Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merdeka! Saatnya untuk Maju, Bangkit, dan Berjuang

Merdeka! Saatnya untuk Maju, Bangkit, dan Berjuang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Google)
Ilustrasi. (Google)

dakwatuna.com – Kekeringan sudah melanda Indonesia dalam waktu yang cukup lama, masalah merambat pada mahalnya barang-barang pokok dan kesulitan ekonomi. Belum lagi kemerosotan akhlak yang selalu menghantui peradaban di Indonesia. Bayangkan betapa mirisnya seorang anak perempuan yang belum genap 15 tahun harus menjadi korban krisis moral dan ekonomi, yang saya lihat langsung di usianya yang muda melahirkan bayi hasil hubungan haramnya. Ironisnya, tidak ada pria yang mau bertanggung jawab. Ini kisah nyata sahabat, betapa kompleksnya permasalahan di Indonesia yang kita cintai ini. Sangat menyedihkan!.

“Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya, nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya” (An Nazi’at: 37-41).

Dalam Al-Quranul Karim, tantangan besar manusia ada pada dua zona yaitu zona cinta dunia dan zona hawa nafsu. Cinta dunia mampu menjadikan manusia keluar dari fitrahnya, menjadikan manusia menjadi seorang hamba dunia, mampu mematikan hati nurani dan menjadikannya sosok yang rakus dan kejam. Sedangkan hawa nafsu mampu menjadikan manusia bermandikan bunga dosa dan menjadikannya sosok yang zhalim terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dengan hawa nafsu pun mampu mengubah sosok manusia yang mulia menjadi sosok binatang, yang memosisikan perut dan kemaluannya di atas pikiran dan hatinya.

Lantas apa arti dan makna kemerdekaan bagi penghuni alam nan elok dan kaya raya ini? Apakah hanya sebatas kebebasan berdemokrasi, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama dan kebebasan dari belenggu penjajah saja?.

Ingatlah, betapa keras perjuangan para mujahid Indonesia, pemuda-pemudi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Masih ingatkah kita tentang sosok Jenderal Soedirman? Sosok jenderal yang shalih dengan bingkai spiritualitas yang tinggi, pemuda yang menjadi pejuang, dai dan pendidik. Atau sosok Kapitan Pattimura yang berjuang di permata timur Indonesia “Maluku”, beliau adalah pemuda yang dekat dengan Islam. Ada juga pemuda yang gagah berjuang, dialah Bung Tomo yang selalu mengeluarkan kata-kata heroik, “Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasadku ini tetapi jiwaku yang dilindungi benteng merah putih akan tetap hidup tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi”. Bung Tomo pun bertitah lebih baik mati daripada hidup dalam belenggu penjajah. Akankah kita lupa dan kalah dengan semangat mereka?.

Selanjutnya Allah Swt pun menawarkan solusinya melalui Al-Quran, “(Yaitu) Orang-orang yang jika Kami berikan kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang munkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan” (Hajj: 41)

Ini masalah kepemimpinan dan kita sebagai rakyatnya dalam mengisi kemerdekaan ini. Sudah jelas sekali dalam ayat di atas siapapun yang diberi kedudukan kepemimpinan oleh Allah Swt seharusnya bisa menjadi panutan dan dekat dengan Allah, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, beramar makruf nahi munkar dan selalu bertawakal kepada Allah Swt. Itulah kriteria pemimpin yang bisa mengangkat derajat bangsa ini. Maka jika kepemimpinan dengan kekuasaannya dilaksanakan sesuai Al-Quran dan Sunnah maka akan terjamin keadilan dan keamanan sehingga bangsa kita bisa menjadi bangsa yang produktif dan sejahtera. Tak hanya untuk pemimpin saja, kita sebagai rakyat juga harus bersinergi dengan para pemimpin kita.

Oleh karena itu mari putra dan putri Indonesia, inilah saatnya untuk maju, bangkit dan berjuang karena kita manusia dituntut menjadi khalifah di muka bumi dan penciptaan langit dan bumi adalah untuk manusia sebagai khalifah yang harus dengan bijaksana mengelola bumi dan isinya.

Dalam setiap kebangkitan
Pemuda adalah rahasia kekuatannya
Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya
(Hasan Al Banna)

Allahu Akbar! Merdeka Indonesiaku!

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Lahir di Ujungpandang tahun 1984. Pekerjaan sekarang sebagai abdi masyarakat dan ibu rumah tangga dengan satu orang anak. Tinggal di Tapos Kota Depok.

Lihat Juga

Jatuh.. Jatuh.. Jatuh.. Bangkit