Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Kelahiran Firaun Abad ke-21, As-Sisi, dan Kisah Sejarah Pengkhianatan yang Terulang (Lagi)

Kelahiran Firaun Abad ke-21, As-Sisi, dan Kisah Sejarah Pengkhianatan yang Terulang (Lagi)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden Kudeta Mesir, Abdul Fatah As-Sisi (almasryalyoum.com)
Presiden Kudeta Mesir, Abdul Fatah As-Sisi (almasryalyoum.com)

dakwatuna.com – Setelah tumbangnya Firaun sebelumnya, muncullah kembali Firaun muda menghiasi wajah bumi Mesir yang tampaknya sudah sangat letih dan sekarat menghadapinya. Dunia seakan terhentak tak percaya, seorang presiden yang terpilih secara demokratis dan memperoleh mandat penuh dari mayoritas (50 persen +1) warganya di mesir, ternyata harus diputus dengan ganjaran hukuman mati pada hari Sabtu, 16 Mei 2015. Sebuah pengadilan ‘palsu’ yang dikritisi Amnesti Internasional sebagai pengadilan yang ‘main-main’ dan ‘tanpa prosedur’ jelas telah memutuskan hukuman ini kepadanya dengan tuduhan atas perannya dalam penerbosan penjara missal di tahun 2011.

Seorang warga mesir yang tinggal di Doha sebut saja Ahmed yang saya ajak berbincang tentang keputusan pengadilan ini, langsung mengutuk keras sang pelaku kudeta Assisi dengan sembari melempar umpatan, “Laa, Laa, Hadza kal*, musy insan, h*y*wan, alhaqir” (maaf, terj. Tidak, tidak, (Orang) ini adalah *nj*ng, bukan manusia, h*w*n, seorang hina dina).

Ungkapan yang sangat keras memang, namun tidak sekeji seorang Assisi yang telah diangkat sebagai Menteri Pertahanan pada 12 Agustus 2012 oleh Presiden Morsi yang dikhianatinya dan dikudetanya pada tahun 2013. Tidak puas dengan aksi pengkhianatannya Sisi yang berhasil menggulingkan Morsi juga tampaknya berperan besar dalam pengadilan politis yang menjatuhkan hukuman mati kepada mantan bosnya ini.

Perilaku Sisi yang berbuat khianat ini bagaikan sebuah ungkapan terkenal dalam peribahasa Indonesia yaitu: Melepas anjing terjepit, sesudah dilepas ia menggigit. Yang maknanya: Sisi adalah orang yang memperoleh keuntungan dari kejatuhan Mubarak dan pendahulunya; Jendral Muhammad Hussein Tantawi. Alih-alih membersihkan seluruh jendral dan komandan militer yang memegang tampuk pimpinan di Majelis Tertinggi Angkatan Bersenjata, Mursi masih memberi kesempatan kepada Sisi yang pada waktu itu merupakan anggota termuda Majelis Tertinggi tersebut dan menjabat sebagai direktur intelejen militer. Sisi diangkat menjadi menteri pertahanan di dalam kabinet Presiden Terpilih Mursi. Bukannya menjaga amanah dari orang yang memberinya kesempatan berkarir, Sisi ditengarai mengirim para demonstran untuk mendestablisasi pemerintahan Mursi dan mengakhiri pemerintahannya dengan melancarkan kudeta militer.

Pengkhianatan As-Sisi terhadap amanah yang dipercayakan kepadanya merupakan sesuatu yang sangat besar konsekuensinya di dalam ajaran Islam dan sangat besar dampak negatifnya terhadap masyarakat Islam.

Allah Tabaraka wa Ta’ala telah berfirman,

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.” (QS. Al-Baqarah: 283)

Mentadabburi ayat Al Quran ini, kita dapat mengetahui tingginya nilai amanah di dalam ajaran Islam, sebaliknya sifat khianat termasuk sesuatu yang sangat dibenci dan mendatangkan azab di Hari Akhirat nanti maupun di dunia ini. Betapa banyak pula riwayat dari Rasulullah saw. Yang mencela sikap berkhianat dan menyatakan bahwa khianat terhadap amanah tidak mungkin menjadi sifat dari seorang yang beriman kepada Allah swt.

Anas bin Malik ra, meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Nabi saw tidak pernah mewanti-wanti kami kecuali beliau bersabda: Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji,”(HR Ahmad, no. 13543, 12718, 12903 dan 13903).

Di dalam hadits lainnya, Rasulullah saw. juga bersabda:

Tanda orang munafik itu ada tiga; apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia tidak menepatinya dan apabila diamanahi (diberi amanah) ia khianat,” (Muttafaqun ‘Alaihi; HR Bukhari no. 33 dan Muslim no. 107). Dan dalam riwayat lain (ada tambahan), “Meskipun ia puasa, shalat dan mengaku bahwa dia Muslim,” (HR Muslim, no. 222).

