Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Curhat si Kali Bening

Curhat si Kali Bening

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ocha graphic)
Ilustrasi (ocha graphic)

dakwatuna.com

/Fragmen Tempo Doeloe/
Perkenalkan akulah si kali bening ceria
Badanku menjalar di sepanjang Jakarta
Menjadi denyut nadi kehidupan di tengah kota
Tempat anak-anak berenang dan berbagi cerita

Airku bening sekali, jernihnya tiada tara
Akulah solusi penghilang dahaga manusia
Kuberikan air milikku dengan seikhlas jiwa
Silakan engkau reguk dan nikmati sepuasnya

/Fragmen Masa Pertengahan/
Perkenalkan akulah si kali bening kebingungan
Saksi bisu bagi megahnya kota metropolitan
Kini aku merasa bingung bukan kepalang
Semakin berkembang, semakin nurani hilang

Kulihat gelagat umat manusia bertambah pongah
Diriku disulap sedemikian rupa menjadi tong sampah
Wajahku tak lagi sumringah, ragaku kini terasa jengah
Airku mulai keruh, jiwaku digerogoti sampai rapuh

/Fragmen Zaman Sekarang/
Perkenalkan akulah si kali bening
Apakah warna hitam itu dinamakan bening?
Apakah sampah mengular itu aksesoris yang tepat?
Ah, kurasa kini tak pantas lagi nama itu tersemat

“Orang beriman tidak membuang sampah di kali”
Pak Ketua RW sampai memberikan sebuah maklumat
Namun, jurus ini hanya bertahan sehari dua hari
Dan esoknya kelakuan warga pun kembali kumat

/Fragmen Masa Depan/
Perkenalkan akulah si kali bening yang pilu
Ah, malu rasanya aku masih mengakui nama itu
Kurasa hatiku semakin bertambah nyeri bertalu-talu
Mendengar pertanyaan orang kampung yang begitu lugu

“Apakah nama kali ini, Tuan?” tanya orang kampung pelan
“Ini adalah Kali Bening,” jawab Tuan Metropolitan
“Hah? Kalau beningnya saja warnanya seperti ini, bagaimana keruhnya?”
“Maaf! Sepertinya konsep kita mengenai kata ‘bening’ memang berbeda.”

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Bayu Bondan
Bayu Bondan adalah nama pena dari penulis berkacamata ini. Setelah 4 tahun berguru kepada maestro angka, Alhamdulillah saya berhasil merengkuh toga gagah di kepala dan telah bekerja sebagai PNS di daerah Jakarta Pusat. Di sela-sela kesibukan aktivitas sehari-hari, saya mulai sedikit berpaling dari angka dan mencoba berteman dengan aksara. Biarkan saja pena menari dan lihat saja hasilnya nanti.

Lihat Juga

Cina Ubah Nama Sebuah Sungai karena Dinilai ‘Islami’

Organization