Home / Narasi Islam / Politik / Mampukah Sunni dan Syiah Berdamai?

Mampukah Sunni dan Syiah Berdamai?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Dunia pernah dikejutkan dengan 251.000 dokumen yang dibocorkan oleh Wikileaks. Hingga saat ini, kira-kira 1.824 dokumen ditayangkan kepada khalayak yang dimuat dalam laman webnya. Kemudian disebarkan oleh beberapa majalah seperti El Pais, The Guardian, New York Times Der Spiegel, dan lain-lain. Dokumen-dokumen itu menayangkan situasi umat Islam yang sedang menghadapi permasalahan besar dan serius. Negara Islam digambarkan saling bersahabat, tetapi di balik itu saling menikam dari belakang. Hal ini menunjukkan hilang kepercayaan sesama negara Islam. Di samping itu, umat Islam berada dalam arena penjajahan modern, yaitu penjajahan pemikiran. Kandungannya adalah pemikiran Barat, manakala hasil produknya adalah liberal dan sekular. Pemikiran ini melanda beberap intelektual Islam yang menghasilkan produk di negara-negara Arab. Ia dikenali sebagai al-’almaniyyun atau Islam liberal. Ini adalah persoalan dan masalah yang perlu diberikan fokus Asya’irah, Syiah, Salafi, Wahabi, Khawarij dan Muktazilah dalam mencari penyelesaian.

Alangkah indahnya persaudaraan sesama Islam tanpa menghiraukan aliran sekiranya kita merenungkan ucapan Imam At-Thahawi:

وَلاَ نُكَفِّرُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِذَنْبٍ مَالَمْ يَسْتَحِلُّهُ

“Kami tidak mengkafirkan seseorang dari umat Islam selama ia tidak menghalalkan dosa yang dibuat”.

Maksudnya, tidak perlu saling mengkafirkan antara umat Islam, karena itu adalah urusan Allah swt bukan manusia. Masalah takfir (kafir-mengkafir) berat karena berkaitan dengan urusan surga dan neraka. Di samping itu, tidak ada jaminan pada diri ataupun kelompok masing-masing mengenai kepastian untuk ke surga.

Mudah-mudahan, pemikiran Ahli Sunnah dan Syiah dapat disatukan dalam wujud membela Islam. Ini adalah tujuan mulia dan utama demi menciptakan kekuatan, kebangkitan dan kemakmuran di seluruh negara Islam. Namun, tidak mungkin dalam wujud penyatuan kepercayaan. Sebab perbedaan antara Ahli Sunnah dan Syiah melebihi batas penelitian ilmiah dan membawa kepada sifat fanatik. Sifat seperti ini tidak pernah menyelesaikan masalah, bahkan mengeruhkan masalah yang ada. Sikap fanatik ini menyebabkan kemunduran kajian-kajian teologi Islam sehingga kandungan kitab-kitab klasik (kutub at-turats) dipenuhi dengan berbagai kecaman dan hinaan. Imam Yahya bin Muaz berpesan:

إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلاَ تَضُرُّهُ، وَإِنْ لَمْ تُفْرِحُهُ فَلاَ تَغُمُّهُ، وَإِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلاَ تَذُمُّهُ

“Kalau engkau tidak sanggup membantu orang lain, jangan merugikan dia. Kalau engkau tidak sanggup menghiburkan orang lain, jangan membuatk dia sedih. Sekiranya engkau tidak sanggup memuji orang lain, jangan mencelanya”.

Dalam etika beragama, Islam mengajarkan supaya tidak memaksa orang lain. Tugas kita hanya menyampaikan, bukan memaksa golongan lain menyertai golongan kita, sebagaimana ayat Allah Swt.:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّـاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَانفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan dalam agama (memasuki Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

(Surah Al-Baqarah, ayat 256)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. (Surah Hud, ayat 118)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?. (Surah Yunus, ayat 99)

Tidak salah berbeda pendapat, asalkan perbedaan itu tidak membawa kepada permusuhan. Kita boleh menganggap golongan lain yang bersalah, namun tidak boleh mencela dan mencaci. Kita perlu menanamkan sikap toleransi bukan ta’ashub, menyambung persaudaraan sesama muslim bukannya memutuskan hubungan, berdialog bukan berseteru antara satu sama lain. Utamakan agama bukan mazhab dan golongan.

Untuk melahirkan kedamaian antara sunni dan syiah, maka sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Sunni dan Syiah sama-sama memiliki kebenaran dan kesalahan (khilaf), oleh karena itu, sebaiknya masing-masing golongan memelihara kebenaran yang dimiliki dan membuang kesalahan sikap yang ada khususnya hal-hal yang bernuansa “Takfir”, atau sekurang-kurangnya jangan saling menjajah dan mempengaruhi golongan lain, yang Islamnya Sunni biarkanlah mejadi muslim Sunni sepanjang hayat, begitupun sebaliknya yang sudah Syiah silahkan amalkan ideologi yang diyakini.
  2. Masalah umat Islam saat ini adalah isu murtad, atau sekurang-kurangnya keterbelakangan dunia Islam dari berbagai aspek kehidupan, politik, ekonomi, sains dan teknologi. Inilah tantangan dan cobaan utama, sehingga wajib menjadi perhatian bagi Sunni dan Syiah. Bukan justru mengulang sejarah hitam masa lampau seperti perang “Jamal” & “Shiffin” (sebuah wilayah di antara Kufah dan Syam). Di tempat itulah terjadi pertempuran antara pendukung Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Tidak perlu mengulang sejarah ini khususnya di negara-negara Islam di Asean. Biarkanlah ia menjadi sejarah masa lalu, dan kita harus menciptakan sejarah baru Islam dengan kemajuan sains dan teknologi.
  3. Sesungguhnya Syiah saat ini mempercayai bahwa Alquran yang ada sekarang ini atau mushaf Utsmani adalah benar dan mereka beramal dengannya. Dan inilah yang mendorong ulama Syiah bernama al-Sayyed Murtadha al-Ridhawi membuat sebuah buku khusus untuk membantah pandangan-pandangan ulama Syiah yang tidak mengakui mushaf Utsmani. Bahkan dari segi judul, dengan jelas beliau mencantumkan “al-Burhan ‘Ala ‘Adami Tahrif Alquran” yang bermakna peniadaan penyimpangan Alquran (Mushaf Utsmani). Dan sebagai bukti yang lain, di Iran orang Syiah membaca dan memperdengarkan ayat Alquran yang sama dengan sunni yang dikenal dengan Mushaf Utsmani, di samping itu Alquran inilah yang dipertandingkan dalam peringkat internasional di Iran, baik dalam Musabah Hifdzi Alquran (Hafalan Alquran) ataupun Musabaqah Tarannum (Lagu Alquran).

Dalam sejarah Taqrib (rekonsiliasi) atau sebuah usaha damai dan pendekatan antara mazhab sunni & Syiah, dalam hal ini syekh Mahmud Syaltut (mantan syekh al-Azhar wafat tahun 1963) pernah memfatwakan bahwa orang sunni boleh beribadah menurut mazhab ja’fari (fiqh Imamiyah). Dan fatwa secara tidak langsung memberikan sebuah kenyataan bahwa syiah Imamiah tidaklah sesat. Dan yang menarik dari fatwa ini, tidak ditemukan atau ditulis dalam empat kitab besar beliau, namun dimuat oleh majalah “Risalah al-Islam”, hal: 227-228, edisi ketiga, 6/1959 yang dikeluarkan oleh lembaga pendekatan mazhab-mazhab Islam, Kaherah. Oleh karena itu ada berbagai penilaian ulama tentang fatwa yang dikeluarkan oleh beliau ini. Dan Prof. Dr. Yusuf al-Qardawi kurang yakin dengan fatwa tersebut bahkan beliau menafikan keaslian adanya fatwa tersebut. Akan tetapi walau bagaimanapun penafsiran ini dapat disangkal, sebab dalam arsip ditemukan teks asli ucapan fatwa dalam majalah “Risalah al-Islam”:

