Home / Narasi Islam / Dakwah / Khutbah Shalat Gerhana Bulan

Khutbah Shalat Gerhana Bulan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Dilihat dri Tenerife. (Desiree Martin / AFP / Getty Images)

dakwatuna.com – Ma’asyiral mslimin wal musllimat, Jamaah shalat gerhana yang dirahmati Allah SWT.

Pada malam hari yang penuh berkah ini, marilah kita panjatkan segala puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta. Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan matahari, bulan, bumi, dan bintang-bintang di seluruh alam semesta, termasuk kita manusia yang juga merupakan ciptaan-Nya.

Tuhan Yang Menciptakan alam jagat raya dengan kesempurnaan dan keseimbangan. Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa yang merupakan satu-satunya Sesembahan umat manusia.

Shalawat dan Salam teriring terpanjatkan untuk manusia pilihan, Nabi Akhir zaman, penghulu para Nabi dan Rasul, Baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Semoga kita termasuk sebagai umatnya yang mendapatkan syafaat nya kelak di hari kiamat. Aamiin Allahumma aamiin.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,

Kita bersyukur pada Allah swt pada hari ini atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga yang kita terima sebagai anugerah Ilahi bagi kita, dengan cara menjaga, memelihara, dan meningkatkan iman kita kepada-Nya, dengan senantiasa beribadah kepada Allah SWT dalam menjalani kehidupan ini sebagaimana firman Allah Taala:

Katakanlah: sesungguhnya shalatkuku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-An’am:162)

Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, di tempat yang berkah ini, kita umat Islam berkumpul untuk beribadah kepada Allah SWT pada saat yang bersamaan dengan peristiwa Gerhana Bulan yang terjadi pada malam ini Rabu 31 januari 2018 yang dimulai sejak pukul 19.48 WIB. Kita jalankan ini semua dalam rangka menghidupkan satu di antara sunnah Rasul kita Baginda Nabi Besar Muhammad SAW untuk kemudian mendapatkan keridhaan dan ganjaran pahala yang sebesarnya dari Allah SWT. Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahih nya,

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah” [HR Bukhari No.1044]

Matahari dan bulan adalah bagian dari makhluk yang diciptakan-Nya. Keduanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang harus didudukkan posisinya dengan benar yakni sebagai makhluk bukan sebagai Khaliq Yang Disembah.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Dia-lah yang kamu hendak sembah” (Fushilat:37)

Begitu besar dan bayaknya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang terhampar di alam semesta ini. Kaum Muslimin harus menjadi umat yang tanggap akan hal ini. Mereka tidak boleh abai apalagi lalai terhadap seluruh fenomena di alam raya ini. Mereka harus menjadi umat yang mampu mengambil ibrah dari keberadaan berbagai benda langit yang ada di dalamnya dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya.

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” (Yusuf:105)

Alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat Allah swt yang memang diciptakan-Nya untuk mendapat perhatian umat manusia dan agar mereka melihat korelasinya dengan Al-Quran yang merupakan kalam-Nya. Hal ini telah dipertegas dalam firman Nya yang haq:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fushilat:53)

Jamaah shalat gerhana yang dirahmati dan dimuliakan Allah,

Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai ibrah atau pelajaran berharga dari peristiwa alam berupa gerhana bulan ini, di antaranya adalah

Pertama, semua benda-benda langit di alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Mereka semua merupakan makhluk. Sebagai makhluk-Nya, mereka semua tunduk dengan perintah Allah untuk beribadah kepadanya. Mereka semua taat pada Allah Taala dengan menjalankan perintahnya untuk beredar pada garis orbitnya masing-masing. Tidak ada satupun benda-benda langit yang menentang perintah Allah semisal bergerak meninggalkan orbitnya untuk memasuki orbit lainnya. Ketundukan dan ketaatan seluruh benda-benda langit kepada Allah bersifat mutlak tanpa ada satupun di antara mereka yang pernah membangkang.

Sejak awal diciptakan, langit dan bumi tidak pernah melakukan pembangkangan kepada Allah SWT. Mereka diciptakan lalu diperintahkan untuk datang menghadap Allah dengan pilihan suka hati atau terpaksa. Mereka serempak menjawab memilih taat dengan suka hati

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” (Fushilat:11)

Bagi manusia yang tidak mengenal dan tidak beriman kepada Allah, mereka menyimpulkan itu sebagai hukum alam yang terjadi begitu saja. Berbeda tentunya dengan orang-orang yang beriman yang menyimpulkan bahwa seluruhnya terjadi atas ketentuan taqdir dan hukum Allah SWT. Di dalam surat Yasin, Allah berfirman

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (Yasin:40)

Kedua, Manusia sebagai makhluk sudah seharusnya membersamai sikap langit dan bumi dalam hal ketaatannya kepada Allah Taala. Lebih dari itu, manusia lah yang sejak awal diposisikan penciptaannya sebagai wakil Allah atau khalifatullah fil ardh. Simaklah iradah Allah tentang hal ini yang termaktub dalam surat Al-Baqarah,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqoroh:30)

Tugas amanah mengelola alam semesta ini diberikan kepada manusia karena memang perannya adalah sebagai khalifah yakni pemimpin. Karenanya, manusia diberi perangkat yang cukup untuk itu, baik ruh, akal, dan jasad yang sempurna.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Ath-Thin:4)

Seluruh tugas yang diberikan Allah SWT pada manusia pada dasarnya merupakan perintah untuk melakukan penghambaan kepada-Nya. Tidaklah Jin dan Manusia diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah, begitu firman Allah SWT yang ada di surat Adz-Dzariyat ayat ke-56. Penghambaan ataupun Ibadah adalah tugas suci mulia yang membawa manusia pada keselamatan dunia dan akhirat.

Kesiapan manusia bukan hanya merupakan ketentuan Allah Taala dalam penciptaan manusia sejak awal, tapi hal ini juga merupakan amanah yang sudah siap diterima oleh manusia ketika langit dan bumi tidak sanggup untuk mengangkat beban tersebut.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. (Al-Ahzab:72)

Tidak ada alasan lagi bagi manusia untuk meninggalkan dan mengabaikan amanat ini. Manusia diciptakan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif jauh melebihi langit dan bumi. Manusia pun sudah siap untuk itu semua. Amanah sudah diterima. Saatnya untuk ditunaikan.

Namun sayangnya, fakta-fakta di depan mata kita menggambarkan situasi yang berbeda. Berapa banyak dari umat manusia yang kemudian mengabaikan tugas mulia sebagai khalifah di muka bumi. Berapa banyak dari mereka yang tidak beriman kepada Allah SWT. Sekian banyak dari mereka yang dengan mudahnya meninggalkan perintah dan melanggar larangan-larangannya.

Bukannya taat, malah maksiat. Bukannya beribadah kepada Allah, malah menyembah thagut dan berhala-berhala lainnya. Inilah potret kejahatan besar manusia terhadap Allah SWT. Padahal, barangsiapa berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali pada nya. Begitu pula bila melakukan keburukan, maka hal yang serupa akan terjadi pada mereka. Karena itu, umat Islam pada malam ini harus dapat mengambil ibrah dari peristiwa gerhana bulan ini dengan membacanya dalam perspektif tersebut.

Manusia adalah sentral utama di alam semesta. Semua alam ditundukan Allah untuk menjadi pelayan bagi manusia, untuk tunduk kepada manusia. Kebaikan dan kerusakan alam semesta yang sudah diciptakan dengan sempurna oleh Allah Ta’ala ini diserahkan kepada manusia. Bila manusia merusaknya, maka ia akan rusak. Bila manusia menjaga dan memeliharanya, maka keseimbangan dan keindahan alam akan menjadi pemandangan yang begitu mengagumkan. Tapi itulah manusia, mereka seperti Allah katakan sebagai makhluk yang zhalim lagi bodoh, zhaluuman jahuula

Lihatlah kerusakan di berbagai tempat baik daratan maupun lautan, sungai dan tempat lainnya oleh ulah tangan jahil manusia. Empat belas abad yang lalu, manusia sudah diingatkan oleh Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Alquran,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Ruum:41)