Dari kedua hadits ini, jelas seorang mukmin sepatutnya menyadari pentingnya menjaga amanah karena itu merupakan ciri keimanannya. Selain itu, khianat terhadap amanah juga akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran di atas muka bumi. Penyia-nyiaan amanah sebagaimana yang sudah sering kita dengar telah mengakibatkan kemunduran ekonomi, kemelaratan suatu kaum, dan bertumbuh suburnya perbuatan maksiat di antara masyarakat Muslim. Sangat disesalkan memang di zaman teknologi ini, justru negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, menjadi negara-negara yang mengalami keterbelakangan ekonomi dan tenggelam dalam permasalahan multi-dimensi. Akar dari semua ini adalah penyia-yiaan dan pengkhianatan terhadap amanah.

Kejadian pengkhianatan oleh anggota militer ini bukan yang pertama kali terjadi dalam sejarah. Khilafah Usmaniyyah sendiri, yang berada di bawah Sultan Abdul Hamid, dihapuskan dari muka bumi oleh Mustafa Kemal yang masuk sebagai anggota opsir militer muda dan menanjak karirnya didalam pasukan elit Jannisary, sebuah pasukan elit khusus yang bertugas melindungi Sultan. Meraih karier militer yang sangat pesat sebagai komandan pasukan elit, Kemal yang dilahirkan di kota Selanik (sekarang kota Thessaloniki di Yunani) ternyata menjadi ‘musuh di dalam selimut’ yang justru mengabolisir seluruh bangunan kekhilafahan Islamiyyah yang terpusat di Istanbul ketika ia mengambil alih kekuasaan dan membangun Republik Turki modern. Sebuah gebrakan yang tidak hanya memutus garis kesultanan Turki bagi keturunan Usman, melainkan juga mematikan selama-lamanya sistem kekhilafahan Islam sudah berdiri selama lebih dari enam ratus tahun. Sebuah pengkhianatan yang membuat dunia Islam berduka cita tidak terkecuali hingga saat ini.

Dari sini, umat Islam hendaklah tidak lalai dalam mempelajari sejarah. Sejarah akan terulang kembali meski dengan pelaku dan situasi kondisi yang berbeda. Tinggallah umat Islam memilih apakah pengulangan sejarah yang baik dan positif yang akan diraihnya ataukah pengulangan sejarah yang buruk dan negatif – Laa qaddaralloh – yang menimpanya.

Kembali ke bahasan bangkitnya Firaun modern masa kini. Di dalam Alquran sendiri, terdapat banyak sekali pelajaran sejarah bagi umat Islam tentang kepribadian Firaun di masa lalu. Jikalau mungkin dihitung-hitung, mungkin kita dapati bahwa kisah tentang Firaun dan tindak-tanduknya adalah salah satu yang paling banyak diulang diberbagai surat di dalam Alquran. Hikmah dari diulangnya kisah Firaun mungkin adalah bahwa kepribadiannya yang angkuh dan arogan setelah memperoleh kekuasaan sehingga berlaku zalim dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya dan bahkan hingga mencapai taraf mengakui dirinya sebagai tuhan yang dapat mematikan dan menghidupkan rakyatnya sekehendak hatinya.

“Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (QS Al-Qashash [28]: 38)

Keangkuhan, kezaliman dan kekuasaan besar Firaun ternyata tidak mampu menyelamatkan dirinya dari azab Allah swt di muka bumi dan di yaumil mahsyar kelak. Dia pun harus mengakhiri hidupnya yang penuh gemerlap cahaya kemewahan dunia dengan kemalangan di dunia dan akhirat.

            Hingga bila Firaun itu hampir tenggelam berkatalah dia: ”Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS. 10:90]

Sebuah taubat yang sangat terlambat karena merupakan penyesalan setelah melihat azab yang nyata.

Ibrah dari kisah Firaun yang menakutkan ini adalah bahwa hendaklah seorang pemimpin mengambil amanah dengan penuh tanggung jawab dan menunaikannya secara paling baik sesuai ajaran Islam. Tidaklah dibenarkan seorang yang mengambil amanah secara tidak sah dan secara paksa, karena amanah itu bukanlah sesuatu yang boleh diambil secara sewenang-wenang. Pun bagi umat Islam seharusnya belajar agar tidak sampai terjatuh ke dalam lubang dua kali sebagaimana sabda Baginda Rasulullah saw. “Seorang yang beriman tidak terperosok di satu lubang yang sama dua kali”(HR. BUkhari dan Muslim). Tutup matanya Paman Sam melihat ketidakadilan dan kudeta ini juga tidak perlu disesali, karena sudah menjadi rahasia umum di antara peneliti barat sendiri tentang kebijakan luar negeri AS yang sering standar ganda. Pertanyaan bagi kita saat ini, sudahkah kita mau belajar dari sejarah kita terdahulu agar kemalangan tidak terulang kembali ?

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
PhD/ Doctoral Student dan alumnus Master of Arts - Kajian Masyarakat dan Pemikiran Islam di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar. Diplom 'Aliy fii Ad-Dirasat Al-Islamiyyah, di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar. Sarjana Pendidikan Bahasa Arab, Univ. Islam Jakarta. Former Secretary General of Indonesian Muslim Society in Qatar 2012-2016. Penulis buku To Be Successful Muslim Youth: Panduan bagi Muda-Mudi di Era Global Kini.

Lihat Juga

Seputar “Diselamatkannya Badan” Firaun

Figure
Organization