Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Ramadhan yang Berbeda

Ramadhan yang Berbeda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (growmama.com)
Ilustrasi. (growmama.com)

dakwatuna.com – Empat hari lagi Ramadhan menyapa, aroma sejuknya pun telah menyapa,semerbak ke seluruh penjuru. Sama seperti Ramadhan sebelumnya yang telah kami lewati, Ramadhan tahun ini juga tak banyak yang berubah, aku masi lah menjadi putri bungsu yang dimanja di rumahku, itu karna ketiga abangku sudah mulai beranjak dewasa dan kakakku yang sudah beranjak remaja,jadi banyak yang memanjakan.

Kecuali 1 hal, di tahun ini untuk pertama kalinya sekolahku libur 1 hari sebelum Ramadhan yang menyebabkanku harus bolos sekolah untuk berziarah bersama keluarga besar,ke pemakaman keluarga yang telah lebih dulu mengahdap-Nya. Aku yang sedari tadi berada di kamar untuk bersiap,mendengar panggilan dari dapur, siapa lagi kalo bukan bunda.

“dek, adek..” terdengar suara bunda dari kejauhan

“iya bun,ada apa?” aku menjawab panggilan tadi sambil berlari menuju dapur

“tolong panggilkan ayah, bilang supaya segera bersiap, sebentar lagi selesai.” Bunda menginstruksikan padaku tanpa menatap ke arahku, karena memang sedang menyiapkan makan siang, yang akan kami santap usai ziarah nanti. Jarak dari rumah ke pemakaman keluarga yang akan dituju memang cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan, jadi telah direncakan jika kami akan makan di sana.

Setelah mendengarkan instruksi bunda, aku segera berlari, tapi perlahan dari seberang jalan aku melihat ayah tengah berjalan menuju rumah, aku akhirnya memutuskan untuk menunggunya di depan pintu.

“ayah, bunda pesan, katanya ayah siap-siap, karena sudah mau selesai” kini ayah telah tepat di sampingku. Aku terlihat begitu kecil di dekat tubuh tinggi besarnya. Sosok yang begitu kucinta,dan kusayang, yang sampai kini masih sering menggendongku, dan sering berkata jika aku adalah putri kecilnya, padahal tepat 2 bulan lagi adalah ulang tahun ku yang ke 10th.

Ayah hanya menatapku,dan mengelus kepalaku,hal yang begitu sering dilakukannya padaku. Lalu berjalan menuju dapur yang kuikuti dari belakang.

“bagaimana? baiknya makan atau shalat dulu?” bunda membuka pembicaraan, begitu acara ziarah siang itu selesai,memecahkan keheningan yang tercipta.

“mungkin baiknya, kita shalat dulu saja, yang laki-laki shalat di mesjid saja karna mesjid pun sudah dekat,sedangkan yang perempuan di rumah saja sambil menyiapkan makan siang.” kini ayah yang berargumen dengan diiringi tawa dari keluarga yang lain, tak kecuali bunda dan aku, yang pada akhirnya berujung dengan kesepakatan.

Aku, bunda serta beberapa kerabat yang lain telah tiba di rumah nenek,wawaknya bunda. Aku tak pernah bosan atau pun malas untuk memasuki rumah ini, karena bangunannya yang unik layaknya rumah di pedesaan dengan tangga kayu dan beratapkan ijuk, udaranya yang sejuk ala pedesaan, serta pemandangan yang indah, sawah warga terbentang luas di hadapan saat melihat dari jendela samping rumah ini. Hanya saja menurutku rumah ini perlu direnovasi supaya terlihat lebih layak.

Semua keluarga telah berkumpul,makanan telah terhidang,semuanya telah manempati posisi yang pas dan nyaman. Karna kami makan dilesehan dan jadilah formasi yang dibentuk bagaikan lingkaran besar, aku dan ayah di posisi tengah lingkaran ini,yang memunculkan ide cemerlang saudara yang lain untuk menggodaku.

“kayak raja dan tuan putri saja,dari tadi tak pisah dari ayahnya.” Salah seorang mulai memecahkan keheningan

“wah, betul itu,itu namanya anak ayah,bukan anak bunda lagi” gurau yang lain

Semuanya tertawa mendengar gurauan sederhana itu,ayah kembali mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang.

Mentari kini kian redup,sore terlihat tampak cerah , cahaya yang kemerehan di ufuk barat terlihat sangat indah bersiap menyambut sang malam, menanti indahnya bulan sabit di temani bintang yang gemerlapan, semuanya karna menyambut Ramadhan , keindahan ramadhan. Sore ini,ayah kembali mengajak aku, tiga abangku dan kakakku satu-satunya serta bunda duduk di halaman rumah kami yang luas dan di penuhi bunga juga buah mangga ,yang di perkirakan ayah akan panen di Ramadhan nanti.

“akhirnya,selesai juga ziarah tahun ini” ayah membuka pembicaraan di sore ini

Aku yang berada di pangkuannya menatap ke arah bunda,menunggu kalimat yang akan keluar dari bunda, tapi sepertinya kosong, bunda hanya diam tak seperti biasanya,menyambut pembicaraan ayah dengan antusias.

“tadi nenek ikut,yah?” salah seorang dari abangku buka mulut juga.

“iya,tadi malah nenek sangat bersemangat lagi, bahkan terlihat berbeda dari biasanya” ayah menjelaskan kejadian tadi siang. Nenek (ibunya ayah) memang beberapa tahun ini sakit-sakitan,bahkan setelah opung(ayah)dari ayah wafat, kesehatannya menurun drastis. Namun tadi siang wajah lelah tak tersirat di dirinya,tampak begitu sehat seperti yang diceritakan ayah pada abangku tadi.

Dan pembicaraan itu pun berlanjut ke berbagai arah mulai dari sekolah abangku hingga kejadian yang baru-baru ini terjadi di lingkungan rumah kami. Bunda dan abang-abangku telah masuk ke rumah,sekarang hanya ayah, aku dan kakak yang masih menikmati mentari yang akan kembali keperaduan dengan sendau gurau dan tawa,hingga adzan maghrib pun menggema. Kami masuk ke rumah.

Dan inlah tradisi yang selalu kulakukan jika berada di belakang ayah,yang kemudian di ikuti kakakku,menyanyikan lagu naik kereta api,sambil tanganku memegangi ikat pinggang ayah dan kakak yang memegangi bahuku.

“sudah mainnya,wudhu’ dulu sana,sudah adzan kan?” bunda yang baru wudhu’ menyuruh aku dan kakak.

***

Aku paling ingat dengan bang habib anak angkat ayah yang dulu mengajari kami mengaji dan shalat. biasanya usai shalat maghrib, kami akan mengaji dengan bang habib, tapi kini bang habib telah jauh dari kami, bang habib melanjutkan studinya ke malaysia dengan beasiswa yang didapatnya. Aku rindu bang habib.

Ada yang beda di malam ini, setelah maghrib aku sudah boleh langsung makan, biasanya ngaji dulu sama bunda, tapi kali ini tidak, bahkan makannya boleh sambil nonton, tapi tetap di suap bunda, hal yang tak pernah luput dalam hidupku. Mungkin dalam 1 tahun bisa di hitung berapa kali bunda tak menyuapiku, itu karena hampir setiap kali makan aku selalu di suap,mungkin ini juga yang membuatku manja pada orang-orang di rumah ini,hingga diusiaku sekarang yang telah bersekolah di kelas 4 SD .

Bisa di bilang, ayah begitu memanjakanku karna menurut cerita kakak dan abangku mereka sebelumnya tak pernah di turuti keiginannya layaknya diriku sekarang ini,aku diantar dan dijemput setiap kali pergi dan pulang sekolah,di saat sakit di belikan buah dan cemilan yang ku ingini,masuk sekolah favorit dengan mudah dan tanpa syarat, dan bla bla bla. Tapi mungkin, itu menurut mereka saja, buktinya abangku yang sulung, minta motor baru di beliin,abangku yang tengah, dibeliin komputer baru,dan abang yang sulung, dibeliin jam tangan yang di inginkan dan kakak,berapa pun uang yang diminta selalu dikasih, meski pun itu harus memenuhi syrat yang di berikan ayah terlebih dulu.

“bunda,ayah kemana?” aku mulai menyadari jika ayah sedang keluar rumah

“ayah,kerumah nenek,ada tamu yang datang disana.”bunda tetap mengelus rambut panjangku yang sedari tadi di pangkuannya.

Aku terdiam,dan kembali memejamkan mata yang mulai mengantuk,hingga akhirnya aku benar-benar terlelap,bahkan tidak lagi sadar,siapa yang menggendongku ke kamar. Meskipun yang biasanya menggendongku ke kemar adalah abangku yang sulung.

Aku mendengar suara tangisan,suara tangis itu ku kenal,dan tak asing lagi di telingaku,tapi mungkin mimpi. Tapi,bukan,itu bunda,aku yakin itu tangisan bunda. Aku bangun dan loncat dari tempat tidur,membuka kamar. Dengan wajah yang keheranan ku lihat tiga abangku telah berdiri dekat bunda,bunda sendiri duduk di sisi ayah yang sedang terbaring di lantai. Apa yang terjadi? Kenapa ini? Ada apa sebanarnya? Begitu banyak tanya yang muncul dalam benakku, dan semakin banyak kerabat yang datang kerumahku,tak terkecuali nenek. Kakak dan bibiku yang tadinya masih tidur kini telah berada di sampingku.

“kak,kita bawa ke rumah sakit saja”ujar pamanku yang berprofesi sebagai dokter

Dengan sigap,mobil melaju ke rumah sakit,awalnya aku ingin ikut,tapi bibi melarang,katanya kami mandi dan makan saja dulu,akhirnya aku menurut. Yang ikut ke rumah sakit hanya bunda,abangku yang sulung dan beberapa kerabat dekat.

“ayo,kita mandi dulu ya,nanti kalau mobinya jemput kalian sudah rapi” bibi mencoba membujukku yang sedari tadi merenung. Tak ada kata yang keluar,kecuali anggukan.

Tepat jam 5 setelah adzan subuh,terdengar suara mobil memasuki halaman rumah,tidak salah lagi itu paman,mungkin dia menjemput kami sesuai perjanjian dini hari tadi. Dengan berlari kecil dia menghampiriku dan kakak yang telah duduk menantinya.

“sudah makan?”sambil mengelus rambut ku,tampak jelas ada kerisauan yang ditutupi di wajahnya, meskipun dia tersenyum,tetap saja kerisauan itu terlihat begitu jelas.

Lagi,hanya anggukan yang menjwab pertanyaannya tadi. Aku bukan tipe orang yang pendiam,tapi kondisi ayah membuatku menjadi orang yang bisu,dan malas untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang hanya tersimpan di dalam ronggaku.

“ayah,harus dibawa ke Rumah Sakit di Propinsi,mereka akan membuatkan surat rujukannya,pagi ini juga akan dibawa ke sana” kalimat inilah yang menyambut kedatanganku di rumah sakit di pagi buta ini. Meski abangku tak langsung mengatakannya padaku melainkan pada seorang temannya,tapi kalimat itu seolah dihadapkan padaku.

Aku sedih,tapi aku yakin jika ayah akan segera sehat seperti halnya dulu,ayah memang sering sakit. Kata bunda ayah terkena serangan darah tinggi,di kala aku menanyakannya pada bunda sewaktu ayah sakit dulu,mungkin kali ini juga begitu. Aku telah berada di rumah nenek bersama kakak,hari ini memang libur,jadi tidak mengganggu jadwal sekolahku.

Entah apa yang terjadi,semua orang di rumah nenek mendadak sibuk,bahkan orang-orang di kilang kayu yang dikelola ayah,dan jaraknya hanya jalan raya saja ke rumahku,terlihat begitu sibuk,bukan karna ada bahan kayu yang masuk untuk diolah tapi,aku tak tahu kenapa ini.

“sayang,kita pulang dulu ke rumah ya,nanti main lagi” istri pamanku yang tingggal bersama nenek membujukku dan juga kakakku.aku hanya menurut saat dibawa.

Bumi seakan berguncang,bukan gempa yang mengguncangnya tapi hal yang jauh lebih dahsyat dari itu. Tak akan terbayang dan tak pernah membayangkan hal yang seperti ini sebelumnya,hanya saja aku telah sering menyaksikannya. Rumahku ramai dengan kerabat dekat,kini tak ada lagi kursi di ruang tamu,yang ada hanya karpet yang membentang di ruang tamu yang tampak lebih luas.

Aku berlari ke kamar,diikuti kakak dan salah seorang sepupu juga istri pamanku. Memeluk erat baju yang masih tergantung di hanger,baju yang akan dikenakan ayah hari ini,baju yang disiapkan bunda tadi malam. Tidak ada kata,hanya air mata.

Ayah yang kami cinta,telah pergi selamanya.Dan untuk selamanya aku, bunda,kakak dan ketiga abangku akan selalu mencintanya. Ayah pergi dengan meninggalkan kenangan yang tak pernah luput dari benakku,kenangan indah,karena telah menjadikanku putri di hatinya,permaisuri dalam hidupnya.

Dan Ramadhan kali ini akan sangat jauh berbeda,sungguh sangat berbeda. Aku pun tak tahu sampai kapan Ramadhan ini akan tetap seperti ini.

Untukmu ayahku..
Kau tanam cinta di hatiku
Bersemi hingga menyatu dalam jiwaku
Tak pernah luput dalam ingatanku
Bintang yang menemani malamku,
Gelap yang menyapa malamku,
Dan mentari yang akan temani hariku,
Karena tulus dan indah cintamu
Aku akan menjadikanmu raja dalam hatiku
Yang akan terus mendekap hati dan jiwaku..
Ayahku..
Cintaku, cinta kami selalu,
Dan selamanya tetap bersamamu..
Selamat jalan ayahku..
Akan terus kukirim fatihah untukmu,
Bukti cintaku padamu..

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Anak ke 5 dari 5 saudara, mempunyai 3 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan. Sekarang sedang berkuliah di salah satu universitas swasta di Medan, dalam bidang psikologi. Bercita-cita bisa menjadi penulis yang sekaligus menjadi seorang psikolog.

Lihat Juga

Sambut Ramadhan dengan Belajar Quran Bersama BisaQuran

Figure
Organization