Ketiga, peristiwa-peristiwa alam ini pada dasarnya merupakan sebuah fenomena yang kemudian harus ditelaah oleh manusia dengan pendekatan ilmiah berbasis ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, mereka kemudian akan sampai pada satu kesimpulan bahwa ini semua adalah bagian dari ke-Maha-Besaran Allah SWT dan ke-Maha-Agungan Allahu Rabbul alamin. Islam adalah agama ilmu karena Islam bersumber dari Dzat Yang Maha Berilmu Allah Azza Wa Jalla.

Dalam sejarah peradaban Islam, Kaum muslimin telah menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam hal pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Para ulama dan cendekiawan muslim hadir di berbagai zaman dan tempat sebagai para ahli di berbagai bidang disiplin ilmu. Kita mengenal Ulama-ulama kaliber sekelas Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hanifah yang merupakan para ahli fiqih sekaligus mujtahid. Pada zaman lainnya di tempat yang berbeda kita mengenal Ibnu Rusy, Ibnu Sina, Al-Jabbar, Al-Khawarizmi dan lain-lain sebagai para saintis atau ilmuwan baik di bidang sosial maupun exact.

Sejarah peradaban umat Islam sepanjang masa telah menggambarkan bagaimana mereka generasi terdahulu dari umat ini adalah kelompok umat yang memberikan perhatian besar dalam ilmu pengetahuan termasuk kajian ilmu tentang alam semesta ini. Keilmuan yang mereka miliki dan kembangkan membuat generasi terdahulu semakin menguat keimanannya kepada Allah swt. Hal ini lah yang seharusnya berulang pada generasi umat di era millennium ketiga atau di abad ke15Hijriah atau abad ke-21.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali Imran:190-191)

Memang untuk urusan ini, kaum muslimin memiliki PR yang cukup besar. Praktis, dari kondisi faktual yang ada ilmu pengetahuan khususnya kajian ilmu-ilmu exact relatif berkembang dengan begitu pesat di negeri-negeri di mana umat Islam bukan penghuni mayoritasnya. Negara-negara di Barat, Amerika Serikat, Russia, Jepang, Korea, dan China telah jauh meninggalkan negeri-negeri Islam seperti Indonesia, Mesir, Saudi Arabia, Pakistan dan lainnya dalam hal pengembangan sains.

Negeri-negeri kaum muslimin membutuhkan kepemimpinan baru dari umat yang memiliki visi yang comprehensif atau terpadu antara visi akherat dengan dunia, visi agama dengan ilmu pengetahuan, visi syariah dan peradaban. Dengan cara demikian, maka prestasi umat Islam di masa lalu secara perlahan akan kembali ke tangan mereka. Umat akan memiliki izzah dan wibawanya kembali dalam berbagai percaturan dunia, baik pada bidang politik, ekonomi, sosial dan iptek. Peristiwa gerhana bulan ini seharusnya menyentak kesadaran umat Islam akan perlunya kehadiran pemimpin yang kuat yang memiliki visi terpadu tersebut untuk mengembangkan negeri-negeri Islam.

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

Akhirnya, pada penghujung khutbah ini, marilah kita tundukan sejenak hati dan perasaan kita seraya berdoa kepada Allah SWT pada malam gerhana bulan ini. Pada malam dimana kita menghidupkan satu di antara sunnah Rasulullah SAW. Mudah-mudahan, Allah SWT berkenan mendengar dan mengabulkan doa dan munajat kita. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin. (ali/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Dr. Ali Akhmadi Al-Hafizh
Alumni Universitas Madinah. Dosen di STIE Jakarta. Pengasuh Pesantren Tahfizh dan Dirasat al Quran (PTDQ) Al-Hayah, Jakarta. Syekh Majelis Dzikir Ummatun Nabi, Jakarta

Lihat Juga

Didiskriminasi Saat Wawancara Kerja, Seorang Muslimah di Swedia Dapat Kompensasi

Organization