Home / Berita / Opini / Duhai, Kasihan Saudara Kita di Perancis Sana…

Duhai, Kasihan Saudara Kita di Perancis Sana…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Sedikitnya 153 orang dikabarkan menjadi korban serangan di Paris dan Saint-Denis, tempat Stadion Stade de France berada.  (viva.co.id)
Sedikitnya 153 orang dikabarkan menjadi korban serangan di Paris dan Saint-Denis, tempat Stadion Stade de France berada. (viva.co.id)

dakwatuna.com – Izinkan saya membuka tulisan ini dengan ucapan duka cita sedalam-dalamnya untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan pada tragedi pemboman Paris. Tragedi berdarah tersebut terjadi pada hari Jumat, 13/11/2015, di enam titik Kota Paris. Salah satu dari keenam tempat tersebut adalah kawasan Stade de France, tempat dilaksanakannya partai persahabatan sepakbola Perancis VS Jerman. Hingga sabtu malam, laporan yang diberikan oleh kepolisian Paris menyatakan 153 orang tewas dalam peristiwa ini. Menilik dari jumlah korbannya, peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa terorisme yang terbesar di Eropa sejak perang dunia ke-II. Sungguh dunia sangat berduka atas peristiwa ini.

Tetapi jangan lupakan, ada kelompok yang juga menjadi korban dari tragedi ini. Meskipun tidak mengalami kehilangan teman dan keluarga, tapi kelompok ini akan menjadi salah satu yang paling merasakan pahitnya tragedi pemboman Paris. Mereka adalah komunitas muslim di Eropa, terutama yang berada di negara Perancis. Para saudara kita harus bersiap-siap untuk menerima perlakuan tidak menyenangkan dari warga barat yang termakan hasutan media.

Berdasarkan pengalaman yang didapat dari peristiwa 9/11 serta berbagai aksi teror lainnya (yang dituduh atas nama Islam), pemboman Paris sangat mungkin memicu peningkatan perbuatan tidak menyenangkan terhadap komunitas muslim. Hanya karena perbuatan beberapa orang yang ingin jalan pintas masuk surga (menurut keyakinan mereka), lebih dari 56 juta masyarakat muslim di Eropa dan 6 juta muslim di Perancis akan terkena imbasnya.

Seperti yang telah kita ketahui, sebagian besar masyarakat eropa hanya mengenal Islam melalui pemberitaan media. Stereotip yang dibentuk media barat selalu memojokkan Islam dan menunjukkan Islam adalah agama yang keras. Hal itu yang kemudian membentuk pandangan sinis sebagian masyarakat barat terhadap Islam. Terlebih-lebih setelah peristiwa 9/11 yang dengan semena-mena dituduhkan terhadap Islam tanpa ada bukti yang nyata. Dan tragedi Paris ini kembali menyediakan sasaran empuk bagi media untuk menghajar Islam.

Sehari setelah tragedi Paris, media barat langsung mengarahkan jari telunjuknya kepada dunia Islam. Telegraph memuat kesaksian seorang saksi mata yang mengatakan bahwa sebelum menembak, pelaku meneriakkan, “Ini untuk Suriah, Allahu Akbar”. Hal yang sama kemudian juga dikutip oleh media Guardian. Sedangkan surat kabar haluan kiri Perancis, Liberation, jelas-jelas menghubungkan penyerangan ini dengan apa yang telah dilakukan Perancis di Timur Tengah. Kemudian saat ini, berbagai media juga telah memuat dugaan bahwa para pelaku merupakan anggota ISIS. Dengan demikian, media telah secara serempak membentuk mindset masyarakat : Dalang tragedi ini adalah para imigran dari Suriah yang beragama Islam.

Entah Apa yang Ada dalam Pikiran Sang Pelaku?

Entah apa yang ada dalam pikiran sang pelaku itu. Namun yang jelas, jika memang dia adalah seorang muslim, dan dia melakukannya agar masuk ke dalam surga, maka dia telah menggunakan jalan pintas ke surga dengan mengorbankan jutaan saudaranya yang lain. Dia juga telah melanggar larangan Rasulullah SAW untuk tidak membunuh perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah, bahkan dalam peperangan sekalipun. Apakah para pelaku akan masuk ke dalam surga setelah aksi ‘jihadnya’? Hanya Allah SWT yang tahu.

