Home / Berita / Daerah / KPAI Minta Polisi Usut Tuntas Kematian Evan yang Diduga Akibat Ikuti MOS

KPAI Minta Polisi Usut Tuntas Kematian Evan yang Diduga Akibat Ikuti MOS

Ratna Dumiarti, warga Sektor 5 Pondok Ungu Permai, Bekasi, bersama jenazah anaknya, Evan Christoper Situmorang, yang meninggal usai jalan kaki 4 Km saat MOS di sekolahnya. (facebook)
Ratna Dumiarti, warga Sektor 5 Pondok Ungu Permai, Bekasi, bersama jenazah anaknya, Evan Christoper Situmorang, yang meninggal usai jalan kaki 4 Km saat MOS di sekolahnya. (facebook)

dakwatuna.com – Bekasi. Seorang siswa di SMP Flora, Pondok Ungu Permai, meninggal dunia setelah dua minggu mengalami sakit di kedua kakinya. Dia adalah Evan Christoper Situmorang (12), anak dari Ratna Dumiarti, warga Sektor 5 Pondok Ungu Permai, Bekasi.

Evan mengalami sakit di bagian kaki setelah berjalan sepanjang 4 kilometer (Km) atas perintah seniornya saat hari terakhir Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolahnya.

“Tanggal 9 Juli itu kan terakhir MOS di SMP Flora. Dia cerita sama saya disuruh jalan kaki dari sekolahnya di Pondok Ungu Blok A ke Perumahan Puri. Lalu, dari sana jalan kaki lagi ke POM bensin Pondok Ungu dan jalan lagi ke sekolah. Itu rutenya memutar dan ada sekitar 4 Km,” kata Ratna, seperti yang dilansir metrotvnews.com, Sabtu (1/8). [Baca: MOS di Bekasi Memakan Korban, Syamsul Falah Minta Sekolah Bertanggung Jawab]

Evan mengeluh sakit setelah melakukan jalan kaki tersebut. Ratna mengungkapkan, bahwa kegiatan jalan kaki itu merupakan bagian dari MOS dan merupakan kegiatan ‘Cinta Lingkungan’. Kaki Evan terasa sakit dan keram kebiru-biruan.

“Kaki Evan sakit, Bu,” ujar Ratna menirukan keluhan anaknya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan, kasus kematian Evan harus diusut tuntas. Hal ini diperlukan agar dapat segera diambil solusi.

“Kami mendesak polisi mengusut tuntas kasus ini,” kata Niam lewat pesan singkat, seperti yang dilansir Gatra.com, Senin (3/8). [Baca: Seharusnya MOS Jadi Momentum Tularkan Budaya Kebaikan]

Menuturnya kegiatan MOS penting dalam masa pengenalan lingkungan sekolah dan persiapan proses pembelajaran dalam lingkungan yang baru. Namun MOS harus dipastikan tanpa kekerasan dan perploncoan.

“Kegiatan MOS harus dipastikan anti kekerasan. Tidak ada peloncoan dan tindak kekerasan yang tidak berkorelasi dengan tujuan pendidikan,” lanjutnya. (abr/dakwatuna)

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi