Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Lelaki Matahari Terbit

Lelaki Matahari Terbit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com – “Aku ingin meminta izin dan restumu untuk menyempurnakan separuh agamaku lebih dulu darimu”.Ucapnya padaku, setelah sekian lama tiada pernah bertemu.

“iya kak, pergilah, lagian aku kan masih kuliah”, tulus ikhlas kulepas kepergiannya menjemput hati yang lain.

Wajah sendu itu pun berlalu meninggalkanku yang hanya terdiam seolah hilang rasa. Tiada kesedihan apalagi kebencian karena dia tak memilihku sebagai pendampingnya membina rumah tangga hingga ke surga. Hanya sekilas bayangan wajahnya kulihat setelah tujuh tahun perkenalan kami. Lalu wajah itu pun memudar hingga kini tiada pernah melintas lagi.

Aku pun tersentak dari mimpi yang menghantui tidurku, ah ternyata aku hanya mimpi bertemu dengannya. Dia Aulia, lelaki yang dulu pernah kutemui di desa kecil searah matahari terbit dari kampungku. Berawal dari perjalananku berkunjung ke rumah teman pesantren yang satu asrama denganku dulu.

Pertemuanku dengannya murni tanpa rencana sebelumnya. Berhubung dia masih saudara temanku, maka jadilah kami sering bertemu selama aku berada di sana. Meskipun sering bertemu kami tak pernah sekalipun berbicara satu sama lain, hanya temanku saja yang selalu menertawakan kami berdua.

Entah bagaimana awalnya hingga komunikasi lewat surat pun dimulai, tapi hanya aku yang sering mengiriminya surat. Terkadang memang ada rasa malu menyelinap di hatiku, sebagai seorang perempuan tak selayaknya aku yang lebih dahulu menghubunginya. Tapi tak masalah yang jelas masih ada komunikasi di antara kami, setidaknya dia masih sering berkirim salam padaku. Pada masa itu rasanya sudah cukup untuk mengusik naluri perempuanku.

Setiap hari yang berganti selalu tumbuh harapan baru akan rasa yang terus bersemi. Ada celah di hati seorang remaja yang baru menduduki bangku Sekolah Menengah Atas. Sebagai seorang perempuan, normal jika rasa suka kepada lawan jenis itu bersemi dalam jiwa. Akupun sering bertanya tentangnya pada temanku, informasi yang kudapat membuat hatiku semakin berbunga-bunga sendiri.

Seorang remaja yang terpaksa putus sekolah demi dua orang adik perempuannya. Berjuang menjadi kepala rumah tangga di usia yang masih belia, karena sang bunda telah kembali kepangkuan yang ESA sementara ayahnya pun berlalu mencari tambatan hati yang baru. Kasih sayang dan perhatian yang diberikan kepada adik-adiknya membuatku semakin menyukainya. Apalagi meskipun hanya tamatan Madrasah Tsanawiyah di kampungnya, tapi akhlak dan ilmu agamanya tak kalah dengan mereka yang rela mendekam di pesantren modern.

Seringnya komunikasi secara tak langsung membuatku spontan berikrar di hati bahwa hati ini tak akan kubuka untuk laki-laki manapun kecuali akhlaknya jauh lebih baik dibanding kak Aulia. Aku ingin rasaku padanya tetap terjaga hingga suatu saat tiba masanya, jika kami benar-benar berjodoh. PeDe? mungkin saja. Tapi apa peduliku yang jelas itulah tekad yang ada di dalam hati.

Lima tahun berlalu sejak awal kami bertemu, saat itu aku telah berada di tingkat dua bangku perkuliahan. Tanpa disangka sebuah nomor baru masuk di inboxku,

”Aini…masih ingat sama aku, Aulia, gimana kabarnya sekarang ai..?”

Itulah awal komunikasi itu dimulai lagi, singkat cerita timbullah janji untuk bersama suatu saat nanti dalam bahtera bernama rumah tangga. Ada bahagia yang menyelinap di dalam hati, ternyata selama ini rasa kami sama. Bukan hanya diriku yang ke GeeRan, bukan dia yang tak mau membalas setiap suratku hanya saja dia selalu kehilangan moment untuk menitipkannya kepada temanku.

Tekad di hati kian kuat, hati ini akan tetap kukunci rapat untuk yang lainnya. Meski ada yang mengetuk silih berganti tetap saja rasa ini seakan beku. Hingga dua tahun setelah komunikasi kami itu pun berlalu. Saat ini aku telah berada di tingkat akhir bangku kuliahku, sebentar lagi aku akan lahir sebagai sarjana. Begitu banyak bayangan yang bisa kulakukan ke depannya.

Petang itu tanpa sengaja teman yang dulu menjadi sebab ku mengenal kak Aulia kembali menghubungiku. Nita, dia kini juga tingkat akhir di bangku kuliah dengan universitas yang berbeda dan di daerah yang berbeda juga denganku. Mulailah dia bertanya tentang siapakah tambatan hatiku saat ini. Entah mengapa spontan terlontar bahwa aku masih terus menjaga hati untuk kak Aulia.

Nita hanya berujar, “jadi kamu beneran mau sama dia,,?”