قِيْلَ لِفَضِيْلَتِهِ: إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَرَي أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ لِکَى تَقَعُ عِبَادَاتُهُ وَمُعَامَلاَتُهُ عَلَى وَجْهٍ صَحِيْحٍ أَنْ يُقَلِّدَ أَحَدَ الْمَذَاهِبِ الأَرْبَعَةِ الْمَعْرُوْفَةِ وَلَيْسَ مِنْ بَيْنِهَا مَذْهَبُ الشِّيْعَةِ الإِمَامِيَّةِ وَلاَ الشِّيْعَةِ الزَّيْدِيَّةِ، فَهَلْ تُوَافِقُوْنَ فَضِيْلَتَکُمْ عَلَى هَذَا الرَّأْيِ عَلَى إِطْلاَقِهِ فَتَمْنَعُوْنَ تَقْلِيْدَ مَذْهَبِ الشِّيْعَةِ الإِمَامِيَّةِ الإِثْنَا عَشَرِيَّةِ مَثَلاً. فَأَجَابَ فَضِيْلَتُهُ: “إِنَّ الإِسْلاَم َلاَ يُوْجِبُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَتْبَاعِهِ اِتِّبَاعَ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ بَلْ نَقُوْلُ: إِنَّ لِکُلِّ مُسْلِمٍ الْحَقُّ فِي أَنْ يُقَلِّدَ بَادِيءَ ذِي بَدْءٍ أَيْ مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَنْقُوْلَةِ نَقْلاً صَحِيْحاً وَالْمُدَوَّنَةُ أَحْکَامِهَا فِي کُتُبِهَا الْخَاصَّةُ، وَ لِمَنْ قَلَّدَ مَذْهًباً مِنْ هَذِهِ الْمَذَاهِبِ أَنْ يَنْتَقِلَ إِلَي غَيْرِهِ أَىّ مَذْهَبٍ کَانَ وَلاَ حَرَجَ عَلَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ.”إِنَّ مَذْهَبَ الْجَعْفَرِيَّةِ اَلْمَعْرُوْفُ بِمَذْهَبِ الشِّيْعَةِ الإِمَامِيَّةِ الاِثْنَا عَشَرِيَّة مَذْهَبٌ يَجُوْزُ التَّعَبُّدُ بِهِ شَرْعًا كَسَائِرِ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ. فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِيْنَ أَن يَعْرِفُوا ذَلِكَ، وَأَن يَتَخَلَّصُوْا مِنَ الْعَصَبِيَّةِ بِغَيْرِ الْحَقِّ لِمَذَاهِبٍ مُعَيَّنَةٍ، فَمَا كَانَ دِيْنُ اللهِ وَمَا كَانَتْ شَرِيْعَتُهُ بِتَابِعَةِ لِمَذْهَبٍ، أَوْ مَقْصُوْرَةً عَلَى مَذْهَبٍ، فَالْكُلُّ مُجْتَهِدُوْنَ مَقْبُوْلُوْنَ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى يَجُوْزُ لِمَنْ لَيْسَ أَهْلًا لِلنَّظْرِ وَالاِجْتِهَادِ تَقْلِيْدُهُمْ، وَالْعَمَلُ بِمَا يُقَرِّرُوْنَهُ فِي فِقْهِهِمْ، وَلاَ فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلاَتِ”.

Artinya: “Beliau ditanya: Tuan Yang Utama, sebagian orang berpendapat bahwa wajib bagi seorang Muslim untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab yang terkenal agar ibadah dan muamalahnya benar secara syar’i, sementara Syiah Imamiah bukan salah satu dari empat mazhab tersebut, begitu juga Syiah Zaidiyah, apakah Tuan Yang Utama setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiyah Ithna ’Asyariyah misalnya? Beliau menjawab: Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti salah satu mazhab tertentu. Sebaliknya kami katakan: setiap Muslim punya hak mengikuti salah satu mazhab yang telah diriwayatkan secara sahih dan fatwa-fatwanya telah dibukukan. Setiap orang yang mengikuti mazhab-mazhab tersebut boleh berpindah ke mazhab lain, dan ia nya bukan suatu kesalahan. Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai Syiah Imamiyah Ithna ‘Asyariyyah (Syiah Dua Belas Imam) adalah mazhab yang dari segi syarak (agama) adalah harus untuk diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab Sunni lainnya. Kaum Muslim wajib mengetahui hal ini, dan sebolehnya menghindarkan diri dari prasangka buruk terhadap mazhab tertentu mana pun, karena agama Allah dan Syari’atnya tidak pernah dibatasi pada mazhab tertentu. Para mujtahid mereka diterima oleh Allah Yang Mahakuasa, dan dibolehkan bagi yang bukan-mujtahid untuk mengikuti mereka dan menyepakati ajaran mereka baik dalam hal ibadah maupun muamalah (kira bicara)”.

Sampai saat ini ulama masih tidak mendapatkan gambaran yang jelas dalam memahami fatwa tersebut. Dalam artian, apakah syekh Syaltut betul-betul memahami perselisihan Sunnah dan Syiah atau tidak, sehingga beliau berani mengeluarkan fatwa di atas tanpa klarifikasi dari kitab-kitab induk Syiah. Atau fatwa tersebut lahir hanya sekedar usaha pribadi yang tulus ikhlas “Lillah Ta’aala” untuk memperbaiki (menetralisir) hubungan Sunni dan Syiah ketika itu dengan tujuan menyatukan keutuhan dan persatuan Islam?

Pada hakikatnya, fatwa di atas yang dikeluarkan pada 6 Julai 1959 dari Rektor Universitas al-Azhar sifatnya ijitihad pribadi. Sebab beliau sangat prihatin terhadap adanya perbedaan dan silang pendapat yang tajam serta pertikaian yang berlarut-larut, yang hanya menimbulkan perpecahan umat. Oleh karena itu, syekh Syaltut terinspirasi untuk menghentikan hal-hal di atas dengan mengeluarkan fatwa yang tujuannya untuk menghormati mazhab lain, hidup berdampingan, bertoleransi, dan saling menghargai. Dan yang terpenting, sebagi I’tibar untuk semua golongan dan mazhab selain Ahlu Sunnah adalah, makna tujuan yang tersirat dari fatwa itu adalah “Pihak Sunni sangat terbuka untuk mazhab-mazhab lain dan menginginkan persahabatan dan bukan perbalahan, pertengkaran dan perseteruan”.

