Home / Pemuda / Cerpen / Zaida, Mas Mencintaimu Karena Allah

Zaida, Mas Mencintaimu Karena Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.com – Malam itu, meja makan hening. Hanya suara sendok dan piring yang sedikit memecah kesunyian. Abah dan Ummi pun lebih banyak diam, tak seperti biasanya.

“Abah, Ummi, maafkan Zaida.” Gadis 20 tahun itu menyeka butir bening yang terlanjur tumpah membasahi pipinya.

“ Zaida tidak bisa menerima lamaran Mas Ali. Semoga abah dan ummi mau memaafkan Zaida. Zaida tidak cinta, Abah, Ummi. Lagi pula Zaida masih kuliah.” Ia menghela napas panjang.

Abah membenarkan posisi duduknya. Diletakkannya sendok yang sedari tadi di tangannya. Abah berhenti melahap nasi goreng di hadapannya, yang hanya bersisa barang tiga sendok saja. Kali ini, giliran lelaki itu menghela napas.

“ Zaida, sudah abah katakan berapa kali, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Coba lihat abah dan ummi, awalnya kami tidak saling mengenal, belum saling mencintai. Kami juga dijodohkan oleh orang tua kami. Dan untuk kuliahmu, Ali bisa memahaminya. Nak, kamu akan tetap kuliah walaupun nanti sudah menjadi seorang istri,” tukas abah. Suaranya tegas. Gurat di wajahnya melambangkan ketegasan.

Ummi tersenyum simpul sepersekian detik setelah ucapan abah mengingatkannya pada perjodohan mereka dua puluh tiga tahun silam. Cepat-cepat wanita itu menarik simpul senyumnya, tak tega melihat anak gadisnya. Di hadapannya, Zaida tertunduk. Kini kristal bening di matanya jatuh, pecah berkeping-keping. Dan jauh di lubuk hatinya, kalau saja Abah tahu, telah terisi sebuah nama. Bukan Mas Ali.

***

Jam dinding menunjukkan pukul dua. Dini hari ini Zaida masih di dapur, menyiapkan racikan sayur kangkung sederhana untuk dimasak subuh nanti. Perasaannya tak karuan. Bayangan abah dan ummi sesak memenuhi ingatannya.

“ Dek, kenapa nangis?” Suara seorang lelaki dari ruang tengah memecah lamunan Zaida. Cepat-cepat Zaida menghapus air mata yang diam-diam sedari tadi membasahi pipinya.

“ Eh, nggak nangis kok, Mas. Mas Ali belum tidur?” Buru-buru Zaida memasang wajah manis di hadapan lelaki itu.

“ Mana bisa tidur kalau istri Mas masih terjaga. Dek, Mas sudah setahun hidup denganmu. Mas tahu kamu pasti sedang bersedih. Ayo cerita sama Mas.” Diraihnya tangan Zaida, digenggamnya erat-erat.

Memang sudah setahun Zaida hidup dengan Mas Ali, lelaki pilihan Abah dan Ummi. Menikah dengan lelaki yang tak dicintainya, di usia dua puluh. Sama sekali tak pernah terbayang sebelumnya. Tidak mudah bagi Zaida untuk menumbuhkan ‘cinta’, seperti yang pernah abah katakan.

“ Mas Ali, apa Mas mencintai Zaida?” tanya Zaida ragu-ragu. Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu ia sampaikan. Perhatian sosok Mas Ali padanya tak pernah kurang sedikitpun.

Ada kekagetan di wajah Ali. Tak cukupkah perhatian yang ia berikan pada wanita di hadapannya, yang terpaut usia tujuh tahun darinya?

“ Zaida, Mas mencintaimu karena Allah. Mas mencintai Zaida karena Mas tahu Zaida adalah perempuan yang taat kepada Allah. Mungkin mas tidak sempurna seperti yang Zaida harapkan, tapi Mas hanya bisa melakukan apa yang bisa Mas Ali lakukan untuk Zaida.”

Tangis Zaida sempurna pecah. Perasaan bersalah tiba-tiba sesak memenuhi ruang batinnya. Di hadapannya seseorang lelaki tulus, namun mengapa tak sedikit pun ia belum bisa menerimanya sepenuh jiwa.

