Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Ternyata, Allah Lebih Mencintainya

Ternyata, Allah Lebih Mencintainya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.com – Air mata ini seolah tak dapat dibendung ketika mulutnya melantunkan ayat suci Alquran, kusandarkan kepalanya di pangkuanku, dengan aliran darah yang mengalir dari mulutnya,disertai bercakan darah yang mengenai kerudung putihnya, Ia mengaji, ia melantunkan ayat suci itu dengan terbata-bata, ia menatapku lirih dan berlinang. Ya .. Allah aku tak sanggup. Segera aku membopongnya menuju mobilku yang terparkir rapi diparkiran taman.

Tak pernah aku membayangkan jika harus Istriku yang menjadi korban tabrak lari ini, aku tak menghiraukan dan memperdulikan orang yang mungkin tanpa sengaja menabrak istriku, kini yang terpenting aku mencoba untuk menyelamatkan istriku. Urusan hidup atau mati Allah yang lebih tahu.

Pertemuan itu bukanlah sekadar pertemuan biasa, Allah telah merencanakan atas pertemuanku dengannya. Dengan seorang wanita yang bergabung dalam komunitas Cosplay manga jepang. Ketika orang melihatnya, pasti mengira jika dia bukan orang Indonesia asli, wajahnya yang mungil, matanya yang bulat dan bibirnya yang mungil tipis menggambarkan dia keturunan jepang. Aku pernah berbicara dengannya. Ketika temanku mengenalkan ia kepadaku, aku pikir memang ia orang jepang asli yang sengaja datang ke acara ini, namun temanku bilang dia hanya numpang lahir di Jepang dan lama di Indonesia. Ayahnya asal Jepang dan Ibunya asal Jawa. Miyu namanya, seorang wanita yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. Mempunyai pesona tersendiri dari wanita-wanita lainnya. Namun, ketika aku memutuskan untuk melanjutkan studyku di Palangkaraya, aku tak pernah lagi bertemu dengannya, aku tak pernah lagi melihat ia memerankan anime-anime yang cocok dengan karakternya.

Lagi dan lagi Allah telah merencanakan hal yang tanpa aku pikirkan sebelumnya. Allah telah menjerumuskanku ke dalam jamaah yang membuatku mengerti indahnya Islam. Ya.. aku temukan cintaku di dalam jamaah itu, Cinta kepada kebenaran Allah. Aku bergabung di Rohis tingkat Universitas, dan aku sedang diamanahi sebagai Kepala Departemen Kaderisasi, amanah yang tanpa kuminta Allah telah memberikannya, Allah mempercayaiku mengemban amanah ini.

Ketika masa bergantinya tahun ajaran, ini adalah musim pengkaderan, ladang dakwah ini begitu luas, kelak ketika di akhirat aku akan mendapatkan hasil sesuai dengan keihklasanku bekerja di ladang ini.

Alvi, itulah namaku, nama yang diberikan oleh Ayahku, yang kini telah tiada, seorang Ayah yang bagiku sangat luar biasa, beliau mengajariku banyak hal, terutama dengan suatu keikhlasan, di mana hanya diri pribadi dan Allah yang bisa mengetahui hal itu. Ayah yang tak pernah lelahnya memberikan rasa cintanya kepadaku dan Ibu, dan Ibu adalah sosok wanita yang penuh kesabaran dan kasih sayang pula.

Ayah.. Ibu.. semoga amal-amal kalian dengan mendidikku selalu mengalir sebagai amal kebaikan. Aku mencintai kalian karena Allah.

***

“Vi, gileee.. ada orang jepang juga bro yang daftar di Universitas ini!” tukas Ado kepadaku sambil memukul pelan bahu kananku.

“Ngawur.. nggak mungkinlah!” tukasku sambil menurunkan tangan Ado yang masih menempel di pundakku.

“Serius Vi, waktu aku di depan gerbang tadi sempat salipan!” tukasnya menyakinkan aku.

“Mungkin anaknya Prof. Kaito!”

“Tapi imut banget Vi,,” tukas Ado lagi sambil memegang kedua bahuku dan menggoyangkan sedikit, aku yang bingung keheranan melihat tingkah Ado.

“Lebay deh!” ucapku memelankan suaraku,

“Alvi….” Sergah Ado sambil menempelkan jari tunjuknya di depan bibirku, selayaknya di drama korea. Sambil menatapku tajam.

“Bugh!” tanpa sengaja buku yang cukup lumayan tebal yang dari tadi kupegang dengan tangan kananku singgah di kepala Ado, sehingga Ado kaget dan mengaduh, memegangi kepalanya. Sehingga teman-teman yang didekat kami berdua tertawa geli dengan tingkah dan kelakuan kami.