Entah apa yang ada dalam pikiran sang pelaku itu. Yang jelas tragedi ini akan memperkuat oposisi konservatif untuk semakin menekan Islam dan para imigran. Sudah menjadi rahasia umum bahwa meski Perancis merupakan negara dengan komunitas muslim terbesar di Eropa, namun negara ini juga terkenal paling gencar melarang aktivitas Islam di depan publik. Peraturan larangan mengenakan jilbab dan burqa pernah dialami oleh komunitas muslim di negeri ini. Selain itu masih segar pula dalam ingatan kita saat bagaimana pemerintah Perancis selalu membiarkan media Charles Hebdo menyebar luaskan karikatur Nabi Muhammad SAW, tentu saja atas nama kebebasan pers. Memang sebagian masyarakat asli negeri Napoleon ini memandang kaum muslim dan imigran sebagai ancaman terhadap identitas nasional mereka.

Selama ini kekuatan yang menjadi dalang dan kompor dari tindakan diskriminatif tersebut adalah oposisi konservatif di tingkat parlemen. Dengan adanya tragedi ini, oposisi konservatif akan semakin mudah memanaskan isu di masyarakat untuk mengkucilkan kaum muslim dan imigran.

Entah apa yang ada dalam pikiran sang pelaku itu. Namun yang jelas peristiwa tersebut akan membuat dakwah di tanah Eropa menjadi mundur ke belakang. Setelah peristiwa 9/11, umat Islam Eropa semakin gencar melakukan berbagai kegiatan sosial dan ilmu pengetahuan. Hal ini dimaksudkan untuk memperkenalkan Islam sebenarnya kepada dunia barat, yaitu Islam yang rahmatan lil alamin. Serta melawan segala stereotip yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang keras. Akan tetapi kejadian ini tentunya akan membuat sebagian masyarakat Eropa kembali dalam keragu-raguan, “apakah tetangga muslimku bukan seorang teroris?”.

Entah apa yang ada dalam pikiran sang pelaku itu. Jika ia memang benar orang Suriah dan melakukan ini demi negaranya dan ISIS, seharusnya ia melakukannya terhadap Rusia, Amerika, atau Iran. Ketiganya merupakan pemain utama yang menyebabkan kondisi Suriah semakin hancur akibat perebutan kekuasaan. Sementara Perancis hanya mengambil andil sedikit sekali presentasi dari ribuan serangan yang ditujukan terhadap ISIS di Suriah. Malah seharusnya ia berterimakasih terhadap Perancis yang dengan tangan terbuka mau menerima para pengungsi Suriah. Hal ini seharusnya menjadi pertimbangan logis, terkecuali si pelaku telah di doktrin oleh kepentingan tertentu yang akan mendapatkan keuntungan dari penyerangan ini.

Entah apa yang ada dalam pikiran sang pelaku itu? Hanya Tuhan dan dirinyalah yang tahu. Hal itu sungguh menjadi sebuah misteri. Sama misteriusnya seperti asal dan identitas si pelaku yang akan terus disembunyikan, sementara media menina bobokan masyarakat dengan stereotip-stereotipnya.

Duhai kasihan saudara-saudaraku di Perancis sana, semoga kalian tabah dan senantiasa menunjukkan bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang rahmatan lil alamin.

Sumber :

  • http://news.detik.com/internasional/3071400/isis-telah-merencanakan-aksi-teror-di-paris-selama-9-bulan
  • http://international.sindonews.com/read/1061588/41/perang-jadi-judul-media-media-Perancis-untuk-teror-paris-1447492749
  • http://dunia.tempo.co/read/news/2015/11/14/117718923/detik-detik-tragedi-paris-allahu-akbar-lalu-banjir-darah
  • http://m.news.viva.co.id/news/read/699307-ini-teriakan-pria-bersenjata-di-tragedi-paris
  • http://international.sindonews.com/read/1061588/41/perang-jadi-judul-media-media-Perancis-untuk-teror-paris-1447492749
  • http://news.okezone.com/read/2015/11/15/337/1249589/pks-menduga-ada-grand-design-di-balik-teror-paris
  • http://www.cnnindonesia.com/internasional/20151114172340-134-91664/isis-rilis-video-berisi-ancaman-terhadap-perancis/
  • http://www.voaindonesia.com/content/perancis-lakukan-serangan-udara-pertama-di-suriah-/2981339.html
  • http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/gelombang-anti-imigran-di-eropa-gelombang-anti-islam-dan-muslim.htm
  • http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/21/mdty5m-tokoh-antiislam-ini-pimpin-partai-oposisi-Perancis
  • http://mirajnews.com/id/internasional/eropa/usulan-pemerintah-perancis-akhiri-larangan-jilbab-picu-protes-politisi/

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa Teknik Mesin UGM dan kroco Pers Mahasiswa UGM yang ingin menyatakan opininya.

Lihat Juga

[Video] Dua Bersaudara Palestina Ini Dipertemukan Setelah 70 Tahun Terpisah