Home / Berita / Opini / Syiah Indonesia, Nasionaliskah?

Syiah Indonesia, Nasionaliskah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (blogspot.com)
Ilustrasi. (blogspot.com)

dakwatuna.com – Saya di antara orang yang tidak cukup yakin bahwa Syiah Indonesia nasionalis se-nasionalis organisasi atau gerakan Islam lainnya. Walaupun wacana para elit mereka (NKRI dan persatuan Indonesia) dan pemanfaatan momentum mungkin dekat ekspresi nasionalistik.

Ini pengalaman pribadi kurang lebih 5 tahun silam, saat mengikuti demo dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina di Semarang bersama elemen masyarakat.

Di pojok pelataran simpang lima, terdapat ratusan orang-orang berkumpul mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala hijau, seingat saya bertuliskan Ya Hussain, sebagai identitas pembeda. Namun itu bukan pokok persoalan karena setiap orang berhak memilih gaya hidup dan bahkan warna pakaiannya tanpa intervensi negara. That’ s democracy.

Namun yang cukup mencengangkan bagi saya, adalah aksesoris demonstrasi serba diliputi aksesoris serba Iran dan Hizbullah, Lebanon. Mulai dari gambar Ayatullah Khomeini, Ahmadinejad, Hasan Nasrallah, bejibun bendera Iran dan gerakan perlawanan Hezbullah, Lebanon.

Dengan asumsi peserta aksi ratusan dan satu orang memegang satu bendera Hezbullah atau satu banner khas Iran, maka anda akan lihat lautan aksi massa sama persis dengan komunitas Syiah di Iran maupun Lebanon karena kemiripan pakaian dan simbol aksi. Yang membedakan hanya wajah mereka saja. Alih-alih bergabung dengan elemen lain untuk isu yang sama, mereka justru mengambil rute yang berbeda.

Disaat itu, saya berpikir dimana elemen nasionalisme mereka. Apakah merah putih undervalue ketimbang bendera Iran dan Hezbullah? Apakah eksistensi politik dan kultural Syiah dalam praktik adalah 100 persen Iran atau Hezbullah? Apakah mereka proxy bagi Teheran atau Hezbullah, berikut loyalitas politiknya?

Berbeda dengan elemen transnasional sunni, seperti Ikhwanul Muslimin (IM) atau Salafi, jarang sekali tampak simbol-simbol spesifik semisal foto, bendera dan gambar tokoh, kecuali HT, kesamaan lambang. Seumur-umur saya, tidak pernah melihat ada demo dengan lambang IM, foto Hasan Al-Banna, Muhammad Abdul Wahab atau bahkan bendera Saudi. Secara umum, mereka tampaknya lebih mementingkan transformasi ide ketimbang aksesoris.

Kegagalan memahami elemen dasar nasionalisme, seperti indegenisasi, apropriasi dan obyektivikasi dalam konstruksi gerakan (tidak terkecuali Syiah) cukup menjadi dasar untuk meragukan (nasionalisme)nya. “Jangan-jangan?” akan menjadi premis untuk merekonstruksi silogisme berikutnya.

Saya pribadi percaya, gerakan (Syiah) yang didirikan karena amarah dan dendam sejarah tidak akan membawa kebaikan, untuk itu, sulit berkembang, namun sebaliknya menghasilkan resultan berikutnya, berupa kebencian dan permusuhan. A history is a phase to amend and reform, not to condemn and ruin. (dzakirin/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Penulis Buku Kebangkitan Pos Islamisme: Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Figure
Organization