Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Sebuah Nama

Sebuah Nama

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donna.fanpage.it)
Ilustrasi (donna.fanpage.it)

dakwatuna.com – Akhirnya, saat yang kunanti tiba juga. Kupandangi diriku di cermin, tak seperti biasanya. Riasan wajah ini begitu serasi dengan dress putih yang kukenakan saat ini. Rona bahagia itu tergurat jelas di depan mataku. Ya, di cermin itu.

Hari ini mungkin adalah hari yang dinanti oleh setiap gadis di bumi ini. Hari di mana akan ada seorang lelaki yang akan membawanya ke dunia yang baru. Dunia yang berbeda dari sebelumnya. Hari ini, adalah hari di mana seorang ayah akan melepaskan putrinya untuk dititipkan pada seorang pria yang sudah datang meminang. Ya, hari ini aku lah gadis yang tengah berbahagia itu.

Degub jantungku berbunyi. Nadanya seakan bisa kudengar oleh telingaku sendiri. Dari luar kamar, kudengar suara-suara yang kukenal memanggil-manggil namaku. Mereka memintaku untuk segera keluar. Aku beranjak dari tempatku berdiri, berjalan menuju pintu yang menjadi batas antara aku dan masa depanku.

Aku melangkah malu-malu, menyusuri satu per satu anak tangga hingga menapaki lantai pertama rumah ini. Kurasakan semua mata tertuju padaku. Ah, aku tak berani memandang ke arah di mana prosesi akad itu akan digelar. Tapi aku tahu, semua sudah menunggu kehadiranku.

***

Aku duduk berjarak dari dia yang telah menggenggam erat tangan ayahku. Bersiap mengucap janji suci, menghalalkan aku. Entah apa yang ada di hati dan pikirannya kini. Yang pasti, aku benar-benar merasa begitu gugup. Apa dia merasakan hal yang sama? Ah, entahlah.

Hampir seluruh keluarga dan kerabat kami sudah hadir di rumah ini. Beberapa sahabat dekat kami pun juga tak ingin ketinggalan prosesi bahagia ini. Lagi, sesaat lagi. Dia yang ku cinta, resmi menjadi imamku.

***

“Saya terima nikahnya Anggriani Syafitri dengan mahar tersebut tunai.”

Pasti. Ucapnya begitu tegas dan lugas. Ia menjawab kalimat ijab dari ayahku. Tak ada keraguan. Kalimat qabul itu ia lisankan dengan mantap dengan satu tarikan nafas. Kalimat yang justru seakan membuat nafasku berhenti. Walau dalam kegugupan yang teramat sangat, aku yakin benar atas apa yang aku dengar. Ijab qabul itu telah tertunaikan.

***

Air mataku menitik. Satu.. dua.. dan tak mampu aku bendung lagi. Semua yang hadir terdiam. Bisu. Sunyi. Tak ada pertanyaan dari sang penghulu apakah ijab dan qobul ini sah atau tidak. Para saksi pun juga tak mampu berkata-kata. Mereka pun terdiam.

Aku.. aku tak mampu menahan perih di hati ini. Aku tak mampu mengangkat wajahku walau barang sedetik untuk melihat dia yang ada di sana. Yang baru saja menyebut sebuah nama dalam bait qabulnya. Tapi nama itu, bukan namaku.

Aku kuatkan kakiku untuk berdiri. Kukuatkan pula pandanganku mengarah kepadanya. Ku lihat ia tertunduk. Entah apa yang ada di benaknya. Ingin sekali aku berlari dari tempatku berpijak. Namun aku menguatkan diri untuk bertahan. Menunggu, menunggu agar lelaki itu mengarahkan pandang matanya ke arahku.

Beruntung, arah pandangnya kini tertuju padaku. Aku ingin ia melihat air mataku ini dan mengerti, bahwa luka yang ia goreskan di hatiku ini begitu perih. Begitu sakit.

Aku berlalu dari kebisuan yang melanda dan tanda tanya yang ada di benak mereka yang ada.

Mengapa mempelai pria bukan menyebut nama mempelai wanita, Kania Azzahra? Siapa itu Anggriani Syafitri?

***

“Nia, kamu yakin dengan pilihanmu?”