“Resek deh,, cuman bercanda doang!” tukasnya sambil berlalu meninggalkanku.

Ado, seorang teman dekatku yang menurutku lebay, tapi dia humoris, tak pernah sedikitpun ia menampakan wajah cemberutnya, ia seorang teman yang begitu ceria. Namun aku belum bisa mengajaknya masuk kedalam jamaah yang kunaungi. Allah belum meliriknya.

Aku sengaja ke BAAK untuk mencari mangsa pagi ini, kulirik jam tangan hadiah dari almarhum Ayahku, masih menunjukkan pukul 8.00 WIB, ini saatnya tugasku.

Pandanganku tertuju kepada Mahasiswa baru yang mengerubuti pusat informasi, mereka berdesak-desakkan seperti halnya aku dua tahun yang lalu. Tidak ada yang kukenal kala itu, berada di sini tereasa asing. Namun Allah selalu menolongku, Allah kirimkan kakak-kakak yang membantuku dengan ikhlas, dan sekarang aku menggantikan posisi para kakak yang telah membantuku dua tahun yang lalu. Aku masih memperhatikan para mahasiswa baru yang sedang bergerombol ria meminta mengantarkan persyratan penerimaan UKT.

Pandanganku tak luput pada seorang wanita yang menguncir sedikit rambutnya, dengan poni yang hampir menutup matanya. tak sengaja pula ia menatapku, ia melambaikan tangannya kepadaku, ah bukan.. kotoleh kebelakangku, tak ada orang yang memperhatikan aku, sudah pasti ia melambaikan tangannya kepadaku.

“Kak Alvi?” panggilnya sambil tetap melambaikan tangan. Ia mengenaliku, namun aku lupa, aku sepertinya mengingatnya.

“Kak?” ia ingin memelukku namun dengan segera aku menolaknya. Ia heran melihat tingkahku.

“Aku Miyuza. Kakak Alvi ingat?” tanyanya sambil memegang tanganku namun segera aku tepis dengan lembut. Miyu? Ya Allah, kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan Miyu

“Iya! Eh, Miyu kuliah di sini?” tanyaku sedikit gugup

“Iya Kakak, aku diterima di Universitas ini, gak nyangka ya bisa ketemu Kakak” tukasnya dengan sifat riangnya dengan ekspresi wajah yang sangat manis. Inalillah.. pandangan ini. Segera memalingkan pandanganku.

“Kok dahi Kakak mengkerut?” tukasnya sambil menyentuh jidadku. Spontan aku kaget dan menepis tangannya dengan keras.

“Au,,,!” tukasnya mengaduh kesakitan karena tangannya tadi kutepis dengan lumayan keras.

“Miyu, maaf Kakak reflex dan kaget!” mohon ku merasa bersalah. Ia menatapku dengan bola matanya yang besar selayaknya mata di manga jepang.

“Gak apa-apa kok!” tukasnya sambil merangkul tangan kananku, namun dengan segera pula aku melepaskan tangannya.

Sudah dipastikan jika ia heran dengan tingkahku yang tak sama seperti dulu, yang bisa menyentuh seorang yang bukan mahrom dengan merasa tak berdosa. Kini aku bukan lagi seperti Alvi yang dulu, aku insyaa Allah memegang teguh ajaran agama Islam. Melaksanakan sunnah Rasul dan menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim.

Kubuka Mushaf Alquranku dan mengkajinya sebagai penghilang rasa gundahku, namun tak beberapa wajah Miyu dengan senyumnya yang manis menempel di Mushaf ini.

“Astagfirullaah…” tukasku sambil menutup Mushaf itu.

“Assalamualaikum??” terdengar suara Ado hadir di balik pintu kamar yang kututup.

“Waalaikumsalam.! Masuk Do!” jawabku dan menyuruhnya masuk ke kamarku. Ado masuk kamarku sambil menggelengkan wajahnya, menatapku seolah aku tersangka.

“Alvi,, tadi aku lihat kamu ama cewek jepang itu. Siapa dia?” Tanya Ado sambil menatapku penuh tanda tanya. Aku hanya diam dan cuek.

“Aku melihat cewek itu ingin memeluk kamu…” segera aku tutup mulutnya dengan tangan kananku.

“Dia teman ku waktu SMA, dia bukan dari jepang. Dan dia cewek cosplay yang pernah kuceritakan ketika dulu! Sudahlah nggak usah dipertanyakan lagi!” tukasku sambil melepaskan bekapan tanganku di mulut Ado. Sengaja aku berpaling dan pura-pura tidur membelakangi Ado yang dari tadi hanya berdiri.

