan. Senjata orang-orang pengagum teori Hermeneutika adalah “Kalau sesuatu berbahasa, maka dapat dipastikan hal itu produk buatan manusia.”

Sebenarnya apa itu Hermeneutika? Hermeneutika merupakan sebuah teori penafsiran yang berangkat dari keyakinan bahwa Al Quran adalah teks buatan manusia. Al Quran bukan kalam Allah SWT secara verbatim, tetapi interpretasi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya terhadap kalam Allah SWT sehingga menghasilkan Al Quran yang berbahasa Arab.

Karena Al Quran berbahasa Arab, maka terdapat konsekuensi yang harus dilakukan. Pertama, mengkritisi (dengan liar) motif dari lahirnya teks Al Quran. Baik secara psikologis, sosiologis, politis, maupun biologis. Kedua, mengkritisi kesesuaian Al Quran dengan zaman sehingga semakin zaman berkembang kandungan Al Quran semakin tidak bersesuaian dengan kondisi zaman.

Munculnya teori Hermeneutika di kalangan Barat disebabkan konsep ilmu yang dianut orang-orang Barat berbeda dengan konsep ilmu yang diajarkan oleh Islam. Selain itu sebab utama yang menjadikan teori Hermeneutika digaungi oleh banyak orang karena teori ini diterima oleh semua kalangan dan dapat diterapkan oleh siapa pun. Sedangkan penafsiran klasik terhadap Al Quran hanya dapat dilakukan oleh para ulama yang notabene juga memiliki otoritas keagamaan. Dalam Islam, pembicaraan terkait agama tidak serta merta dapat dilakukan setiap orang. Ada tingkatan kefaqihan ilmu agama yang dimiliki oleh masing-masing Muslim.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang Muslim memahami tentang konsep wahyu dalam Islam. Wahyu Allah SWT adalah tanzil, diturunkan langsung kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Jibril as. Apa yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah murni sebagai firman Allah SWT. Tidak dialih bahasakan oleh Jibril as. atau Nabi Muhammad SAW satu pun. Firman Allah SWT juga sudah dari asalnya berbahasa Arab sehingga menjadikan firman Allah SWT, Al Quran, dan mushaf Utsmani merupakan kesatuan hakikat yang berbahasa Arab. Walaupun Al Quran itu berbahasa Arab, firman Allah SWT dalam Al Quran bukanlah “bahasa” Nabi Muhammad SAW. Substansi yang terkandung dalam Al Quran hampir secara keseluruhan di luar dis kursus bangsa Arab saat itu sehingga tidak mungkin di dalam kandungan Al Quran terdapat campur tangan manusia. (dakwatuna.com/hdn)