Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sukses… Sukses… Sukses…

Sukses… Sukses… Sukses…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sukses, manusia mana yang tak ingin sukses. Baik laki-laki maupun perempuan pasti mendambakan kesuksesan. Tak menghitung perbedaan usia. Padahal kesuksesan itu pun tak bersifat mutlak. Kesuksesan hanya bersifat relatif. Sehingga standar kesuksesan setiap orang pun berbeda-beda. Jika satu orang mengatakan bahwa itu sudah sukses, belum tentu yang lainnya akan mengatakan hal yang serupa.

Lantas sukses seperti apakah yang seharusnya dicari? Apakah sukses yang bersifat materi atau non materi? Kebanyakan orang memang mendambakan kesuksesan materi. Meraih pendidikan setinggi-tingginya. Mendambakan penampilan yang serba sempurna. Mencari kekayaan. Tak salah jika kita berusaha meraih pendidikan setinggi mungkin, apalagi jika dengan niat mulia. Agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Akan tetapi kebanyakan orang justru hanya ingin mendapatkan gelar saja tanpa benar-benar memahami ilmu apa saja yang sudah didapatkannya selama ini.

Penampilan. Ketampanan, kecantikan. Banyak juga orang yang berbondong-bondong ingin mendapatkan ketampanan dan kecantikan itu. Padahal ketampanan dan kecantikan sifatnya hanya sementara. Kelak ketika usia sudah menua, ketampanan dan kecantikan itu akan memudar dengan sendirinya. Terkadang orang yang memiliki ketampanan dan kecantikan itu tak berbanding lurus dengan ketampanan dan kecantikan hatinya. Lantas untuk apa memiliki ketampanan dan kecantikan yang tak abadi? Bukankah dengan memiliki hati yang baik, kecantikan dan ketampanan itu akan memancar dengan sendirinya?

Materialistis. Segala-galanya diukur dengan uang, bahkan kebahagiaan pun bisa dibeli. Sehingga semakin banyak orang yang mengejar kekayaan itu. Berlomba-lomba mendirikan bangunan megah, membeli mobil mewah, mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Seluruh waktunya pun seakan terkuras hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Demi mengeruk pundi-pundi rupiah. Padahal itu hanya kepuasan sesaat yang tak kan memberikan ketenangan dalam hidup ini.

Non materi. Dibilang sukses kalau sudah populer. Oleh sebab itu semakin banyak orang berlomba-lomba menjadi selebritis. Ajang pencarian bakat pun bermunculan di mana-mana, dari yang kelas kecamatan hingga dunia. Akhirnya banyak pemuda-pemudi yang tergiur. Tak cukup sekali, dua kali mendaftar bahkan berkali-kali. Semua ajang pencarian bakat pun diikutinya. Untuk apa? Populer? Kelak populer pun tak enak. Tanyakan saja pada mereka yang pernah merasakan gemerlapnya popularitas itu.

Memang tak ada salahnya kita meraih kesuksesan duniawi. Hanya saja tujuannya yang harus jelas. Ketika kita sudah menempuh jalur pendidikan yang tinggi, sudah mendapatkan gelar yang diinginkan. Jangan sampai lupa dengan tujuan awal kita menuntut ilmu itu. Memberikan manfaat untuk orang di sekeliling kita. Tidak hanya sebatas membangga-banggakan gelar itu tanpa ada bukti nyata.

Memiliki penampilan yang menarik pun tak salah karena Allah pun menyukai keindahan tapi jangan sampai menjadi ajang tabarruj untuk kita. “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim). Sehingga orientasi kita pun hanya pada fisik saja tanpa pernah memoles, merawat akhlak kita. Karena sesungguhnya ketampanan dan kecantikan sejati itu terletak pada akhlak seseorang. Ketika akhlaknya sudah bagus maka ketampanan dan kecantikan itu akan muncul dengan sendirinya.

Islam pun tak pernah melarang umatnya untuk menjadi orang kaya. Karena jika kita tidak kaya maka akan sulit bagi kita untuk beribadah kepada-Nya. Kita akan sulit untuk bersodaqah, karena kita sendiri tak memiliki harta yang cukup bahkan untuk kebutuhan sehari-hari sekalipun. Menunaikan zakat, infaq dll. Untuk menunaikan ibadah haji, ditambah dengan ongkos haji yang selalu meningkat dari tahun ke tahunnya.

