Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hukuman, Menulis Tanpa Meja

Hukuman, Menulis Tanpa Meja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Riyanti)
Ilustrasi. (Riyanti)

dakwatuna.com – Suasana hening seketika. Setelah sekian lama membersamai mereka, inilah kali pertama aku mendaratkan tangan di lengan mereka. Mungkin bukan soal rasa sakit di lengan-lengan itu, tapi hening ini muncul karena bola mataku yang terus menatap tajam pada mereka.

“Mengapa kamu melakukan itu Kariyan?” , Kariyan bungkam. Lalu berurutan kutanyakan pada Hendra, Agus dan Rudi, tetap saja yang kudapati adalah kebisuan. Bahkan menatapku saja mereka tak mau.

“Simpan meja kalian di belakang!”

Mereka saling pandang. Tanpa menungguku mengulang perintah, tangan-tangan mungil mereka bersusah-susah mendekap meja yang baru saja mereka tendang. Lima menit berlalu, meja-meja itu berbaris di belakang tempat duduk mereka.

“Siapa pemilik meja itu?” tanyaku dengan nafas tersengal menahan kesal.

“Sekolah, Bu.” Mereka menjawab serentak.

“Kalau meja itu rusak, kalian belajar pakai apa?”

“Tak ada Bu”

“Siapa yang rugi?”

“Semuanya , Bu.” Kariyan menjawab, yang lain kebingungan.

Aku berkhotbah di depan kelas IV tak lebih dari 10 menit. 4 siswa yang tertangkap basah menendang-nendang meja harus rela belajar tanpa meja hari ini. Setelah berkhotbah, aku memulai belajar. Penuh kesengajaan, pembelajaran siang ini aku isi dengan kegiatan mendikte dan membuat karangan. Aku merasa tega ketika kudapati 4 siswa terdakwa merasa kesulitan menulis tanpa meja. Mereka mencari-cari cara agar tetap bisa menulis dengan nyaman. Ada yang menggusur teman agar mau berbagi satu meja berdua, ada yang menyelonjorkan badan di lantai, ada juga yang memilih kursi sebagai meja dan dia duduk di lantai. Aku tak keberatan soal itu. yang terpenting mereka menyesali perbuatannya.

Pembelajaran belum usai. Aku masih dengan tega membiarkan mereka menulis tanpa meja. Wajah-wajah mereka tampak memelas. Mulut-mulut mulai mengeluarkan keluhan dengan berbagai macam suara. Aku berpura tak hirau. Aku benar-benar ingin membuat mereka menyesali perbuatan. Tapi, pembelajaran tak setegang di awal. Dengan suara yang tetap ramah, dan mata yang tetap berbinar, aku bisa mengembalikan ketegangan dengan pembelajaran yang menyenangkan meski ke empat siswa ini harus menulis tanpa meja. Dan di akhir pembelajaran barulah aku memerintahkan mereka untuk mengembalikan meja pada posisi semula.

“Mana yang kalian pilih, belajar dengan memakai meja atau tidak?

“Pakai meja, Bu!” mereka menjawab kompak.

“Istirahat adalah waktu bermain untuk kalian, tapi tidak boleh digunakan untuk merusak fasilitas sekolah. Menendang dan melempar meja adalah tindakan yang salah. Meja kita terbatas, tindakan yang kalian lakukan menjadikan meja ini rusak. Jika sudah rusak, kalian tak memiliki meja lagi untuk belajar. Dan belajar tanpa meja itu menyedihkan, sulit, juga tak nyaman. Meja memang milik sekolah, tapi jika rusak akan mengakibatkan belajar kalian terhambat, yang rugi juga kalian. Tidak hanya meja, kalian harus menjaga fasilitas dan lingkungan sekolah. Karena itu adalah tanggung jawab bersama agar pembelajaran lebih mudah dilaksanakan. Janji tidak mengulang lagi?”

“Janji, Bu”

“Mau tangan ibu memukul lengan kalian lagi?”

“Tak apa bah Bu, tadak sakit!

Kelas riuh oleh sorakan. Dan sebelum pulang, kami berjanji untuk sama-sama menjaga sekolah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Relawan SGI angkatan ke 7 Daerah Penempatan Kubu Raya Kalimantan Barat. Mengabdi di SD N 06 Rasau Jaya.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Organization