Home / Berita / Perjalanan / Catatan Perjalanan Hong Kong: Menjemput Hidayah di Negeri Beton

Catatan Perjalanan Hong Kong: Menjemput Hidayah di Negeri Beton

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Di depan Masjid Kowloon Hong Kong. (Mushonnifun Faiz Sugihartanto)
Di depan Masjid Kowloon Hong Kong. (Mushonnifun Faiz Sugihartanto)

dakwatuna.com – “Dulu saya tidak bisa membaca Alquran mas, bahkan saya pun tidak pernah melaksanakan shalat. Eh Alhamdulillah mas, sejak bekerja di Hong Kong, saya justru mendapatkan hidayah dari Allah. Sekarang saya setiap minggu selalu mengikuti pengajian di Masjid Kowloon ini,”ujar salah seorang Buruh Migran Indonesia yang saya wawancarai selepas shalat Ashar di Masjid Kowloon, Tsim Tsa Tsui.

Ya, tepatnya akhir Januari kemarin pada tanggal 29 Januari 2015 – 2 Februari 2015, saya mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Indonesia untuk mengikuti konferensi Make a Difference Forum 2015 yang diselenggarakan oleh MaD Institute, Hong Kong. Sebelum berangkat saya mencoba mencari referensi tentang kondisi islam di Hong Kong. Ternyata saya melihat semangat militansi yang begitu luar biasa dari para ibu-ibu buruh Migran Indonesia. Ahamdulillah, salah seorang teman saya kebetulan menginap di tempat salah seorang BMI yang menyewakan apartemennya untuk beberapa di antara kami yang merupakan delegasi Indonesia. Sehingga saya berkesempatan berinteraksi secara langsung dengannya.

Selama di sana, kami banyak dibantu oleh Mbak Ika, buruh migran Indonesia asal Blitar. “Banyak kok dik, yang bahkan menjadi muallaf di sini. Minggu kemarin ada Buruh Migran asal Filiphina bersyahadat di Masjid Kowloon. Hampir setiap minggu kami di sini kan libur, sehingga kami semua memanfaatkan untuk mengadakan pengajian, atau les aneka keterampilan seperti menjahit, komputer, memasak, dan lainnya.”

Saya juga berkesempatan menemui Bapak H. Muhammad Nurali, pemilik Warung Malang Hong Kong. Sebuah warung legendaris yang telah dirintis beliau di awal tahun 2000-an lalu. Tujuannya adalah untuk menghadirkan masakan Halal di Hong Kong di tengah sulitnya mencari makanan halal di sana. Beliau berkisah, bahwasanya berkumandangnya Islam di Hong Kong terutama di kalangan buruh migran tidak lepas dari budaya baca masyarakat Hong Kong yang begitu tinggi. “Para BMI rata-rata memiliki majikan yang suka membaca. Nah, banyak di antara para majikan tersebut yang berbaik hati membelikan buku-buku untuk bacaaan para BMI. Akhirnya mau tidak mau kan mereka ikut membaca buku. Dari situlah mereka akhirnya perlahan-lahan kami sisipkan bacaan-bacaan tentang keislaman. Di sini yang aktif menebarkan buletin misalnya dari Dompet Dhuafa Hong Kong, dan banyak yang lain yang memiliki media,”ujar kakek yang telah berusia 70-an tahun ini.

Pada hari Minggu, 1 Februari 2015, pagi-pagi setelah subuh saya mencoba menelusuri Victoria Park. Di sana ternyata terdapat beberapa Buruh Migran Indonesia yang membuka dagangannya. Harganya memang normal setara dengan makanan di Hong Kong. Namun hal itu tidak menjadi halangan bagi saya setelah berhari-hari sebelumnya hanya makan mie instan untuk mengirit pengeluaran, di samping tidak mudah mencari makanan halal, juga jika ada harganya mahal. Sekaligus untuk mengobati rasa kangen dengan makanan Indonesia. Selain stand makanan, di Victoria Park saya juga melihat banyak para Buruh Migran Indonesia yang membuka forum-forum pengajian dengan kelompok-kelompok kecil. Saya menjadi terenyuh, sebab tidak jauh dari tempat itu saya melihat (maaf) pasangan sesama jenis perempuan sedang bermesraan. “Hong Kong itu negara bebas dik. Adegan seperti itu tadi sudah banyak ditemui di mana-mana. Pernah dulu Persatuan Dakwah Victoria (PDV) menggelar pengajian akbar di Victoria Park ini, dan sekeliling kami itu pasangan sesama jenis bermesraan seolah tidak peduli dengan adanya kami,”ujar Mbak Sumiati, Buruh Migran Asal Trenggalek yang pada waktu itu makan bersama saya di Victoria Park.

Bersama Bapak H. Muhammad Nurali, pemilik Warung Malang Hong Kong. (Mushonnifun Faiz Sugihartanto)
Bersama Bapak H. Muhammad Nurali, pemilik Warung Malang Hong Kong. (Mushonnifun Faiz Sugihartanto)

Kegiatan di Masjid Kowloon juga cukup padat setiap hari minggunya. Bisa berganti-ganti lembaga yang mengadakan pengajian. Para BMI berinfak sedikit demi sedikit untuk mendatangkan ustadz atau pembicara dari Indonesia. Di negara yang begitu bebas dan sosialis seperti ini, para BMI tak kehilangan semangat untuk mendapatkan siraman rohani. Saya pun menjadi terenyuh dan berkaca-kaca mendengar cerita tersebut. Dengan gaji yang mungkin tak seberapa, di tengah mahalnya biaya hidup di Hong Kong, mereka masih mau berinfak yang jumlahnya juga tidak sedikit demi mendapatkan cahaya Islam.

Selain itu, juga ada salah satu program yang menarik menurut saya. Yaitu adanya Wisuda Iqro’. Maksudnya adalah wisuda yang diperuntukkan untuk para BMI yang lulus membaca Iqro’ jilid satu sampai enam. “Seperti yang saya katakan di awal dik, bahwa banyak mbak-mbak BMI yang datang ke sini itu masih buta agama. Alhamdulillah, kami dari lembaga-lembaga dakwah bisa bergerak, memfasilitasi mereka, sekaligus memberikan motivasi bagi mereka untuk belajar membaca Alquran,”tambah Mbak Ika.

Sekitar 4 hari berada di Hong Kong dengan padatnya agenda konferensi, membuat saya banyak terenyuh dan berkaca-kaca melihat militansi para aktivis buruh migran Indonesia. Ya, saya mencoba merefleksikan diri. Sudahkah saya melakukan perjuangan seperti mereka?

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Lelaki sederhana yang mencintai aksara karenaNya. Membisukan cintanya di antara kata-kata. Mimpi besarnya tuk jadi cendekiawan muslim besar yang bermanfaat tuk sesama. Sedang diamanahi menjadi Kadept. Keprofesian dan Keilmiahan HMTI ITS 14/15. Pernah menjadi bagian dari SKI SMAN 3 Malang, Sosma HMTI ITS, Kaderisasi MSI UI TI ITS, dan Kebijakan Publik BEM ITS. Saat ini terizinkan olehNya tuk merangkai mimpinya bersama kawan-kawan PPSDMS Angkatan 7 Surabaya.

Lihat Juga

Muhasabah, Kebaikan untuk Negeri