Home / Berita / Perjalanan / Survival di Thailand, Perjuangan Mencari yang Halal

Survival di Thailand, Perjuangan Mencari yang Halal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Penulis di depan Gate 3, Mahidol University.
Penulis di depan Gate 3, Mahidol University.

dakwatuna.com – Pertengahan Mei yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Negeri Gajah Putih, Thailand. Tepatnya pada tanggal 12 – 13 Mei 2016, penelitian saya tentang Halal Food Supply Chain lolos dan mendapatkan kesempatan melakukan oral presentation dalam acara Asian Academic Science International Conference (AASIC) di Mahidol University­.

Thailand, sebuah negara yang menganut sistem kerajaan. Uniknya banyak raja-raja Kerajaan Thailand namanya diabadikan menjadi nama universitas.  Salah satunya Prince Mahidol, yang menjadi nama universitas tempat saya melakukan presentasi. Ia adalah Raja ke-8 dari Dinasti Chakri, yaitu dinasti yang memerintah Thailand dari 1746 hingga sekarang. Saat ini, Thailand dipimpin oleh Raja Bhimbol Adulyadej yang merupakan Raja ke-9 dari Dinasti Chakri.

Mengunjungi negara muslim minoritas tentu haruslah siap dengan konsekuensi tentang aspek halal. Ya, terutama makanan. Apalagi Thailand yang mayoritasnya beragama Budha. Babi dengan aneka jenis olahan nyaris kami jumpai di setiap jalannya. Sementara di sini populasi muslim hanya sekitar 6% dari keseluruhan penduduk.

Demikian pula di daerah penginapan saya selama di Thailand, daerah Salaya. Di situ sangat minim referensi makanan halal. Di depan penginapan saya terdapat pasar dan aneka menu olahan babi juga tersebar. Satu-satunya tempat saya mendapatkan makanan halal di situ ada seorang penjual muslim, kebetulan berjilbab, muslimah asli Thailand. Ia menjual nasi ayam. Karena sedikitnya tempat tersebut, sehingga ketika sore buka, biasanya sekitar jam 8 malam dagangan tersebut sudah habis.

Tempat lain untuk mendapatkan makanan halal sudah pasti hanya Seven Eleven yang tersebar di seluruh Thailand. Itu pun juga harus selektif. Pengalaman pertama saya sampai diomeli oleh penjaga Seven Eleven karena mungkin disangka akan mencuri. Ya, pada waktu awal ke 7 Eleven, hampir semua produk makanan saya periksa satu per-satu untuk mencari logo halal. Dan hasilnya hanya sebagian kecil produk. Dari semua roti yang ada, hanya terdapat dua jenis, dan itupun roti tawar.

Demikian pula dengan minuman. Masalah minuman di Thailand kita harus berhati-hati. Sebab dikhawatirkan bercampur dengan alkohol. Sekalipun es krim yang lezatnya apalagi bila disantap di siang hari mengingat Thailand saat ini sedang memasuki puncak musim panas dengan suhu mencapai 38 derajat celcius.

Satu-satunya minuman yang aman selain air mineral tentu saja jus buah. Itu pun harus selektif dan mencari yang benar-benar sudah kemasan. Ya, Thailand selain dikenal sebagai negeri gajah, juga dikenal dengan kualitas buah-buahnya yang baik. Konon katanya, buah yang diimpor oleh Thailand adalah buah dengan kualitas kelas dua. Yang kelas satu dikonsumsi oleh penduduknya sendiri. Jus buah juga bisa menjadi alternatif minuman yang sehat dan cepat memulihkan fisik di tengah panasnya suhu Thailand.

Selain makanan dan minuman, bahkan aneka bacaan pun juga harus diwaspadai. Bayangkan ketika saya berkunjung ke Toko Buku di Chulalongkorn University, saya menemukan sebuah buku propaganda dengan cover seperti ini:

survival-thailand-02

Ya, buku di atas adalah buku tentang kisah cinta seorang gay. Memang Thailand dikenal sebagai negara yang melegalkan hal ini. Bahkan ketika saya sedang di kamar mandi, saya cukup kaget manakala seorang perempuan masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata dia seorang lady boy. Hal yang membuat saya cukup shock.

Tempat lain yang biasanya menjadi jujugan para turis di Thailand adalah Chatucak Market. Pasar ini merupakan pusat oleh-oleh terbesar di Thailand. Harganya juga murah-murah, terlebih jika kita mampu menawar. Nah, di pasar ini juga terdapat beberapa kios makanan halal. Salah satunya yang paling terkenal adalah Warung Saman.

(Foto:

Warung ini dimiliki oleh seorang muslim asli Thailand. Namanya Ibu Fatima Sungtong. Beliau menjual aneka makanan khas Asia, pun demikian dengan makanan khas Thailand. Harganya berkisar 100 baht sampai 200 baht. Atau sekitar 38.000 – 76.000. Cukup mahal memang untuk sekali makan, namun cita rasa dan porsinya setara. Apalagi di tengah negara yang minoritas Islam seperti ini, rasanya harga sedemikian wajar.

Perjalanan saya di Thailand berlangsung sekitar 6 hari, namun banyak sekali pelajaran yang saya ambil. Di negara ini toleransi penduduknya terhadap kaum muslim juga cukup baik, walaupun muslim minoritas di sini namun penduduk lokal tetap banyak yang menghargai. Selain itu, juga terdapat banyak sekali kampung-kampung muslim. Di situ juga tidak sulit menemukan makanan halal. Saking rukunnya kadang-kadang sudah biasa jika ada penjual makanan halal dan haram bersebelahan kiosnya. Nah, inilah yang patut diwaspadai karena dikhawatirkan ada cipratan atau peralatan yang bercampur.

Survival di Thailand, sekali lagi saya merasakan perjuangan di sebuah negara minoritas muslim. Setelah dulu sempat merasakan di Hong Kong, kini di Thailand. Namun, alangkah nikmatnya terutama jika bertemu saudara sesama muslim. Ada ukhuwah dan rasa persaudaraan yang timbul sekalipun kita tidak saling mengenal. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lelaki sederhana yang mencintai aksara karenaNya. Membisukan cintanya di antara kata-kata. Mimpi besarnya tuk jadi cendekiawan muslim besar yang bermanfaat tuk sesama. Sedang diamanahi menjadi Kadept. Keprofesian dan Keilmiahan HMTI ITS 14/15. Pernah menjadi bagian dari SKI SMAN 3 Malang, Sosma HMTI ITS, Kaderisasi MSI UI TI ITS, dan Kebijakan Publik BEM ITS. Saat ini terizinkan olehNya tuk merangkai mimpinya bersama kawan-kawan PPSDMS Angkatan 7 Surabaya.

Lihat Juga

Arie Untung: Emak-Emak Pelopor Utama Pemasaran Produk Halal

Organization