Home / Pemuda / Cerpen / Buah Kesabaran Seorang Budi

Buah Kesabaran Seorang Budi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kemenangan (inet) - jawaban.com
Kemenangan (inet) – jawaban.com

dakwatuna.com – Sebut saja Budi, seorang pria yang berasal dari keluarga sederhana. Seorang yatim yang lahir di sebelah timur Indonesia pada tanggal 21 februari 1987. Di bangku sekolah Budi dikenal sebagai orang yang biasa-biasa saja, tidak pintar dan tidak juga bodoh. Ada satu hal yang selalu ditanam Budi dalam hidupnya yakni bersikap ikhlas dalam menjalankan segala kegiatannya.

Diketahui dia sebagai anak yatim, maka untuk membantu hidupnya dan ibunya, maka dia turut tangan juga dalam bekerja, dengan prinsip ketaatan dan keikhlasan kepada Allah, dia tidak pernah merasa sedih dan bersusah hati.

Budi dikenal pula sebagai pribadi yang religius dalam lingkungannya. Rajin berpuasa, taat mendirikan shalat 5 waktu, sampai shalat sunnah, serta rajin mengeluarkan zakat. Hidup ini pikirnya adalah sementara dan segala sesuatunya telah diatur oleh tuhan, sehingga dia tidak pernah berambisi akan sesuatu dan mengembalikan qada dan qadar kepada sang maha pencipta.

Sekarang Budi sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi dia akan menghadapi ujian. Tentunya selain berdoa dia juga selalu berusaha dalam mempersiapkan menghadapi ujian ini. Dengan usaha yang tak kenal lelah akhiranya pada pengumuman, Budi lulus pada ujian, yah dengan nilai biasa-biasa saja, walaupun begitu dia tetap bersyukur.

Setamat dari SMA, Budi berniat untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk membiayai kuliah, maka Budi mengambil jalur beasiswa. Siang dan malam Budi terus berdoa agar dia bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Tak lupa pula melakukan shalat tahajjud setiap malamnya dan menjalankan puasa sunnah. Di samping itu Budi tetap berusaha semaksimal mungkin. Dalam jalur beasiswa ini, tak kurang dari 1200 peserta yang mengikuti, dan hanya 150 orang yang akan diterima.

Akhirnya saat tes pun tiba. Budi sangat bersemangat untuk mendapatkan beasiswa ini. Sampai-sampai Budi bangun pada jam 4 pagi untuk bersiap-siap. Di antaranya mandi, membersihkan tempat tidur, dan shalat subuh. Sebelum berangkat Budi juga tidak lupa meminta izin ibunya untuk didoakan. “ Bu, Budi berangkat dulu yah, doakan Budi”, kata Budi demikian. Doa ibunya selalu saja menjadi spirit di mana saja dia berada, dan dalam melakukan apa saja.

Sesampainya di tempat seleksi, dia melihat ribuan orang peserta seleksi yang ikut, dan dari tampang-tampangnya semua, mereka adalah anak-anak yang jenius. Di tempat seleksi semua orang sibuk mempelajari mata pelajaran yang diujikan. Namun lain halnya dengan Budi, dia tetap tenang di tempat, sembari dalam hati terus mengucapkan doa.

Dalam hatinya percaya bahwa Tuhan akan membantunya, karena dia telah belajar dan mengantungi restu orang tua serta selalu dekat dengan Allah. Tes pun di mulai dengan mengujikan beberapa macam mata pelajaran.

Sesampainya di rumah, Budi menceritakan seputar soal-soal yang diujikan tadi, dan tak lupa meminta ibunya untuk mendoakannya. Berselang beberapa minggu, pengumumannya pun ditampilkan, namun yang terjadi, si Budi ini gagal alias tidak lulus dalam ujian seleksi ini.

Tapi Budi adalah seorang yang istiqomah, dia percaya bahwa segalanya itu sudah diatur oleh Tuhan, dan dia juga yakin kalau dia telah melakukan yang terbaik. Budi juga seorang yang tak kenal putus asa. Akhirnya budi memutuskan untuk langsung mencari pekerjaan karena ketidakmampuannya untuk berkuliah tanpa beasiswa. Saat yang bersamaan kementrian tenaga kerja dan transmigrasi membuka lowongan kerja bagi lulusan SMA, budi pun mengikuti ujian seleksinya. Alhasil dia pun lulus, dan ditempatkan sebagai pemandu wisata untuk menemani turis-turis asing yang datang.

Sampai ketika dia ditugaskan menemani seorang turis asal Amerika yang sedang melakukan penelitian mengenai sejarah di Indonesia. Satu bulan Budi ditugaskan untuk menemani turis tersebut, terjalin hubungan yang sangat dekat antara keduanya. ibu Budi dan turis itu juga sudah saling berkenalan, karena tak jarang turis itu nginap di rumah Budi untuk memperlancar penelitiannya, karena turis ini menganggap bahwa ternyata Budi tahu banyak tentang sejarah Indonesia.

Setelah satu bulan berlalu, dan setelah menganggap penelitiannya juga sudah cukup, maka si turis ini memutuskan untuk kembali ke negaranya. Sebelum kembali takjubnya dia meminta kepada Budi untuk ikut kembali ke negaranya untuk menjadi asistennya sekaligus menyekolahkan budi disana, rupanya si turis ini adalah seorang dosen di sebuah universitas yang terkenal di amerika. Turis ini bernama Jhon Andre Blower. Ibu Budi pun juga sangat setuju dengan permintaan ini. Hal ini merupakan tujuan awal dari Budi, yakni ingin bersekolah setinggi mungkin dan mendapatkan beasiswa di luar negeri. Di dalam hati, Budi selalu yakin bahwasanya apa yang diperolehnya sekarang merupakan buah kesabarannya. Ingat, sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan, dan senantiasa lah menjadi orang yang punya rasa syukur.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswa semester 6 perguruan tinggi negeri di Makassar (Universitas Hasanuddin), Jurusan Elektro Fakultas Teknik. Penulis memiliki hobi bermain futsal dan menulis di sela-sela kegiatan. Jenis tulisan yang digemari berupa artikel. Opini, dan cerpen. Selain aktif di kampus sebagai Kepala Biro Depertemen Pendidikan, penulis juga aktif dalam kegiatan-kegiatan kepemimpinan penerima beasiswa PPSDMS (Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis) Nurul Fikri.

Lihat Juga

Sabar

Organization