Home / Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Lelaki sederhana yang mencintai aksara karenaNya. Membisukan cintanya di antara kata-kata. Mimpi besarnya tuk jadi cendekiawan muslim besar yang bermanfaat tuk sesama. Sedang diamanahi menjadi Kadept. Keprofesian dan Keilmiahan HMTI ITS 14/15. Pernah menjadi bagian dari SKI SMAN 3 Malang, Sosma HMTI ITS, Kaderisasi MSI UI TI ITS, dan Kebijakan Publik BEM ITS. Saat ini terizinkan olehNya tuk merangkai mimpinya bersama kawan-kawan PPSDMS Angkatan 7 Surabaya.

Survival di Thailand, Perjuangan Mencari yang Halal

Demikian pula di daerah penginapan saya selama di Thailand, daerah Salaya. Di situ sangat minim referensi makanan halal. Di depan penginapan saya terdapat pasar dan aneka menu olahan babi juga tersebar. Satu-satunya tempat saya mendapatkan makanan halal di situ ada seorang penjual muslim, kebetulan berjilbab, muslimah asli Thailand. Ia menjual nasi ayam. Karena sedikitnya tempat tersebut, sehingga ketika sore buka, biasanya sekitar jam 8 malam dagangan tersebut sudah habis.

Baca selengkapnya »

Serial Kampus Madani: (Masih) Memimpikan Kampus Madani, Akankah Terwujud?

Mari kita tarik kembali pada konsepsi perwujudan kampus madani. Bahwasannya konsep tersebut tidaklah mustahil ketika sumber dayanya mumpuni. Dibutuhkan totalitas dalam berdakwah oleh para aktivis yang tergabung di dalamnya. Dan yang terpenting menjaga ghirah itu agar tidak pupus, justru harus semakin baik pada generasi penerus kita. Jika kampus madani adalah sebuah impian, barangkali kita harus tetap menjaga impian itu. Mengutip pernyataan Imam Syahid Hasan Al-Banna bahwa apa yang kita impikan hari ini, adalah kenyataan di masa depan. Tinggal sekarang, mampukah kita memiliki ghirah laksana para pendahulu kita?

Baca selengkapnya »

Catatan Perjalanan Hong Kong: Menjemput Hidayah di Negeri Beton

Kegiatan di Masjid Kowloon juga cukup padat setiap hari minggunya. Bisa berganti-ganti lembaga yang mengadakan pengajian. Para BMI berinfak sedikit demi sedikit untuk mendatangkan ustadz atau pembicara dari Indonesia. Di negara yang begitu bebas dan sosialis seperti ini, para BMI tak kehilangan semangat untuk mendapatkan siraman rohani. Saya pun menjadi terenyuh dan berkaca-kaca mendengar cerita tersebut. Dengan gaji yang mungkin tak seberapa, di tengah mahalnya biaya hidup di Hong Kong, mereka masih mau berinfak yang jumlahnya juga tidak sedikit demi mendapatkan cahaya Islam.

Baca selengkapnya »