“Aku yakin, Ratih. Aku sudah Istikharah. Aku mantap dengan pilihanku.”

“Bagaimana bisa kamu seyakin itu?”

“Ini jawaban hasil istikharahku, Ratih. Ini pilihan dari Allah.”

“Tapi Nia, kamu sudah mempunyai kecenderungan terlebih dulu kepadanya. Bagaimana kamu bisa seyakin itu jika pilihanmu ini adalah dari Allah?”

“Ratih, kamu ini sahabatku atau bukan sih? Kenapa kamu tidak mendukung keputusanku? Kamu tahu seberapa besar cintaku padanya. Harusnya kamu mengerti.”

“Nia, aku bukan hanya sahabatmu. Aku saudarimu. Aku tak ingin kamu menyesal pada akhirnya.”

“Kamu mendoakan sesuatu yang buruk terjadi padaku?”

“Tidak Nia, aku hanya mencoba mengingatkan mu. Kita tahu betul siapa lelaki itu.”

“Tapi, kita tidak boleh menjudge seseorang dari masa lalunya.”

“Iya, kamu benar Nia. Tapi tak bisakah kamu memahami alurnya? Cara yang ia gunakan untuk mendekatimu, tak berbeda jauh dengan cara ia mendekati perempuan itu. Dan kalian sudah berkomitmen sebelum pernikahan. Bedanya, perempuan itu berhenti menunggu karena akhirnya ia tahu bahwa di saat ia menjalin hubungan dengan lelaki itu, lelaki itu justru tengah berusaha mendekatimu.”

“Kamu menuduhku sebagai pihak ketiga di antara mereka?”

“Tidak, bukan itu maksudku. Nia, mengertilah. Coba pikirkan olehmu. Apa yang terjadi di antara kalian itu salah. Aku tak membenarkan hubungan mereka, juga hubunganmu. Tapi aku membenarkan sikap perempuan itu yang pada akhirnya memilih memutuskan hubungan di antara mereka. Apa kamu yakin, di hati dan pikiran lelaki itu benar sudah tidak ada lagi nama perempuan tersebut?”

***

Aku hanya mampu terisak sendiri di kamar ini. Kamar yang tadinya kupikir akan menjadi saksi bisu bahwa ketakutan Ratih tidaklah benar. Namun ternyata itu hanya ada dalam pikirku. Kenyataannya, aku seperti menelan pil pahit atas kebodohanku sendiri. Aku dibutakan cinta. Cinta kepada dia yang kupikir adalah orang yang tepat untuk mengimamiku, mengarungi bahtera rumah tangga yang begitu kudamba.

Aku hanya mampu terisak sendiri di kamar ini. Kamar yang menjadi saksi bahwa di setiap sujud panjangku, tak pernah lupa kusebutkan namanya. Meminta dia kepada Dia sang penguasa hati. Tapi apa yang terjadi padaku kini?

Aku hanyalah seorang tunacinta. Rela menanggalkan izzah sebagai muslimah, hanya agar bisa dinikahi oleh lelaki pujaan hati. Lelaki yang ketika namanya ku dengar, mampu membuat degub jantungku berdebar.

Aku hanyalah seorang tunacinta. Kuabaikan kecemburuan Rabb-ku. Kuabaikan ilmu ku tentang hakikat hubungan lawan jenis. Ku abaikan nasehat yang pernah kuutarakan kepada binaanku, bahwa tiada yang namanya komitmen sebelum pernikahan. Kuabaikan nasehat dari murrobiahku. Kuabaikan semua yang aku tahu tentang; HIJAB!

***

Aku berharap ini hanyalah mimpi.. mimpi yang buruk… tapi kenyataannya, aku harus terjaga. Dan benar, ini nyata. Bahwa bukan namaku yang disebutnya dalam ijab qabul, tadi itu. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Tsurayya Zahirah
Ibu dari dua orang anak, Haitsam dan Tsania. Hobi menulis. Buku pertama berjudul Menjadi Princess Tanpa Mahkota. Pecinta rasa vanilla dan coklat.

Lihat Juga

Bukan Mau tapi Siap, Inilah 4 Hal yang Wajib Dilakukan Muslimah Sebelum Menikah

Figure
Organization