Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Islam Memandang Kepemimpinan

Islam Memandang Kepemimpinan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Islam memandang kepemimpinan sebagai sesuatu yang harus ada. Sebagaimana banyak disebutkan dalam teks Alquran dan Hadits. Begitu pun dengan beberapa qaul al-sahabah (perkataan sahabat) yang menghendaki untuk adanya kepemimpinan. Allah berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4]: 59).

Nabi Muhammad secara jelas menyebutkan soal kepemimpinan dalam salah satu sabdanya, “Setiap orang di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin dan akan ditanya soal kepemimpinannya. Seorang pelayan/ pegawai juga pemimpin dalam mengurus harta majikannya dan ia dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.” (Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Umar r.a. no. 893, 2409, 2558, 2751, 5188, 5200 dan Shahih Muslim dari Ibnu Umar no. 4724, HR. Tirmidzi; bab al-jihad, HR. Abu Dawud; bab al-Imarat dan HR. Ahmad; bab al-Iman).

Kebaikan yang tidak terorganisir akan dapat terkalahkan dengan keburukan yang terorganisir (Ali bin Abi Thalib). Tiada Islam melainkan dengan jama’ah, tiada jama’ah melainkan dengan kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan melainkan dengan ketaatan (Abu Bakar al-Shiddiq).

Taat dan patuh kepada Ulil Amri dalam ketentuan-ketentuan Allah adalah wajib. Ini berdasarkan suruhan supaya kembali kepada Alquran dan As-Sunnah dalam memecahkan segala persoalan yang diperselisihkan. Karena itu jika seorang pemimpin memerintahkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya maka seluruh kaum Muslimin wajib mentaati perintah tersebut. Jika memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya maka dia tidak punya hak untuk ditaati dan dipatuhi (Hawwa, 2013: 101).

Pemimpin merupakan wakil Tuhan dalam mengurus umat manusia dan sekaligus wakil umat manusia dalam mengatur dirinya. Pemimpin yang menghayati bahwa hakikat kepemimpinan adalah pertanggung jawaban diharapkan masing-masing orang berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat luas. Pemimpin/ penguasa tidak ditempatkan pada posisi sebagai sayyid al-ummah (penguasa umat), melainkan sebagai khadim al-ummah (pelayan umat). Dengan demikian, kemaslahatan umat wajib senantiasa menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan oleh para penguasa, bukan sebaliknya rakyat atau umat ditinggalkan (Hamzah, 2011: 202).

Urgensi Kepemimpinan

Dalam Islam kepemimpinan sangat urgen keberadaannya. Urgensi kepemimpinan dapat tergambarkan dalam perkataan al-Afwah al-Audi’, seorang penyair jahili yang mengatakan:

“Kekacauan tidak akan menyelamatkan manusia selama tidak ada pemimpin, pemimpin tidak akan ada apabila orang-orang bodoh berkuasa. Rumah tidak akan berdiri di atas tiang, tiang tidak akan ada apabila tidak dibangun fondasi. Apabila pondasi, tiang, dan penghuni berkumpul, maka mereka akan sampai pada tujuan yang dikehendaki.”

Orang-orang yang pesimis takut jika angin bertiup tidak sesuai dengan arah kapal, sedangkan orang yang optimis senantiasa berharap angin menjadi tenang. Akan tetapi, seorang pemimpin dia akan membetulkan letak layarnya agar bisa mengambil manfaat dari kekuatan angin tersebut (As-Suwaidan & Basyarahil, 2005: 13).

Hakikat Kepemimpinan

Bicara soal kepemimpinan, maka perlu kiranya untuk melihat lebih dalam apa hakikat kepemimpinan. Menurut Jasiman (2012: 233-239), beliau memaknai kepemimpinan sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan adalah kepedulian

Pemimpin yang sebenarnya adalah pemimpin yang lahir dari masyarakat. Ia adalah orang yang prihatin atas situasi dan kondisi yang melanda masyarakatnya, lantas ia memberikan kepedulian dengan memberikan advokasi dan pembelaan. Ia adalah orang yang mencintai masyarakat dan berat hati melihat mereka dalam kesulitan. Ia adalah orang yang dengan cintanya selalu berusaha mencari solusi atas problematika yang mereka hadapi. Demikian itulah yang dirasakan oleh Rasulullah, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Alquran:

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128).

  1. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggung jawab

Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar. Ia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan manusia dan di hadapan Allah. Jabatan bukan merupakan keistimewaan, apalagi kalau jabatan itu bukan diberikan kepadanya tapi ia sendiri yang memintanya. Terlebih buruk lagi apabila kepemimpinan atau jabatan itu ia dapatkan dengan dan membohongi rakyat melalui money politic-nya. Jadi, seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa dan menuntut diistimewakan.

  1. Kepemimpinan adalah pengorbanan

Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan. Sebaliknya, menjadi pemimpin adalah untuk berkorban lebih banyak bagi kemaslahatan agama, umat, bangsa, dan negaranya. Apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit.

  1. Kepemimpinan adalah kerja keras

Ketika seseorang diberi amanah kepemimpinan, pada saat itu ia dituntut untuk bekerja keras menunaikan tugas dan tanggung jawab besar yang akan ditanyakan di akhirat nanti, apakah dia menjaga amanah atau melalaikannya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin tentang kepemimpinan yang dibebankan kepadanya; apakah dia menjaganya atau melalaikannya; hingga seorang laki-laki akan ditanya tentang anggota keluarganya.” (HR. Ibnu Hibban).

  1. Kepemimpinan adalah pelayanan

Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya. Oleh karena itu, menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk melayani rakyatnya. Setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan bagi orang-orang yang dipimpinnya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Atas dasar itu, sebenarnya bukan pada tempatnya apabila pemimpin itu justru minta dilayani oleh rakyat.

  1. Kepemimpinan adalah keteladanan dan kepeloporan

Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi maka ia tunjukkan kesederhanaannya, bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran. Sebagaimana ia adalah pelopor dalam melakukan kebaikan, ia adalah orang yang paling jauh dari keburukan dan kemungkaran.

Refleksi

Krisis terbesar dunia saat ini adalah krisis keteladanan. Krisis ini jauh lebih dahsyat dari krisis energi, kesehatan, pangan, transportasi dan air. Karena dengan absennya pemimpin visioner, kompeten, dan memiliki integritas yang tinggi maka masalah air, konservasi hutan, kesehatan, pendidikan, sistem peradilan, dan transport akan semakin parah. Akibatnya, semakin hari biaya pelayanan kesehatan semakin sulit terjangkau, manajemen transportasi semakin amburadul, pendidikan semakin kehilangan nurani welas asih yang berorientasi kepada akhlak mulia, sungai dan air tanah semakin tercemar dan sampah menumpuk dimana-mana. Ini lah, antara lain permasalahan yang dialami dunia muslim, termasuk Indonesia (Antonio, 2009: 3).

Indonesia dan dunia Islam saat ini sangat merindukan pemimpin politik yang memiliki visi, kompetensi dan compassionate untuk memajukan bangsanya. Indonesia merindukan suri tauladan leadership yang meyakini bahwa jabatan adalah tanggungjawab dunia akhirat dan bukan kemegahan serta peluang (opportunity) untuk menambah kekayaan semata dengan apapun caranya. Pemimpin yang tidak bisa tidur nyenyak karena masih banyak rakyatnya yang bergizi buruk. Pemimpin yang tidak bisa bercuti panjang karena banyak Puskesmas dalam keadaan memprihatinkan. Pemimpin yang tidak terlalu nikmat duduk dalam ruangan ber-AC sementara masih banyak rakyatnya korban longsor, lumpur dan banjir berada di tenda-tenda pengungsian. Pemimpin yang tidak tega meminta kenaikan gaji dan fasilitas karena sebagian pegawai PNS gaji pokoknya tidak lebih besar dari anggaran telepon rumah seorang pejabat di tingkat kabupaten (Antonio, 2009: 5).

Daftar Pustaka

Antonio, M. S. (2009). Muhammad Saw: The Super Leader Super Manager. (C. Sholehudin, & M. N. Ali, Eds.) Jakarta: Tazkia Publishing.

As-Suwaidan, T. M., & Basyarahil, F. U. (2005). Melahirkan Pemimpin Masa Depan. (A. Anggoro, Ed., & Habiburrahman, Trans.) Jakarta.

Hamzah, F. (2011). Negara, Pasar Dan Rakyat: Pencarian Makna, Relevansi Dan Tujuan. (E. Wijayanto, Ed.) Jakarta: Faham Indonesia.

Hawwa, S. (2013). Al-Islam. (T. I’tishom, Ed., F. N. Syam, & M. Dhofir, Trans.) Jakarta Timur: Al-I’tishom.

Jasiman. (2012). Rijalud Daulah. (A. Ghufron, Ed.) Solo: Era Adicitra Intermedia.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fajar Romadhon

Lihat Juga

Anggota DPR AS: Trump Picu Kebencian pada Islam di Amerika

Figure
Organization