Sebagai pertanyaan, bukankah pihak Syiah sendiri yang melarang penganutnya beribadah menurut mazhab Sunni? Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Muhamad Husein Fadhlullah, seorang ulama Syiah yang disegani oleh penganut Syiah. Ia tegas melarang penganut Syiah beribadah dengan cara mazhab selain mazhab Ahlulbait[1]. Ketegasan ini jelas mencerminkan bahwa tidak ada jalan dan kemungkinan bagi kedua golongan tersebut untuk saling mendekatkan mazhab apatahlagi menyatukannya. Dengan demikian, sebaiknya beribadah sesuai dengan ajaran masing-masing, tidak perlu memaksakan ritual sunni dipakai oleh Syiah, dan Syiah juga tidak memaksakan ritualnya digunakan oleh Sunni, dan ini adalah penyelesaian dan solusi yang terbaik.

Sebagai catatan penting dalam menilai akidah syiah Imamiah, bahwa pada dasarnya mayoriti ulama Al-Azhar[2] menilai mereka sesat dan bukannya kafir sebagaiamana penilaian ulama di Arab Saudi yang bermazhabkan Wahabi[3]. Salah satu buku kontemporari Wahabi yang nyata-nyata mengkafirkan Syiah Imamiah adalah (Usul Mazhab al-Syiah al-Imamiah al-Itsna’asyariah, Mesir, Dar al-Riza, 1994), dikarang oleh Prof. Dr. Nasser Ali al-Qafari, buku ini asalnya adalah tesis PhD di King Saud University. Dan buku ini direspon oleh beberapa ulama kontemporari Syiah Imamiah, seperti ktab (al-Rad ala Kitab Usul Mazhab al-Syiah al-Imamiah al-Itsna’asyariah) dikarang oleh Dr. Abdul Qadir Abdul Samad, Beirut, Dar al-Wihdah al-Islamiah, 2002), dan kitab (Ma’a Dr Nasser al-Qafari fi Usuli Mazhabihi Haula al-Sunnah wa Ruwaatiha, Qum-Iran, Nasyr al-Faqaahah) dikarang oleh shekh Abu al-Fadl al-Islami.

Intelektual Syiah Imamiyah Antara Ekstremisme Dan Moderasi

Untuk menilai Syiah Imamiah secara objektif, ada baiknya dijelaskan dan dibentangkan dalam buku ini tentang perselisihan penafsiran masalah-masalah agama dalam puak Syiah Imamiyah. Sebab didapati bahwa ternyata dalam jenis Syiah sendiri terjadi perdebatan yang mendalam antara mereka sendiri, bahkan sampai kepada tahap dan peringkat klimaks yaitu saling menyesatkan antara satu sama lain, bahkan kadang diakhiri dengan sikap saling kafir mengkafirkan.

Oleh karena itu sejauh bacaan penulis, bahwa memang dalam Syiah terjadi pergesaran pemahaman dan penafsiran terhadap agama. Dan hal ini dapat dilihat dari segi sikap ulama mereka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran Ghulat (Ekstrim) atau dalam bahasa yang sederhana yaitu “pemikiran melampau”. Pemikiran ini mengarah kepada keyakinan yang mengandung unsur yang biasanya aneh dan ajaib yang sering dilekatkan kepada pribadi para imam-imam mereka, khususnya imam Ali as. Seperti keyakinan bahwa imam Ali adalah pembawa awan di langit, petir adalah batuknya, kilat adalah cambuk atau senyumnya, bahkan beliau mampu menghidupkan orang mati. Kesimpulannya, banyak riwayat-riwayat aneh yang dilekatkan kepada para imam-imam. Imam adalah “al-Badrul Munir”, “al-Siraj al-Zahir”, al-Nur al-Zati’”. Imam adalah tiangnya bumi, tanpa imam maka bumi akan hancur. Imam mengetahui hal-hal ghaib, bahkan mereka tahu bila akan mati, dan kematian bagi imam adalah pilihan, di mana imam kalau tidak mau mati makan Allah tidak akan mematikannya. Imam mengetahui banyak bahasa([4]). Dan masih banyak lagi kepercayaan-kepercayaan lainnya. Dan kesemua pemikiran tersebut merupakan bentuk ekstremisme jauh dari agama dan akal yang sehat. Seperti riwayat yang menyatakan bahwa Fatimah tidak mengalami menstruasi sebagaimana wanita-wanita lain di dunia([5]).

Riwayat-riwayat Syiah di atas jelas menunjukkan pemahaman yang sangat ektrim, yang sangat jauh dari akal pikiran sehat. Namun yang menjadi persoalan dan pertanyaan, apakah semua ulama Syiah Imamiyah membenarkan dan meyakini riwayat-riwayat di atas?

Untuk melihat objektivitas perkara ini secara mendalam, maka saya akan nukilkan ucapan-ucapan dan pandangan para tokoh dan ulama mereka ketika menghadapi riwayat-riwayat ekstrim seperti yang telah disebutkan di atas.

Pertama: Pandangan Ulama Moderat Syiah Imamiyah.

Dapat dijumpai beberapa pernyataan dari pada ulama-ulama mereka yang nampaknya menyalahi segala bentuk pemahaman dan penafsiran yang bersifat ekstrim, Syekh al-Mufid (ulama teologi Imamiyah) mengatakan: “Pandangan bahwa para imam Syiah dapat mengetahui hal-hal ghaib adalah tidak benar, sebab Allah saja yang maha tahu segala perkara-perkata ghaib, dan pendapat inilah yang mu’tamad dalam mazhab Syiah Imamiyah, kecuali mereka yang menyimpang yaitu mereka yang ekstrim (Ghulat)” ([6]). Imam al-Ridha menyatakan sifat-sifat asas imam: “Dilahirkan dan melahirkan, sehat dan sakit, ketawa dan menangis, makan dan minum, kencing dan buang air besar, hidup dan mati, dikuburkan dan diziarahi, lupa dan lalai, gembira dan sedih dll” ([7]).

Syekh Saduq menukilkan ucapan Syekh Abu Ja’far dalam kitab “al-I’tiqaadat fi Diin al-Imamiyah”: “Bagi kami Syiah ektsrim sungguh telah kafir, dan mereka sebenarnya lebih bahaya dari pada kaum Yahudi, Nasrani, Majusi, golongan Qadariah dan Hururiah (Khawarij), serta semua ahli bid’ah yang dapat menyesatkan umat” ([8]).

Syekh al-Mufid menegaskan bahwa: “Mereka -Pengikut Syiah ekstrim- adalah kafir, imam Ali sendiri memerintahkan untuk membunuh dan membakar mereka, para imam Syiahpun telah menyatakan kekafiran mereka dan keluar dari ajaran agama Islam” ([9]).

Syekh al- Tusi menyatakan bahwa: “Para periwayat dan hadits-hadits ekstrim tidak dapat diterima, sebab perawinya cacat dan dan merupakan hadits-hadits palsu, oleh karena itu riwayat mereka ditolak disisi Syiah Imamiyah” ([10]).

Seorang ulama Syiah Imamiyah kontemporer bernama syekh Ja’far Subhani menafikan kebenaran riwayat-riwayat ekstrim dalam kitab-kitab Syiah Imamiyah ([11]).

Kedua: Pandangan Ulama Ekstrim Syiah Imamiyah.

Setelah memaparkan pandangan ulama Syiah Imamiyah yang moderat dan mengecam periwayatan yang bernuansa ekstrim, maka selanjutnya penulis nukilkan pandangan-pandangan yang dianut oleh ulama eksrim imamiyah.

Ibnu Babwaih menjelaskan bahwa sebenarnya maksud sujudnya para Malaikat kepada Nabi Adam adalah bertujuan sujud karena cahaya para imam-imam Syiah ([12]).

Imam Khumaini menyatakan satu bentuk sikap ekstrim bahwa sesunggunya derajat para imam Imamiyah tidak dapat dicapai oleh Malaikat dan Nabi ([13]).

Apapun penilaiannya, ulama di Mesir hanya menyesatkan Syiah Imamiah, seperti dinyatakan dalam sebuah tesis Master yang ditulis oleh sheikh Taha Ali al-Sawah yang bertajuk: “Mauqif Al-Azhar Al-Sharif min Al-Syiah al-Itsna ‘Asyariah” diterbitkan oleh Darul Yusri, Kaherah tahun 2010, tesis ini sengaja ditulis untuk menghimpun pandangan ulama-ulama Al-Azhar tentang syiah Imamiah, dan berkesimpulan bahwa ulama Al-Azhar menganggap syiah Imamiah tergolong dalam aliran sesat. Kesesatan ini adalah sebagai sikap balik dari pada pandangan syiah Imamiah yang lebih awal menyesatkan, melaknat dan mengkafirkan para sahabat Rasulullah saw. Dan tentunya ini suatu hal yang wajar -tatkala Sunni menyesatkan Syiah Imamiah- sebab Syiah Imamiah sendiri yang memulakan hal tersebut, ibarat pepatah mengatakan “Kalau ada asap, tentu ada api”, oleh karena itu “Tiap-tiap sesuatu ada asal mulanya”. Dan yang paling perlu diingat bahwa Abu Bakar, Umar bin Khatab, Uthman bin Affan dan lainnya adalah para sahabat yang mulia di sisi Nabi Muhammad saw. Beliau pernah ditanya oleh sahabat mengenal mengenai insan yang baik dan mulia, dan beliau menjawab:

“قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ”

“ yang hidup sezaman denganku, kemudian manusia yang setelah mereka, kemudian manusia yang seterusnya[14].

Beliau juga bersabda:

“اَللهُ اَللهُ فِي أَصْحَابِي، لاَ تَتَّخِذُوْهُمْ غَرْضًا بَعْدِي، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّيْ أُحِبُّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِغَضْبِي أَبْغَضُهُمْ، وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي، وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللهَ، وَمَنْ آذَى اللهَ يُوْشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ”

“Allah, Allah, pada para sahabatku, jangan engkau jadikan mereka tujuan setelah kematianku. Barang siapa yang mencintai mereka (sahabat), maka dengan cintaku aku cintai mereka. Dan barang siapa yang membenci mereka (sahabat), maka dengan rasa benciku aku benci mereka. Dan barang siapa yang menyakiti mereka (sahabat) berarti dia telah menyakiti aku, dan orang yang menyakiti aku berarti dia telah menyakiti Allah. Dan barang siapa yang menyakiti Allah berarti Dia hampir mengambilnya”[15].

Inilah usaha yang dilakukan untuk mendekatkan mazhab Sunni dan Syiah, seperti mendirikan “Darul Taqrib Baina al-Mazahib al-Islamiyah” [pusat pendekatan antara mazhab Islam] dan menerbitkan majalah Risalah Al-Islam di Mesir. Pendirinya terdiri dari perwakilan Sunni dan Syiah. Pihak Sunni diwakili oleh Syekh Mustafa Al-Maraghi, Syekh Muhammad Syaltut dan Syekh Mustafa Abdul Raziq. Adapun dari kelompok Syiah diwakili oleh Sayyid Muhammad Husain Kasyif Al-Ghita’, Sayyid Jawwad Maghniah dan Sayyid Syarafuddin Al-Musawi. Kemudian, didirikan berbagai pusat pendekatan lain, seperti Muassasah Ahli Bait li Al-Fikri Al-Islami di Jordan. Pada tahun 1984, didirikan Muassasah Al-Imam Al-Khuu’i li At-Taqrib Baina Al-Mazahib Al-Islamiah. Selain itu, ada banyak usaha ilmiah lainnya dalam mendekatkan kedua golongan ini melalui seminar-seminar nasional dan internasional yang diadakan di berbagai negara Islam.

Namun semua usaha itu tidak efektif sebagaimana yang diharapkan. Bahkan sikap saling memburukkan dan saling mengkafirkan semakin meningkat.

Langkah untuk mendekatkan Sunni-Syiah sudah dihentikan. Oleh karena itu, perlu dibangunkan kembali aktivitas-aktivitas dan pintu penyelesaian lain. Contohnya, mengaktifkan sikap toleransi antara mazhab. Sebab perbedaan antara Sunni dan Syiah sangat fundamental dengan perbedaan yang menonjol pada ajaran masing-masing.

Imam Hasan Al-Banna dalam usaha menyelaraskan hubungan Sunni dan Syiah, berkata:

نَتَعَاوَنُ فِيْمَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ، وَيَعْذُرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمَا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ

“Kita bekerjasama dalam perkara yang kita sepaham, dan saling memaafkan satu sama lain dalam perkara yang kita perselisihkan”.

Pesan ini lebih kepada sikap toleransi, bukan pendekatan mazhab. Walaupun golongan Sunni dan Syiah adalah Islam, namun kandungan mazhab keduanya berbeda antara satu sama lain.

Sulit membedakan antara penganut Islam Sunni dan Syiah. Sekiranya Sunni mengakui Alquran dan sunnah adalah pegangan hidup dan asas seorang Muslim, Syiah pun demikian. Jika ada orang non-Muslim menghina Alquran dan sunnah, reaksi keras akan timbul dari keduanya. Contohnya, perancangan hari pembakaran Alquran sedunia oleh sebuah gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, yang dirancang oleh pendeta Terry Jones. Sunni dan Syiah menentang keras sehingga usaha pembakaran pun akhirnya berhasil digagalkan.

Namun, jika diteliti perbedaan dari segi akidah, kedua-keduanya sulit disatukan. Sunni dan Syiah perlu mengadakan dialog untuk tasamuh (toleransi), bukan untuk taqarub (pendekatan). Sikap toleransi berarti tidak saling tuduh-menuduh, menghancurkan, dan kafir-mengkafirkan. Meminjam istilah Prof. Hamid Thahir, semua perkara itu adalah al-musykilat az-zaaifah, yaitu permasalahan palsu, sebab tidak ada timbal-balik ketika usaha taqrib tidak membuahkan hasil kepada umat. Oleh karena itu, kedua-duanya perlu dibiarkan berkembang dengan normal dan tidak saling memaksakan akidah masing-masing.

Lebih buruk lagi sekiranya sifat saling menjatuhkan terjadi dalam golongan Ahlu Sunnah, yaitu antara aliran Asya’irah, Maturidiah, Salafiah dan Wahabiah. Implikasinya, seakan-akan Islam adalah agama perpecahan, tidak menginginkan persatuan dan kedamaian antara sesama penganut. Kita harus membangun bukan meruntuhkan, berdialog bukan berdebat, maju bersama-sama bukan mundur bersama-sama. Hindari menjajah golongan sendiri, cukuplah kita dijajah oleh non-Muslim yang belum selesai hingga kini karena sibuk dengan pertengkaran dan perseteruan antara mazhab.

Sekiranya kedua golongan Ahli Sunnah dan Syiah saling bersikap ta’ashub (fanatik), maka akan menghasilkan konflik dalaman. Setiap golongan merasa benar. Akhirnya bukan menambahkan perbaikan malah mengeruhkan perbedaan, sehingga terlupa agenda peningkatan status sosial umat. Sepatutnya, setiap aliran menghentikan perbincangan yang menjurus kepada pengkafiran karena dikhawatirkan timbul konflik dalam agama.

Hanya Allah sahaja yang mengetahui kekafiran umatnya. Oleh sebab itu konflik dalam dunia Islam sebaiknya diselesaikan dengan sikap toleransi dan saling menghormati.

[1] Muhamad Husein Fadhlullah, Masa’il Aqadiyah, hal: 110.

[2] Di antaranya: Shekh Hasanain Muhammad Makhluf (mantan Mufti Mesir), Shekh Muhammad ‘Arfah (anggota Lembaga Ulama Senior dan mantan ketua divisi Bimbingan dan Penerangan), Shekh Jaddul Haq Ali Jaddul Haq (mantan Mufti Mesir dan Grand Syaikh Al-Azhar), Shekh Mohd Sayyid Tantawi (mantan Mufti Mesir dan Grand Syaikh Al-Azhar), Shekh Athiyah Shaqer (ketua Komisi Fatwa Al-Azhar), Dr. Abdul Mun’im An-Namir (Wakil Shekh Al-Azhar dan mantan Menteri Waqaf Mesir).

[3] Persoalan kafir-mengkafirkan adalah isu penting dan menjadi kontroversi antara aliran Wahabi dan para penentangnya. Ia menjadi isu yang mengisi pemikiran Islam sejak berabad-abad lamanya. Golongan Khawarij dikatakan golongan yang mula-mula sekali mengkafirkan ahli Qiblat, iaitu mereka yang masih lagi solat menghadap qiblat. Kemudian diikuti pula oleh puak-puak Islam lain, seperti golongan Wahabi. Lihat: Dr. Hersi Mohamad Hilole, Wahabi Sesatkah Mereka, 83. Malaysia, PTS Millennia SDN. BHD, 2012.

[4] Teks riwayat dalam Ushul Kafi, 1/373:

عن علي بن جعفر عن أخيه أبي الحسن عليه السلام قال: “إن فاطمة عليها السلام صديقة شهيدة، وإن بنات الأنبياء لا يطمثن”.

Sementara dalam kitab yang sama terdapat riwayat lain yang menyalahinya:

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: “كان بين الحسن والحسين عليهما السلام طهر، وكان بينهما في الميلاد ستة أشهر وعشرا”.

Riwayat jelas dan nyata bahwa Fatimah juga mengalami menstruasi.

[5] Teks riwayat dalam Ushul Kafi, 1/373:

عن أبي عبد الله أن الحسن قال: “إن لله مدينتين، إحداهما بالمشرق والأخرى بالمغرب، وفيها سبعون ألف ألف لغة … وأنا أعرف جميع تلك اللغات”.

 

Riwayat menyebutkan bahwa imam Hasan mahir dalam semua bahasa manusia.

[6] Awaail al-Maqaalat, hal 77.

[7] ‘Uyun Akhbar al-Ridha, 1/193, Muassasah al-A’lamy, Beirut-Lebanon, 1404H.

[8] Al-I’tiqaadat fi Din al-Imamiyah, 71, 72.

[9] Awaail al-Maqaalat, hal 238.

[10] ‘Iddat al-Ushul, hal 351, Muassasah Aal al-Bait, Qum.

[11] Buhuuts fi al-Milal wa al-Nihal, 7/10, Muassasah al-Shadiq, Qum, 1416H.

[12] Teks ucapan Ibnu Babwai dalam kitabnya “Kamal al-Din wa Tamam al-Ni’mah” 1/13:

“السر في أمره تعالى الملائكة بالسجود لآدم واستعباد الله عز وجل الملائكة بالسجود لآدم تعظيما له … وذلك أنه عز وجل إنما أمرهم بالسجود لآدم لما أودع في صلبه عليه السلام من أرواح حجج الله تعالى”. ويراد به (الأئمة).

