Topic
Home / Berita / Opini / Kunci Kemenangan di Tangan Erdogan

Kunci Kemenangan di Tangan Erdogan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (uludagsozluk.com)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (uludagsozluk.com)

dakwatuna.com – Semakin hari mendekati 1 November 2015, suasana politik dan keamanan Turki semakin mencekam. Pemboman dan teror yang dilakukan PKK dan ISIS silih berganti semakin meningkatkan tingkat kedahsyatannya. Dan pemboman bunuh diri Ankara yang paling sadis sepanjang sejarah Turki semakin menegaskan adanya ancaman yang nyata terhadap Turki

Namun apa yang dilakukan pemerintahan Erdogan?

Luar biasa. Beliau menyatukan pihak musuh dalam satu paket kubu, dan hal ini sangat mempermudah masyarakat untuk mengidentifikasi siapa lawan siapa kawan. Dalam artikel itu pihak intel Turki menyatakan bahwa rezim Assad (Syiah), PKK (komunis) dan ISIS (khawarij) bersatu-padu hendak merongrong kedaulatan Turki [1].

Tujuannya apa? Jelas kelemahan Turki akan menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi tujuan masing-masing pihak lawannya. Kekacauan di Turki akan menyebabkan Turki sibuk menegakkan keamanan internal dan kurang fokus pada bantuan senjata bagi gerilyawan muslim Suriah yang hendak menggulingkan rezim Assad. Kekacauan di Turki akan coba dimanfaatkan pihak PKK via PYD / YPG untuk merebut kota Azaz di provinsi Idlib, agar bisa menghubungkan kota Afrin dengan kota Kobane. Kekacauan di Turki akan coba dimanfaatkan pihak ISIS untuk merekrut warga Turki sebanyak-banyaknya agar menjadi pendukungnya, karena seperti yang kita tahu bahwa yang menghalangi ISIS untuk menguasai atau memperkuat posisinya di sekitar Marea / Dabiq (masih di provinsi Idlib juga) adalah kubu islamis dukungan Turki.

Jadi, pemerintahan Erdogan berusaha mengaitkan keamanan Turki dengan situasi di Suriah yang semakin panas. Apakah berhasil?

Tentu tidak jika tidak disertai tindakan yang nyata. Kaum khawarij dibuat kalang kabut dengan manuver Turki yang membredel banyak sel-sel tidur ISIS di dalam negeri Turki, terbukti dengan terbunuhnya dua wartawan Raqqa yang naas dengan cara dipenggal di apartemen mereka di Gaziantep, Turki. Sepertinya wartawan ini ‘banyak memahami’ internal ISIS.

Kaum Kurdi pun tidak mengira usaha mereka untuk mendekati kota Afrin ternyata mendapat perlawanan sengit dari Angkatan Udara Turki, yang tidak memberi kesempatan mereka untuk menyeberang sungai Eufrat seinci pun [2].

Dan terakhir yang mengusik warga Syiah di Turki adalah penyerbuan polisi dan pengambilalihan stasiun TV Bugun News yang dimiliki konglomerat Ipek, yang merupakan pendukung utama Fethulleh Gulen (sebuah kelompok ekonomi politik dengan pendekatan keagamaan berbasis sufisme). Namun yang paling spektakuler dan tentu yang paling membuat kecut semua warga Syiah adalah dukungan persenjataan yang semakin ngebut kepada kaum muslim di Suriah (500 rudal TOW senilai 10 triliun rupiah) digelontorkan sejak kedatangan Rusia [3].

Nah, tindakan yang semakin hari semakin tegas ini ternyata tidak mengurangi kepopuleran AKP, warga MHP yang sering menyatakan dirinya warga ultra-nasionalis Turki kepincut dengan pendekatan Erdogan yang sangat tegas terhadap pihak-pihak yang merongrong kewibawaan Turki pada umumnya dan umat Islam Turki pada khususnya (terbukti dengan menurunnya angka raihan MHP dari 16-17% [4], menjadi 10-11% [5]).

Kebijakan Erdogan yang dikritik pihak Barat sebagai diktator, ternyata dipandang warga Turki khususnya MHP sebagai sebuah paradigma baru untuk mengembalikan kewibawaan Turki. Pola menempatkan Syiah, komunis dan khawarij sebagai musuh bersama negara ternyata sangat efektif bagi warga Turki untuk mendefinisikan kriteria nasionalisme Turki yang sesungguhnya, bahkan jika Erdogan mendeklarasikan dirinya sebagai sultan atau khalifah sekalipun sepertinya semakin banyak warga Turki yang tidak keberatan. Seorang kolumnis menyatakan bahwa yang bisa meneruskan langkah Shalahuddin al Ayyubi hanyalah Erdogan dalam rangka membebaskan Suriah dan Palestina [6].

Masih banyak pelajaran yang bisa diambil dari pemilu ulang Turki, 1 November 2015 ini. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

[1] http://www.aksam.com.tr/guncel/ankara-saldirisinda-el-muhaberat-parmagi/haber-451437

[2] http://www.bbc.com/news/world-middle-east-34645462

[3] http://www.businessinsider.com/syria-rebels-and-tow-missiles-2015-10

[4] http://www.milliyet.com.tr/2015-secim-sonuclari-aciklandi–gundem-2072537/

[5] http://www.sabah.com.tr/secim

[6] http://www.sabah.com.tr/yazarlar/ovur/2015/11/01/selahaddin-eyyubiden-erdogana

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
S1-Teknik Penerbangan ITB, S2-Desain ITB. Mahasiswa Doktoral, Aerospace Engineering, METU Ankara, Turki

Lihat Juga

Manipulasi Esemka

Figure
Organization