Home / Pemuda / Essay / Introspeksi Diri Sebelum Menyalahkan Orang Lain

Introspeksi Diri Sebelum Menyalahkan Orang Lain

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Teringat dengan adik bungsuku yang sekarang sudah kelas X. Saat dia masih kecil, dia selalu menyalahkan yang lain ketika melakukan kesalahan. Ketika dia menumpahkan air maka dia akan menyalahkan gelas yang ukurannya terlalu kecil. Ketika dia menendang barang yang ada di jalan karena dia tidak memperhatikan jalan ataupun sedang bermain, maka dia akan menyalahkan barang tersebut karena ada di jalan tersebut. Bahkan ketika barang-barangnya hilang entah di mana, maka dia akan menyalahkan orang lain karena dia tidak bisa menemukan barang tersebut padahal dia sendirilah yang menyimpannya. Itulah sebagian tingkah lucu dari adik bungsuku tersayang. Ketika mengingat hal tersebut maka saya akan tersenyum sendiri.

Bagaimana dengan pembaca sekalian ??? Pernahkah mengalami hal yang sama? Pernahkah melakukan hal seperti di atas? Ketika hal itu dilakukan saat kita masih kecil, saat kita masih belum tahu apa-apa. Maka itu adalah hal yang wajar. Tapi ketika hal itu terjadi ketika sudah dewasa maka itu mungkin akan menjadi hal yang tidak wajar. Tapi akan menjadi “wajar” ketika kita menyadari bahwa manusia tidak luput dari khilaf dan salah. (kok jadi muter gini ya??)

Adapun maksud saya adalah bukan menanggapi kelakuan adikku tersebut karena orang dewasa tidak mungkin melakukan hal-hal demikian. Tapi, hal tersebut sebagai gambaran ketika kita melakukan sesuatu yang mungkin membuat kita tidak nyaman atau kita diperlakukan oleh orang lain secara tidak baik atau tidak seperti biasanya. Saat kita tidak sadar akan sebab dari orang berprilaku seperti itu, terkadang kita langsung menilai orang itu sedang tidak mood atau mungkin karena orang itu sangat sensitif. Kita mungkin tidak pernah bertanya pada diri kita sendiri dengan serius “Ada apa ya? Kenapa dia tiba-tiba seperti itu? Ataupun pertanyaan-pertanyaan itu sudah di kepala, biasanya kita membiarkan hal tersebut dengan dalih banyak kerjaan dan berpikir positif saja. “Ah. Dibiarin aja. Mungkin dia sedang tidak mood. Nanti juga baikan”. Dan yang lebih parah lagi ketika kita sudah tahu penyebabnya dan tetap berpikir seperti itu??? “ Dibiarin aja dulu, nanti juga baikan kalau emosinya sudah reda”. Memang ada benarnya bahwa ketika seseorang emosi maka sebaiknya memberikan dia waktu untuk meredam emosinya tapi setelah dia membaik, apakah kita meminta maaf atas kekhilafan yang dilakukan? Apakah kita berusaha mengklarifikasi salah paham yang mungkin terjadi??? Sebagian besar hal itu sudah terlupakan karena kondisi yang sudah terlihat “normal” seperti biasanya. Tapi tahukah teman-teman sekalian??? Ketika hal itu terjadi maka itu menunjukkan bahwa tidak ada kepedulian terhadap orang lain. Berkacalah pada diri sendiri. Ketika engkau di posisi mereka, bagaimana perasaan engkau? Atau ketika diri ini merasa orang yang cuek dan tidak masalah ketika diperlakukan seperti itu maka berpikirlah bahwa kemungkinan orang itu adalah orang yang sensitif sehingga tidak bisa dibandingkan dengan tipe orang cuek seperti kita sendiri. Ketika dia memang sedang tidak mood, maka pasti ada sesuatu yang membuat dia tidak mood.

Itulah hal-hal yang mungkin sering terjadi di sekitar kita khususnya di sekitar saya. Bagaimana “cuek”nya seseorang terhadap lingkungannya sendiri. Bagaimana seseorang menyalahgunakan “berpikir positif” pada kondisi tersebut. Bagaimana seseorang menyalahkan orang lain dengan sifat sensitif orang lain tersebut. Dan mungkin saja seseorang itu termasuk diri kita sendiri.

Teringat tulisan tentang pergaulan ikhwan dan akhwat di web ini. Dapat dibaca di sini https://www.dakwatuna.com/2014/01/05/44302/ikhwan-jaga-izzahmu/#axzz3QSNFn2e5 dan https://www.dakwatuna.com/2014/01/29/45503/ukhti-bantu-mereka-menjaga-hati/#axzz3QSSvI9TP. Di mana mereka mengambil sudut pandang yang berbeda. Saya sangat setuju dengan kedua artikel tersebut. Tapi kembali lagi, saya berpikir bahwa semuanya tergantung dari bagaimana kita menyikapi suatu keadaan. Ketika ada seorang ikhwan yang sangat perhatian. Maka sebagai seorang akhwat, mari introspeksi diri terlebih dahulu. Mungkin saja kita yang ke”centil”an dan tidak sadar akan hal tersebut, mungkin kita secara tidak sengaja memperdengarkan suara manja kita, mungkin kita yang sudah membuka jalan untuk ikhwan itu sendiri sehingga melakukan hal seperti itu. Jangan langsung memvonis bahwa dia ikhwan yang “TP” atau “Tebar Pesona”. Ikhwan yang tidak bisa menjaga pandangannya karena mungkin kesalahan itu terjadi saat kita yang memulainya secara tidak sadar. Bahkan ketika ternyata si ikhwan tersebut memang bermasalah maka kewajiban kita untuk mengingatkannya. Itupun dengan cara yang syar’i. Begitupun sebaliknya untuk ikhwan. Ketika ada akhwat yang dirasakan sangat “TP” atau melakukan komunikasi yang tidak seharusnya. Seperti menanyakan kabar tanpa alasan dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebaiknya untuk muhrim saja. Maka cobalah untuk mengintrospeksi diri sendiri terlebih dahulu. Mungkin saja sikap kita yang membuat akhwat tersebut seperti itu, mungkin kita sudah memberikan perhatian secara tidak sadar. Yang menurut kita biasa saja tapi tidak dengan akhwat tersebut atau kita sendiri yang membuka jalan untuk akhwat itu melakukan hal tersebut. Wallahu’alam.

Suatu kondisi akan memiliki penilaian yang berbeda ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Peribahasa Indonesia mengatakan, “Kuman di seberang lautan Nampak, gajah di pelupuk mata tak Nampak”.

Maka mari kita membiasakan introspeksi terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang lain. Jangan sampai kita menjadi sindiran dari peribahasa tersebut.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf untuk segala kata yang salah.

Salam ukhuwah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Bekerja di Bank Syariah. Aktif di Iqro' Club di salah satu kota Jawa Timur.

Lihat Juga

Salah Paham Dalam Memaknai Toleransi

Organization