“ya benarlah nit, apa artinya penantian selama tujuh tahun ini jika ini hanya pura-pura,,” jawabku.

“Dia pun serius denganmu ai, bahkan selamanya dia akan setia padamu ai, karena kini dia telah bawa cintamu pergi untuk selamanya”. Aku hanya mampu terdiam dan hilang jawaban saat mendengar kabar dari Nita. Aku tak percaya dengan pendengaranku, aku merasa Nita hanya bercanda. Aku terus berusaha menghujaninya dengan harapan jawaban yang diberikannya “aku hanya mengujimu, ai” . tapi sekuat apapun harapanku sekuat itu juga dia meyakinkanku bahwa Aulia memang sudah tiada.

Aku hanya mampu menumpahkan semua kesedihanku pada air mata. Semua rasa telah bercampur aduk menjadi satu. Penantian selama tujuh tahun kini sia-sia, padahal aku sudah hampir sampai di penghujung. Apalah artinya menjaga hati selama ini, menolak setiap hati yang datang demi kak Aulia, lelaki matahari terbitku. Saat hati telah terkunci rapat kuncinya malah hilang entah kemana. Aku pun bingung harus bagaimana lagi.

Kisah kematiannya pun membuat rasa sesalan dalam hatiku kian besar. “Dia meninggal karena kecelakaan motor, dia punya motor baru dan ingin belajar bawanya ke kota agar bisa menyusulku, tapi malang baginya malam itu kecelakaan maut telah menghantarkannya ke kota tempatku kuliah, tapi bukan dengan motor barunya, melainkan ambulan yang terus meraung”. Tapi mengapa tak ada satu orang pun yang mengabari aku…? Tangisku pun kian deras membayangkan semuanya.

Sekian lama di rumah sakit tanpa kesembuhan dia pun dibawa ke pengobatan tradisional di kampungnya. Sampai akhirnya dia pun menghembuskan nafas terakhirnya tanpa pernah tahu perasaanku. Tapi aku telah tahu semua rasanya padaku, hingga di penghujung nyawanya pun dia masih sempat memberi tahu keluarganya tentang rasanya padaku. Tak dapat lagi kugambarkan betapa hancurnya perasaanku saat itu. Yang terlintas di pikiranku saat itu hanya ingin segera datang ke kampungnya bertemu keluarganya dan membuktikan bahwa makamnya benar-benar ada.

Aku pun bisa datang ke kampungnya pada hari ke sembilan puluh delapan sejak dia meninggalkan dunia. Aku pun bertemu dengan keluarganya yang menceritakan semuanya padaku. Tubuh ini terasa kian lunglai mendengar semuanya, kesungguhannya mencintaiku membuatku kian menyesal terlalu lama memendam perasaan padanya.

Mengapa selama dia sakit tak pernah sekalipun aku bisa menemaninya, bahkan walau hanya sekadar menjenguknya. Ku hitung lagi hari ketika dia menemuiku di dalam mimpi, meminta izin untuk pergi, ternyata tepat dengan hari kematiannya. Mungkin semua itu adalah pertanda diriku saja yang tak pernah bisa memahaminya. Aku tak bisa merelakannya seikhlas di dalam mimpiku. Bahkan hingga berbulan-bulan sejak ku tahu kepergiannya.

Orang tua dan sahabat-sahabat terus berusaha mengembalikan keceriaanku. Tak sehari pun mereka meninggalkanku sendirian, walau terkadang hanya lewat pesan-pesan mereka. Teramat sulit membuka hati kembali setelah sekian lama terkunci. Sangat tidak mudah mencari pengganti yang seperti dia. Sebuah kenyataan teramat pahit memang, namun apalah daya sebagai manusia kita hanya mampu berencana tapi Allah lah yang menentukan segalanya.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Januarita Sasni, S.Si, SGI. Lahir di Sumatera Barat pada tanggal 25 Januari 1991. Menyelesaikan Pendidikan menengah di SMAS Terpadu Pondok Pesantren DR.M.Natsir pada tahun 2009. Menyelesaikan Perguruan Tinggi pada Jurusan Kimia Sains Universitas Negeri Padang tahun 2014. Menempuh pendidikan guru nonformal pada program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) sejak Agustus 2014 hingga Januari 2015, kemudian dilanjutkan dengan pengabdian sebagai relawan pendidikan untuk daerah marginal hingga Januari 2016. Sekarang menjadi laboran di Lab. IPA Terpadu Pondok Pesantren Daar El Qolam 3 sejak Februari 2016. Aktif di bidang Ekstrakurikuler DISCO ( Dza ‘Izza Science Community) sebagai koordinator serta pembimbing eksperiment dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah. Tergabung juga dalam jajaran redaksi Majalah Dza ‘Izza. Mencintai dunia tulis menulis dan mengarungi dunia fiksi. Pernah terlibat menjadi editor buku “Jika Aku Menjadi” yang di terbitkan oleh Mizan Store pada awal tahun 2015. Salah satu penulis buku inovasi pembelajaran berdasarkan pengalaman di daerah marginal bersama relawan SGI DD angkatan 7 lainnya. Kontributor tulisan pada media online (Dakwatuna.com) sejak 2015.

Lihat Juga

Khutbah Shalat Gerhana Bulan

Figure
Organization