Sukses duniawi memang harus kita raih tapi bukan dijadikan tujuan utama namun jadikanlah kesuksesan duniawi itu sebagai fasilitas bagi kita untuk mengabdi pada-Nya. Jadikanlah sukses duniawi menjadi jalan bagi kita untuk meraih kesuksesan di akhirat kelak. Ketika memiliki ilmu, sebarkanlah ilmu itu. Dengan menyebarkan ilmu, kita sudah mengikat ilmu yang kita punya. Karena sifat ilmu itu tidak seperti harta yang ketika diminta akan berkurang, tapi justru akan semakin bertambah. Dengan ilmu, kita telah memiliki bekal untuk di akhirat kelak. “Apabila seorang hamba meninggal dunia maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, doa anak shalih yang mendoakan orang tuanya, dan shadaqah jariyah.” (HR. Bukhari Muslim).

Mengejar kesuksesan, baik dunia maupun akhirat, sertakan Allah di dalamnya. Kebanyakan orang yang sukses akademik adalah orang yang zuhud. Seorang siswa untuk selalu mendapatkan peringkat pertama, kuncinya hanya menunaikan shalat Qiyamul Lail. Dia sudah bangun sejak pukul 2 pagi, mengambil air wudhu. Kemudian dengan khusyuknya dia menunaikan shalatnya, bersimpuh di atas sajadah, memanjatkan apa-apa saja yang menjadi keinginannya. Setelah itu baru dia berkutat dengan buku pelajarannya hingga adzan shubuh berkumandang.

Waktu-waktu itu adalah waktu Allah mengabulkan doa-doa, waktu malaikat turun ke bumi. Pantas saja dia diberi kemudahan. Selain itu, dikarenakan waktu pagi adalah waktu yang tepat untuk belajar. Saat otak masih fresh, suasana pun mendukung untuk belajar, mengerjakan latihan ataupun menghafal. Tak heran banyak pesantren-pesantren yang memanfaatkan waktu sebelum dan ba’da shubuh ini untuk menghafal Alquran.

Seperti juga banyak penghafal hadist yang tetap dekat dengan Allah, sehingga Allah memberinya kemudahan. Ketika futur sedikit, Allah menegurnya. Menjadi sulit menghafal atau bahkan hilang beberapa hafalannya. Mereka juga tetap memanfaatkan waktu shubuh untuk menjaga ilmunya itu. Jadi, jangan sia-siakan waktu shubuh. Kalau ada yang bilang, gak bangun pagi siap-siap rezekinya dipatok ayam. Maka kita bisa bilang, kalau tidak Qiyamul Lail dan menyia-nyiakan waktu shubuh hilanglah kesuksesan kita.

Dengan tetap menomorsatukan Allah, kita juga tak usah khawatir ketika sedang ditimpa kesulitan. Seperti kisah Imam Syahid Hasan Al-banna yang tak sempat belajar untuk ujian karena sibuk membantu orangtuanya. Waktunya pun tak tersisa, hingga akhirnya ia kelelahan dan sama sekali belum belajar satu hal pun. Ketika ia tertidur, ia justru bermimpi sedang belajar. Dan ternyata ketika ujian esok paginya, soal-soal yang keluar adalah soal yang ia pelajari dalam mimpinya.

Kesuksesan para motivator pun, tak pernah jauh dari Tuhannya. Ini bisa terlihat dari materi yang mereka sampaikan. Meskipun berbeda kajian materinya, namun intinya tetap sama, sertakan Tuhan. Jadi, mereka pun sukses bukan karena diri mereka sendiri. Tapi ada Allah di balik semua itu. Kebanyakan orang besar pun, kesuksesan yang mereka raih tak semata-mata kerja kerasnya sendiri tapi ada bantuan ‘tangan Tuhan’.

Sukses di mana pun kita, ketika kita mengembalikan semuanya kepada Allah. Allah akan semakin mensukseskan kita, tetapi jika kita bersifat takabur, merasa bahwa kesuksesan kita adalah milik kita sendiri, maka bersiap-siaplah untuk terpuruk ke dalam jurang yang paling dalam. Seperti para atheis di luar sana, yang selalu merasa benar sendiri, merasa hebat sendiri, hingga akhirnya mereka pun termakan oleh omongannya sendiri. Bagaikan menjilat ludah sendiri. Oleh karena itu, tak banyak tokoh atheis yang bisa bertahan.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lahir di Sumedang, 20 Mei 1992. Tinggal di Bandung. Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Hobi menulis artikel, cerita fiksi baik dalam bentuk serial ataupun cerita pendek, puisi dan lain-lain. Merupakan salah satu tim redaksi Teen Zone tahun 2013 dan kontributor Ummi Online. Karya-karya yang dipublikasikan bisa dilihat di hiishma.tumblr.com

Lihat Juga

Meraih Kesuksesan Dengan Kejujuran (Refleksi Nilai Kehidupan)

Figure
Organization