“Assalamua’alaikum wahai akhi..” tukas Ado sambil menutup pintu kamarku dengan sedikit terdengar pintu bergesek.

***

Setelah kemarin mendapatkan kenalan seorang mahasiswa baru yang ingin mencari tempat kost, kini saatnya untuk membantu mereka, meringankan sedikit beban mereka. Dan Alhamdulillah, Allah memperlancar niatku untuk membantu mereka, tempat kost yang baik cepat ditemukan dan harganya terjangkau. Tugasku tak hanya berhenti sampai di sini, niatku untuk mencari para mahasiswa baru terus berlanjut.

Miyu, wajahnya lagi-lagi hadir di saat aku menuju BAAK. Astaghfirullah.

“Aku dari tadi nunggu kakak lho!” tukas seseorang sambil menarik tanganku dari belakang. Ketika aku baru saja memarkirkan motorku, Kutolehkan kepalaku, ah, Miyu..

“Maaf Miyu…” tukasku menarik tanganku dari pegangannya. Ia menyipitkan mata bulatnya, namun segera aku memalingkan pandanganku.

“Kenapa Kak Vi?” tanyanya dengan nada suara pelan.

“Kita bukan mahrom Mi, itu gak boleh!”. Tukasku sambil berlalu meninggalkannya, namun ia tetap mengejarku, dan berhenti tepat di depanku, lagi-lagi ia membuatku salah tingkah.

“Kakak, malam ini datang ya, di Festival Cosplay Palangka Raya di Swisbell” tukasnya sambil menyerahkan undangan. Aku menerima undangan yang ia berikan namun aku tak menjawab dan berlalu pergi.

Ya Allah,, ujian ini. Ada hal apa yang engkau rencanakan untukku.

Aku sengaja untuk tidak datang di Festival itu, namun keesokan harinya lagi dan lagi Miyu mencariku, ia mengatakan mencariku sampai meminta bantuan Ayahnya yang memang seorang dosen, hingga akhirnya aku berjumpa lagi dengannya. Ia mendapatkan nomor handphoneku, dan besok ia ingin berjumpa denganku, aku memintanya untuk bertemu di halaman masjid kampus, awalnya ia keberatan, namun aku tak mau jika dilain tempat.

Sebuah mobil sedan berwarna silver terparkir di halaman masjid, aku sudah menduganya jika mobil itu yang digunakan Miyu. Kuparkirkan motorku, dan melangkah ke beranda Masjid dan duduk. Tak lama kemudian ponsel yang ada di saku celanaku berbunyi.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, Kakak aku gak mau turun dari mobil! Jadi kakak masuk mobilku aja yuk, kita jalan-jalan aja. Ngapain juga di Masjid?” jawabnya dengan suara yang manja

“Kakak mau Miyu samperin Kakak! Miyu lihat kakak kan?”

“Iya, Miyu lihat, tapi Miyu malu!”

“Kenapa?” tanyaku penasaran

“Miyu pakek rok pendek dan gak pake kerudung!” tukasnya malu-malu

“Ya udah, Mobil Miyu yang Silverkan?” tanyaku,

“Iya!”

Dugaanku benar, mobil mewah itu milik Miyu. Aku menuju mobilnya ketika sampai di samping mobilnya, ia membuka kaca mobil depan sehingga aku dapat dengan jelas melihat dirinya. Miyu menyuruhku masuk mobilnya namun aku tak menghiraukannya. Dan aku mengeluarkan buku Fiqh Wanita dari dalam tasku dan menyerahkannya.

“Kak Alvi pengen Miyu jadi Muslimah sejati!” tukasku lalu pergi meninggalkannya. Untuk hal ini ia tak mengejarku lagi. Semoga Allah memudahkan jalannya menuju Jannah-Nya. Amiin

***

Lima tahun telah berlalu, semenjak aku menyerahkan buku Fiqh Wanita itu, Miyu tak pernah lagi menghubungiku. Apa karena dia membenciku, atau? Ah, tak pantas aku untuk su’udzan.

“Alhamdulillah, Akhi.. kami sudah dapat proposal akhwat yang insya Allah sesuai dengan criteria antum. Antum bisa datang ke tempat ana sekarang?” sms yang kubaca itu masuk membuyarkan lamunanku.

“Alhamdulillah, tafadol antum aja bang, insyaa Allah ana bersedia tanpa harus melihat fotonya!” balasku kepada Murabbiku. Tak ada balasan darinya. Aku mengabaikan pikiran-pikiran negatifku.