“ Maafkan Zaida, Mas. Zaida belum bisa menjadi istri yang baik buat Mas Ali.”

“ Zaida, nggak usah nangis ya, sayang. Mending sekarang kita qiyamullail dulu, yuk. Mohon pertolongan Allah.” Lelaki itu memberikan sesimpul senyum, manis.

Sajadah terhampar di lantai kamar. Dua insan itu khusyuk menghadap Rabb-Nya. Melantunkan doa-doa ke langit.

***

“ Zaida, bangun sayang. Sudah waktunya shalat shubuh. Semalam kamu ketiduran sehabis tahajjud. Mas nggak tega bangunkan kamu. Ambil wudhu sana, mas tunggu.” Lelaki itu mengelus lembut kepala Zaida.

“ Ya Allah, maafkan Zaida, Mas. Harusnya Zaida tadi nggak usah tidur, begini kan jadinya.” Bergegas Zaida mengambil wudhu, lantas kembali pada suaminya. Mereka khusyuk menunaikan shalat shubuh.

Usai shalat shubuh, Zaida menuju dapur. Kali ini ia kesiangan. Biasanya, ia bangun sebelum adzan berkumandang. Memasak untuk sarapan pagi. Lantas menyelesaikan urusan rumah tangga lainnya. Bagaimana pun, kini ia masih berstatus mahasiswa sekaligus istri. Untungnya, tangannya terbiasa cekatan dengan segala urusan rumah. Sejak kecil, abah dan ummi selalu membiasakannya mandiri. Harus bisa mengatur kapan waktu membantu orang tua, mengaji, belajar, dan bermain.

Mana racikan sayuran semalam? Dibukanya kulkas kecil di pojok dapur. Tidak ada. Kakinya melangkah menuju ruang tengah. Ada meja makan sederhana dengan empat kursi, walau baru ada dua penghuni.

Zaida membuka tudung saji. “ Mas Ali, kok masakannya sudah matang? Ini Mas yang masak? Maafkan Zaida jadi merepotkan Mas.”

Lelaki dua puluh delapan tahun itu keluar dari kamar. Ia hanya tersenyum.

“ Zaida cicipi sayur kangkungnya, ya, Mas.” Wajah Zaida memerah. Ia tersenyum. “Ini enak sekali, Mas. Mas Ali kok nggak pernah cerita sih sama Zaida kalau Mas bisa masak?”

Lelaki itu mendekati Zaida yang duduk di kursi. Ia menggenggam tangan istrinya, erat.

“ Mulai hari ini Mas ingin menjadi suami dambaan surga. Membangun rumah di surga bersamamu. Maafkan Mas Ali, Zaida. Mungkin Zaida belum bisa merasakan cinta yang mas berikan. Tapi seiring berjalannya waktu, semoga Mas terus bisa berbenah. Mas nggak tega lihat kamu ketiduran semalam, kelelahan. Jadi ya racikan sayurnya mas masak.” Ia mencubit hidung Zaida. Zaida semakin memerah pipinya.

“ Tapi ini nasi, lauk, minum, semuanya sudah siap, Mas. Ini mas semua yang siapin? Terus ada lilin juga, buat apa Mas? Kayak di restaurant aja.”

“ Eeem…. Kasih tahu nggak ya? Sebentar ya, mas mau ambil sesuatu dulu.” Ali masuk kamar, mengambil sesuatu. Hanya perlu tiga puluh detik hingga ia kembali lagi.

“ Selamat ulang tahun yang ke-dua puluh satu, ya Khumairaaaaaa,” ucap Ali bersemangat. Diberikannya sebuah boneka Teddy Bear warna cokelat, boneka yang diam-diam sudah sangat lama diinginkan Zaida semenjak SMP.

“ Terima kasih Mas Ali.” Butiran hangat menetesi pipi. Haru.

Zaida memeluk erat suaminya. Aku akan belajar mencintaimu, Mas, batinnya. Syukur tak terhingga ia panjatkan kepada Allah Maha Cinta atas segala cinta.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization