Home / Pemuda / Cerpen / Bersemi di Musim Gugur

Bersemi di Musim Gugur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Ikut gue sekarang juga !”, ku tarik paksa tangan Bilal.

“Eeh… mau kemana ?”, Bilal meronta, mencoba melepaskan genggaman tanganku. “Maaf, sebenarnya kamu mau bawa saya kemana ? Tolong lepaskan tangan saya”, tegasnya.

Mendengarnya bicara lebih tegas, langkahku terhenti. Ku lepaskan tangannya dari genggaman tanganku. “Gak usah bawel deh, mendingan sekarang lo ikutin gue, atau gue tarik lagi tangan lo. Cepet !”, aku ngotot.

Hari itu adalah hari pertaruhan uang jajan ku selama satu bulan full. Risma, Dini dan Vera menantangku untuk ‘nembak’ cowok yang superduper kuper dan kuno se-SMA Harapan Mulia. BILAL. Rambut kelimis, pakaian selalu rapi, dan peci yang tak pernah dilepasnya selain di dalam kelas, membuatnya terlihat semakin kuno dan gak kece. Oh Tuhan… kalau saja bukan karena mempertaruhkan gelarku sebagai ‘cewek penakluk’ di SMA Harapan Mulia, rasanya sampai mati aku gak akan pernah mau dekat-dekat dengan cowok model Bilal yang jauh dari kriteria cowok-cowok yang pernah aku taklukan sebelumnya di sekolah. Apalagi harus ‘nembak’ dia. Iyyuuuhhh… Menolak tantangan sama dengan menjatuhkan harga diriku sebagai ‘sang penakluk’ di hadapan seluruh siswa SMA Harapan Mulia. “Gue gak salah denger kan, sist ? Si Bilal doang nih korban gue selanjutnya? Ah, keciiil”, remehku sambil menjentikkan jari di hadapan ketiga sahabatku tempo hari.

“Udah deh, lo buktiin aja dulu. Kalo emang lo bisa naklukin si kuper, gelar lo sebagai cewek penakluk udah gak bisa terkalahkan lagi. Dan sebagai imbalannya, kita bertiga siap jadi babu lo selama sebulan”, tantang Vera mantap.

“Oke, siapa takut. Si kuper doang. Heuh..”, aku menjawab yakin tantangan mereka.

“Tapi kalo lo gak berhasil, selain gelar lo yang diragukan, lo juga harus jadi babu kita. Seminggu aja deh, tapi sebulan full lo harus traktir kita semua di kantin sekolah. Gimana ? Deal ?”, tambah Risma lebih menantang.

Tanpa berpikir panjang dan demi mempertaruhkan gelar kehormatan sebagai ‘sang penakluk’, ku iya-kan tantangan mereka.

Lebih dari 10 orang cowok yang pernah kutaklukan di hadapanku sebelumnya. Mulai dari siswa baru, teman satu angkatan, atau pun kakak kelas. Dari berbagai anggota ekskul yang hampir semuanya merupakan deretan cowok-cowok favorit yang menjadi idola di sekolah. Selain mereka semuanya ganteng dan kece abis, kekayaan mereka juga rasanya gak akan ada habisnya. Ada yang anak pejabat, anak pengusaha terkaya, sampe anak guru pun pernah masuk ke dalam daftar targetku sebagai pacar.

Dan sekarang, cowok pendiam yang hobinya jagain Masjid sekolah yang akan menjadi targetku selanjutnya. Kecil kemungkinannya dia bisa nolak aku. Secara yah, aku ini cewek terpopuler di sekolah. Anak dari seorang konglomerat ternama di Bandung, dan juga pemilik dari SMA Harapan Mulia. Siapa yang bisa nolak aku untuk menjadi pacarnya?

***

Bilal tersenyum setelah aku berhasil mengutarakan keinginanku. “Nadia, cinta itu sejatinya adalah sebuah anugerah dari Tuhan kita. Bagaimana mungkin aku sebagai hamba-Nya yang tak punya apa-apa ini, berani untuk mempermainkan anugerah terindah yang Dia titipkan dihati ini. Cintailah Dia, kelak kamu akan mendapatkan cinta sejatimu. Cinta yang tulus dan suci, yang tidak terungkap hanya di bibir saja, tapi terbukti dengan pengabdiannya padamu karena abdinya pula pada Tuhan-nya. Cinta adalah anugerah-Nya yang terindah, tapi mampu mencintai-Nya sepenuh hati adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya, sekalipun kamu kumpulkan seluruh uang yang ada di setiap penjuru dunia ini. Percayalah”, panjang lebar dia menjawab permintaanku

Aku terdiam mendengar, bahkan memperhatikan setiap ucapannya yang begitu bijaksana dan mendamaikan hati yang terurai beraturan dari mulut Bilal. Tak pernah kusangka sebelumnya si kuper itu bisa mengeluarkan untaian mutiara hati.dari lisannya. Setiap kata yang ia lontarkan bagaikan gemericik air yang mengalir di sungai yang jernih. Menyejukkan.

Melihatku yang hanya bisa terdiam tanpa kata, si kuper itu pun kembali tersenyum dan berpamitan untuk kembali ke kelas, karena suara bel sudah berdering sejak tadi. “Aku ke kelas duluan ya Nad. Assalamu’alaykum”, Bilal pun berlalu.

Tak jauh dari tempatku duduk termenung setelah ditinggal pergi oleh si kuper, ketiga teman ku cekikikan puas sambil menghampiriku yang masih diam terpaku. “Udah siap jadi babu selama satu minggu kan, Non?”, ujar Dini sambil menyenggol pundakku. Tapi aku masih tetap terbengong melongo.

“Wah… kita bakal makan enak gratis dong sebulan ke depan. Hahaha”, Risma menambahkan sambil tertawa puas, disambung dengan tawa lepas dari Dini dan Vera.

Aku beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan ketiga temanku, tanpa peduli apa yang baru saja mereka katakan. Ketiga temanku pun kebingungan melihatku yang diam seribu bahasa.

***

Kutaruh diatas meja selembar kertas berwana merah dengan gambar Bung Karno di salah satu sisinya. Kutinggalkan Vera, Risma dan Dini yang masih asyik menyantap hidangan yang berserakan di meja makan kantin sekolah. Tanpa kata aku berlalu, pergi.

“Nad, mau kemana ? Makanannya belum abis nih…”, teriak Dini mencoba menghentikan langkahku. Tapi teriakannya sama sekali tidak membuat langkahku terhenti, aku tetap berlalu.

Sudah satu minggu ini aku merogoh jatah uang saku ku untuk membayar semua makanan yang dipesan dan dinikmati oleh ketiga temanku. Aku bukanlah pengecut yang menolak tantangan ataupun menarik kata-kata yang telah aku ucapkan sendiri. Kekalahanku dalam taruhan dengan ketiga temanku tempo hari, harus ku bayar lunas. Soal menjadi babu mereka betiga, tak ada satupun dari mereka bertiga yang berani menjadikanku pesuruh untuk mereka, padahal mereka sendiri yang menantangku. Ah, lagi pula mana ada yang berani menjadikan putri tunggal pemilik sekolah ini sebagai pesuruhnya, pikirku.

Aku melenggang dengan tatapan kosong. Apa yang Bilal katakan beberapa hari lalu masih belum bisa aku lupakan. Masih terlalu jelas untuk kuingat bagaimana dia merangkaikan kata-kata yang sanggup menghujam jantungku. Membuatku tak mampu membantah apa yang dia katakan.

Saat kuedarkan pandanganku ke sekeliling orang-orang yang berlalu lalang di sekitarku, mataku terhenti pada sosok yang sudah tidak asing lagi. Bilal, itu Bilal. Ya Tuhan, mau ku taruh di mana muka ku ini. Aku masih merasa malu jika harus bertemu dengannya. Baru kali ini aku benar-benar salah tingkah saat bertemu dengan seorang laki-laki. Langkahku maju-mundur, sementara Bilal terus melangkah kearahku. Ya Tuhan, mau apa lagi dia menghampiriku ?

“Assalamu’alaykum, Nadia…”, sapa Bilal sambil tersenyum dan berlalu begitu saja dari hadapanku. Entah seperti apa wajahku saat itu.

Ada yang lain dari wajah Bilal. Aku baru sadar kalau senyumannya begitu manis dan meneduhkan hati. Aku masih tak berkutik ditempatku berdiri, sementara Bilal sudah melangkah jauh dari ku. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar, kalau saat itu aku sedang berdiri didekat Masjid sekolah. Rupanya dia berjalan menuju Masjid, bukan sengaja untuk menghampiriku. Ini benar-benar konyol.

Saat aku sadar aku berdiri tak jauh dari Masjid, rasanya ada yang menggerakkan kakiku untuk melangkah ke arah Masjid. Tidak, bukan Bilal ataupun sekedar senyumannya yang membuatku tergerak menuju rumah Tuhan, tapi ada hal lain, entah apa itu.

Kutatap ruang tanpa sekat, yang cukup untuk beberapa ratus orang di dalamnya. Dinding putih bertuliskan huruf-huruf arab yang melingkari seluruh ruangan masjid, menjadi saksi bisu pijakan pertamaku di rumah Tuhan yang sudah lama tak pernah aku kunjungi. Tubuhku tiba-tiba menggigil, bibirku kelu, dada tersa sesak, dan tanpa aku sadari kedua pipiku telah basah oleh tetesan air yang sedari tadi menganak sungai di kedua kelopak mataku. Lututku bergetar hingga membuatku terduduk. Melihat Lafadz Allah dan Muhammad di atas sebuah ruangan yang disiapkan untuk Imam memimpin jamaah shalat, membuat hatiku merasa tak karuan. Ada sesal yang mendalam yang tak kumengerti dan tak dapat kuungkapkan. Aku hanya terduduk menangis. Terus menangis hingga sesenggukan.

“MasyaAllah Ukhti, kamu kenapa menangis di depan pintu Masjid ?”, sapa seorang gadis berseragam sekolah dan berjilbab lebar menjuntai menutupi hampir sebagian tubuhnya.

Gadis itu merangkulku, lalu mengajakku menepi ke tempat shalat khusus perempuan. Kulihat sebuah ketulusan dan keteduhan jiwa dari tatapan matanya. Membuatku iri ketika ku lihat kelembutan dan keanggunan yang terpancar dari raut wajahnya yang cantik.

“Ukhti, apapun masalahmu, adukanlah pada Sang Maha Kuasa. Sungguh Dia Maha Mendengar apapun keluhan kita. InsyaAllah Dia akan memberimu jalan keluar terbaik untuk setiap masalah yang kita hadapi, sekalipun masalah itu timbul atas kesalahan yang kita sebabkan sendiri.. Bersabarlah Ukhti.”

Entah apalagi yang membuatku seperti hilang kendali. Kali ini, aku menceritakan kealpaanku dalam menyembah Tuhanku. Bahkan aku pun menceritakan tentang Bilal, hingga akhirnya langkahku tertuntun menuju rumah-Nya yang Maha Kuasa ini.

Aku tahu, baru kali ini aku bertemu dengan gadis itu. Bahkan namanya pun aku belum tahu. Tapi aku sudah berani menceritakan hal yang sangat pribadi rasanya. Ku pikir, aku bercerita pada orang yang tepat, dan mungkin gadis ini bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku.

***

Pagi itu SMA Harapan Mulia dibuat heboh. Kasak-kusuk dari mulut kemulut terdengar beragam bunyinya. Ada yang bernada positif, tapi tak sedikit yang bernada sumbang, mengejek, mencibir bahkan melecehkan.

“Ah, paling itu mah akal-akalannya dia aja buat bisa dapetin si Bilal. Padahal kan dia udah ditolak mentah-mentah tuh sama si cupu and de’kuper.”

“Idih, cewek macam dia yang katanya anak konglomerat, ternyata seleranya rendahan yah. Masa dia sampe merubah penampilan sih, cuma buat menggaet si kuper doang.”

Dan masih banyak lagi celotehan-celotehan yang hampir menjatuhkan mentalku, terlontar dari mulut siswa-siswi SMA Harapan Mulia.

Hari itu aku lah tersangka utamanya yang membuat hampir seluruh penduduk SMA Harapan Mulia heboh. Mulai dari guru, siswa, satpam sekolah bahkan penjaga kantin pun ikut heboh dengan kehadiranku yang tak biasanya hari itu. Tak ada lagi rok mini di atas lutut, sepatu ber-merek, tas ber-merek, ataupun mobil mewah parkir didalam sekolah yang biasanya mengantar-jemput putri pemilik SMA Harapan Mulia ini. Kini yang ada berbanding terbalik dengan keadaan sebelumnya, seragam serba panjang yang menutupi tubuhku, tas dan sepatu sederhana tanpa merek, dan sepeda yang kukayuh dari rumah lalu kuparkir di halaman sekolah. Dan yang lebih membuat mereka heboh adalah rambut panjang yang hampir setiap hari di creambath, hari ini ku tutup rapi dengan sehelai kain yang bernama jilbab.

Ya, perbincanganku dengan Kinan, gadis yang merangkulku saat pertama kali ku pijakkan kakiku di rumah Allah, membuatku tersadar betapa selama ini aku melupakan rasa syukurku terhadap-Nya yang telah melimpahkan kenikmatan begitu banyak untukku. Sadar akan kata cinta yang sering kali ku gunakan sebagai permainan, hanya membuat ku dipermainkan oleh hawa nafsuku sendiri. Cinta yang justru membuatku menjadi rakus dan tamak, membuatku semakin jauh dari kebahagiaan yang ku cari, meski telah cukup banyak orang yang mengungkapkan cintanya untukku.

Kini aku tahu, cinta yang sejati tak kan pernah terungkap dengan mudah, tak kan bisa terukur oleh keindahan fisik yang kelak kan memudar dimakan usia, bahkan tak kan sanggup ternilai oleh berapapun banyaknya jumlah harta didunia yang kita miliki. Cinta sejati adalah ketika kita mampu mencintai Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang memberikan kita kebahagiaan hakiki yang tak kan pernah ternilai harganya.

Aku senang akhirnya aku mendapatkan teman yang bisa menuntunku kearah yang lebih baik. Membuatku menjadi orang yang lebih bersyukur atas apa yang ku miliki saat ini. Dialah Kinan, temanku, sahabatku, saudari seimanku.

Dini, Vera dan Risma, kompak menjauhi ku saat pertama kali dia melihatku sudah memakai jilbab. Ku biarkan mereka menjauh, meski sebenarnya aku sangat berharap mereka tetap bersedia berteman denganku. Walaupun begitu aku kan slalu mendoakan mereka agar segera mendapatkan hidayah dari-Nya seperti yang kini telah ku dapatkan. Allahumma Aamiin.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Kelahiran Majalengka, beberapa tahun lalu. Saat ini sedang menikmati setiap kegiatan di Yayasan Ihya Ul Ummah, Kota Bambu Jakarta Barat.

Lihat Juga

Indonesia Bersiap Menyambut El Nino

Figure
Organization