Kulihat poselku. Lima panggilan tak terjawab dan sepuluh kotak masuk nyangkut di layar ponsel smartphone ku. Setelah tadi malam khusuk dengan urusan Akhirat, sengaja aku membuat nada diam di poselku. Aku heran mengapa sampai bang Saiful sampai menelponku berulang kali. Kulihat kotak masuk dan tertera di deretan paling atas nama bang Saiful, kubuka pesan masuk itu dengan ragu dan gugup.

“Ba’da Ashar kita bertemu dengan akhwatnya!”

“Antum siap kan?”

“Akhi, insya Allah ini yang terbaik buat antum, antum siap kan?”

Dengan segera aku menelpon bang Saiful. Dan mengatakan jika aku siap dan bersedia. Yah, insyaa Allah, Allah akan memudahkan urusanku jika jalan kemuliaan yang kutempuh. Sungguh, ketika mendapatkan kabar dari bang Saiful perasaan perasaanku kepada Miyu, kini memudar, dan kurasakan kepadanya hal yang biasa saja.

“Akhi, kenapa antum langsung sreg, ama tu akhwat? Antum gak pengen lihat foto akhwatnya dulu?” bujuk bang Saiful padaku di dalam mobilnya.

“Tidak usah bang, biar surprise untukku!” candaku sambil tersenyum. Masa aku bertemu dengan calon jodohku semakin dekat. Bang Saiful mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah yang cukup besar. Ketika sampai di depan pintu rumah, jantungku seolah berdegub begitu cepatnya, kuhiasi hati ini dengan mengucap istighfar. Bang Saiful mengucapkan salam dan tanpa menunggu lama ada jawaban dari dalam, dan kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam. Seorang yang mengaku bahwa dirinya paman dari sang wanita. Berincang cukup lama hingga pada akhirnya sang wanita dipersilahkan untuk keluar. Sungguh aku tak berani menatap wajahnya. Aku tertunduk malu, ragu dan gugup.

“Namanya Miyuza Azzahra” tukas sang paman, mendengar namanya, jantungku, seolah berdesir dan segera menoleh kearah Miyuza.

“Alhamdulillaah…” tukasku sambil mengelus dadaku, Miyu tersenyum malu.

Rencana di atas rencana. subhanaAllah, yang kupikirkan sejak dulu menjadi nyata. Paman Miyu menanyakan ketersediaanya berta’aruf denganku,.

“Insya Allah bersedia!” jawabnya.

***

Miyuza Azzahra. Seorang wanita cosplay kini telah berhijjab dan insya Allah inilah yang syar’i. sangat mudah bagi Allah untuk merubah hambanya, membolak-balikkan hati hambanya.

Pernikahan kami berlangsung setelah kami berta’aruf hanya satu minggu, kami tak menginginkan pesta dan sebagainya. Yah, begitulah Miyu sekarang dengan kesederhanaanya. Tak hanya itu, selama lima tahun ini Miyu juga menghafal Alquran, dan sudah menghafal 7 juz, Alhamdulillah..

Di siang yang cerah Miyu mengajakku untuk berpergian ke taman, ia ingin menikmati pacaran denganku, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan judul buku karya Salim A. Fillah yang ia pun mengoleksinya. Terlihat jauh di sana, Miyu memegang dua Ice Cream, terlihat jelas senyum wanita yang kini halal kupandangi. Tanpa diduga mobil dari arah belakangnya dengan kecepatan penuh menabrak wanita yang baru kunikahi itu, dengan segera aku berlari menuju Istriku, sedang mobil itu tetap mengebut dan pergi. Aku tak menghiraukan lagi apa yang terjadi pada mobil itu. Segera aku membopongnya menuju mobilnya yang terparkir rapi di parkiran taman. Tak pernah aku membayangkan jika harus Istriku yang menjadi korban tabrak lari ini, aku tak menghiraukan dan memperdulikan orang yang mungkin tanpa sengaja menabrak istriku, kini yang terpenting aku mencoba untuk menyelamatkan istriku. Urusan hidup atau mati Allah yang lebih tau.

Aku bersyukur kepada Allah, karena Istriku telah melewati masa kritisnya, dan kini dengan senyumnya yang aku tau ia merasa sakit, namun ia tetap memberikan senyum terbaiknya kepadaku, mulutnya bergerak. Namun aku tak mendengar suaranya, ia memejamkan mata sambil tersenyum, aku pikir ia hanya tertidur, ternyata Allah begitu mencintainya, Allah ingin segera bertemu dengannya.. Ya Allah, aku ikhlas karena-Mu.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Reni Novita Lestari
Mahasiswi di Universitas Palangka Raya senang dengan dunia kepenulisan selalu ingin belajar menyampaikan kebaikan dengan tulisan

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization