
Banyak pertanyaan yang tertuju terhadap permasalahan Palestina, namun dalam kesempatan kali ini kita mencoba untuk mengerucutkannya dalam sebuah pertanyaan, apa yang akan terjadi apabila Hamas menang dalam beberapa proses pemilu nanti? Hal ini mendapatkan perhatian yang lebih baik dari dalam maupun dari dunia internasional, dan juga dari bangsa Palestina sendiri, baik yang berada di dalam maupun mereka yang terusir keluar atau terpencar di berbagai belahan dunia.

Pejabat di gerakan perlawanan Hamas, Mahmud Zahar dalam konfrensi solidaritas untuk Al-Quds yang diadakan di Jalur Gaza mengatakan, bahwa faksi perlawanan Palestina tidak akan meletakkan senjata, kecuali setelah Palestina mencapai kemerdekaannya yang terbentang dari Ra’su An-Naqurah hingga Rafah.”

Kamis 8 Desember 2011 merupakan tepat 24 tahun gerakan intifadhah Al Aqsha berlangsung. Gerakan ini meletus setelah empat orang pemuda Palestina meninggal dunia seketika karena ditabrak sebuah truk militer zionis israel laknatullah. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 Desember 1987 tersebut memicu gelora kebangkitan rakyat Palestina untuk melawan penjajahan zionis Israel. Gerakan perlawanan menjadi gerakan total yang menggerakkan semua lapisan masyarakat.

Gerakan Non-Blok pada Selasa mengecam kegiatan permukiman Yahudi di wilayah Palestina. GNB menyatakan pola tindakan provokatif Israel di Tepi Barat adalah tanda Israel memilih pendudukan dan konflik dengan mengorbankan masa depan kedua bangsa dan wilayah tersebut secara keseluruhan. Pernyataan itu dikeluarkan saat wakil tetap Mesir untuk PBB, Maged Abdel Aziz atas nama 120 anggota GNB di Sidang Majelis Umum untuk memperingati Hari Solidaritas Internasional bagi Rakyat Palestina.

Presiden Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) Mahmoud Abbas mengatakan di Wina, Senin (28/11), pemilihan umum di Palestina kemungkinan akan diselenggarakan pada 4 Mei tahun depan. Abbas berada di Austria guna membahas berbagai upaya untuk memperoleh keanggotaan penuh bagi Palestina di PBB.

Pejabat konsuler Prancis di Gaza pada Senin menyatakan bahwa ia dan putrinya terluka, sementara istrinya yang sedang hamil kehilangan bayinya akibat serangan udara Israel Minggu malam. Majdi Shakoura (44 tahun), kepala urusan konsuler Prancis di Jalur Gaza, menyatakan kaca terbang menyambar kaki kirinya dan melukai istrinya, Majida (42 tahun), serta salah satu putrinya, yang berusia 13 tahun. “Istri saya, hamil dua bulan, kehilangan bayinya,” katanya kepada kantor berita Prancis.

Dewan Keamanan PBB menyatakan tidak berhasil mencapai kesepatan terkait permohonan yang diajukan Otorita Palestina untuk mendapatkan status anggota penuh di PBB. Komite Pendaftaran DK PBB tidak bisa mengambil keputusan atas permohonan tersebut.

Penjajah Israel menganggar dana untuk pembangunan penjara baru dengan sebesar 40 juta shiekel (mata uang Israel) di Selatan tanah terjajah Arab 48. Pembangunan ini bertujuan untuk mengganti dua penjara wanita yang sudah ada, yaitu penjara Damon dan Tirza.

Sumber kedokteran di Gaza melaporkan, bahwa 3 orang Palestina syahid dalam serang yang dilancarkan oleh artileri penjajah Israel di Timur kota Gaza. Jubir Komite Tertinggi Ambulance dan Emergency di Gaza, Adham Abu Silmiah mengatakan, bahwa 3 orang Palestina terluka pada waktu Zuhur, Senin (7/11) kemarin, akibat serangan yang dilancarkan oleh pasukan Israel melalui tank-tank mereka di Timur kampung As-Syaja’iyah di Gaza.

Militer Israel masih menawan 21 aktivis kemanusiaan “Freedom Waves to Gaza” setelah menghadang dua kapal mereka pada pada Jumat, pekan kemarin. Setelah menghadang, pasukan angkatan laut zionis menangkap seluruh aktivis dan menyita kapal serta semua bantuan kemanusiaan yang dibawa kapal tersebut untuk warga Gaza.