[13] Tek ucapan imam Khumaini dalam bukunya “al-Hukumah al-Islamiyah” hal 52, 53:

“فإن للإمام عليه السلام مقاما محمودا ودرجة سامية، وخلافة تكوينية تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون، وإن من ضروريات مذهبنا أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل، وبموجب ما لدينا من الروايات والأحاديث، فإن الرسول الأعظم صلى الله عليه وآله وسلم، والأئمة عليهم السلام كانوا قبل هذا العالم أنوارا، فجعلهم الله بعرشه محدقين، وجعل لهم من المنزلة والزلفى ما لا يعلمه إلا الله … وقد ورد عنهم أن لنا مع الله حالات لا يسعها ملك مقرب، ولا نبي مرسل، ومثل هذه المنزلة موجود لفاطمة عليها السلام”.

[14] Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, Kitab Fadha`il ash-Shahabah, bab Fadhlu ash-Shahabah allazina Yalauwnahum, no 4600, dengan sanad Abdullah bin Mas’ud.

[15] Diriwayatkan oleh at-Tirmizy dalam Sunan-nya, Kitab al-Manaqib An Rasulillah, bab: Fiman Sabba Ashabin-Nabiyy, no 3797, dengan sanad Abdullah bin Mughaffal.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni
Associate Professor at Department of Akidah and Religion Studies, Faculty of Leadership and Management, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Born on June 11, 1973, Indonesia. He specializes in studies comparing the doctrine and political thought of the Sunnis and Shiites. He received his bachelor degree in Islamic Law from University of Al-Azhar, Tanta-Egypt 1997, Master (2002) & PhD (2005) in Islamic Philosophy at Faculty of Darul Ulum, University of Cairo, Egypt. In 2016, he was a visiting professor at the Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Currently has written 13 books in Malay and Arabic, and published in various countries: Lebanon: 1) مَوْقِفُ الزَّيْدِيَّةِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ مِنَ الْعَقِيْدَةِ الإِسْمَاعِيْلِيَّةِ وَفَلْسَفَتِهَا, 2009, Darul Kutub Ilmiah, Beirut. (PhD Thesis), ISBN: 978-2-7451-6255-7 2) نَشْأَةُ الْفِرَقِ وَتَفَرُّقُهَا, 2011, Darul Kutub Ilmiah, Beirut, ISBN: 9782745172464 3) اَلْعَقِيْدَةُ الإِسْلاَمِيَّةُ وَالْقَضَايَا اَلْخِلاَفِيَّةُ عِنْدَ عُلَمَاءِ الْكَلاَمِ, 2014, Darul Kutub Ilmiah, Beirut, ISBN: 13-978-2-7451-7854-1 Cairo-Egypt: 1) مَسَائِلُ الاِعْتِقَادِ عِنْدَ الإِمَامِ الْقُرْطُبِيِّ, 2009, Muassasah 'Ilyaa, Cairo-Egypt. (Master Thesis). Malaysia: 1) اَلْفِرَقُ الشِّيْعِيَّةُ وَأُصُوْلُهَا السِّيَاسِيَّةُ وَمَوْقِفُ أَهْلِ السُّنَّةِ مِنْهَا, 2009, USIM, ISBN: 978983295093-6 2) مَدْخَلٌ إِلَى عِلْمِ الْكَلاَمِ, 2011, USIM, ISBN: 978-967-5295-79-9 3) اَلْمَذَاهِبُ الْعَقَائِدِيَّةُ الإِسْلاَمِيَّةُ, 2014, USIM, ISBN: 978-967-5295-42-3 4) Agenda Politik Syiah, 2013, PTS, Malaysia, ISBN-13: 978-967-411-030-7 5) Adakah Kawanku Syiah, 2014, PTS, Malaysia, ISBN-13: 978-967-411-269-1 6) Imam Mahdi, 2016, PTS, Malaysia, ISBN-13: 978-967-411-749-8 Indonesia: 1) Syawarifiyyah, Sinonim Arab – Indonesia, 2009, Ciputat Press, Jakarta, ISBN: 978-979-3245-66-9- 2) Konflik Pemikiran Politik Aliran-Aliran Syiah, 2017, Penerbit Dar'ami, Jakarta, ISBN: 978 - 602 - 73707 - 1 - 5 His works have been collected by various universities in the world, both in the Middle East, America, Europe and Japan, even Israel and Iran, such as: Harvard University, Yale University, Penn University, Stanford University, National Library Of Israel, National Library Of Iran, Chigago University, Kyoto University, Uc Berkeley University, Ohio University, University of Arizona, University of Arizona, Washington University, New York University, University Of Toronto, Columbia University, Library Of Congress, University Of Michigan, Princeton University, Leiden University, Astan Quds Razavi Library Iran etc.

Lihat Juga

Anggota DPR AS: Trump Picu Kebencian pada Islam di Amerika

Figure
Organization