Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Terimalah Baktiku Ibu

Terimalah Baktiku Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (addinie.wordpress.com)
Ilustrasi. (addinie.wordpress.com)

dakwatuna.comSuatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?”. Nabi menjawab: “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi: “lalu siapa”. Nabi menjawab: “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi: “lalu siapa”. Nabi menjawab: “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi: “lalu siapa”. Nabi menjawab: “Ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim).   Ini semua menunjukkan bahwa ibu-lah yang lebih utama harus ditunaikan haknya dan selalu berbakti kepadanya. Tanpa ibu, seluruh yang kita lakukan di dunia ini sia-sia. Untuk setiap doa yang engkau lantunkan untukku, aku menyayangimu Ibu.

Mendengar derap langkahnya dari kejauhan saja membuatku terasa berarti. Kehadirannya seperti sebuah anugerah yang Allah berikan kepadaku. Dia tidak memintaku untuk patuh terhadap aturannya. Yang dia inginkan hanya melihat diriku tumbuh dengan apa adanya tanpa sebuah paksaan. Ya, memang malaikat tak bersayap yang aku miliki.

Tanpa bantuannya, Allah mungkin belum mengizinkanku untuk berdiri di sini menghadap tatapan matahari pagi yang suci. Allah mungkin telah memilihkanku ibu yang tepat untukku. Dengan kebijaksanaannya, dia memilih segala yang aku butuhkan dan mengesampingkan apa yang dia inginkan. Puji syukur selalu kupanjatkan kepadanya karena telah dilahirkan dari rahim seorang wanita yang penyayang seperti Ibu.

Mengantarku saat pergi mencari ilmu yang Allah perintahkan. Membantuku berdiri di saat orang lain terang-terangan mengejekku.

Menjadi anak yang selalu menjadi kebanggaan setiap orang tua memang tidak mudah. Setiap kali kucoba untuk meyakinkan ayahku betapa sulitnya menggapai yang kita inginkan beliau selalu memiliki jawaban. Namun, dengan kasih sayangnya ibu dapat meyakinkanku bahwa kehadiranku saja sudah membuat dirinya bangga. Setiap orang tua memang menginginkan anak-anaknya menjadi seorang yang sukses. Berbeda dengan perkataan itu, ibu dengan terang-terangan hanya menginginkan diri untuk tegar dan taat beribadah serta meminta bantuan dari Allah apabila merasakan kesusahan dalam kehidupan.

Aku sungguh bangga memiliki seorang ibu seperti dia. Ibu bahkan rela meluangkan setiap waktunya untuk menemaniku di saat aku kehilangan semangat. Jari-jemarinyalah yang mengajarkanku membaca rentetan ayat suci Al-Quran. Mengajariku makna yang terkandung di setiap ayatnya dan sebab-sebab ayat tersebut keluar.

Menemaniku di saat aku mulai terlelap dalam kantuk. Serta membangunkanku saat adzan subuh berkumandangan adalah rutinitas harian yang ibu lakukan untukku tanpa mengharapkan imbalan berupa materi yang berlimpah. Dia membuatku mengerti akan makna hidup dengan tidak bergantung pada materi.

Kata orang, ibu terlewat memanjakanku. Di saat aku mulai mencari jati diriku dengan mengepalkan tangan ke setiap orang yang menghalangi, ibu dengan sabar menerima konsekuensi yang aku sebabkan. Tidak ada keluhan yang aku terima darinya akan perbuatanku. Semua yang ibu lakukan membuatku mengubah sikap dan kepribadian menjadi lebih berguna dan bermanfaat untuk masyarakat.

Sejauh ini, ibu berhasil menuntunku ke jalan yang Allah ridhai. Aku yakin, di setiap kata-kata suci yang keluar dari mulutnya merupakan doa untukku. Doa yang baik untuk keselamatan anak-anaknya. Kutengok betapa terlihat jelas kerutan-kerutan wajah yang menyeruat keluar. Kini, usianya menginjak setengah Abad. Kantung matanya yang kini terlihat membuatku prihatin. Tak sadar, air mata ini menetes tak terarah.

Yang kupikirkan selama ini hanya diriku. Segala hal keduniawiaan yang setiap orang inginkan telah menggelapkanku. Sesungguhnya, Ibu hanya butuh baktiku ketika dia berada di fase istirahatnya. Saat kutanya apa yang ia inginkan dariku, ia hanya menjawab waktulah yang ia inginkan dariku.

Selama ini, aku takut untuk menentang kemauannya. Berkata “Ah” padanya pun aku tak sanggup. Jasanya memang tak senilai dengan butiran-butiran berlian seharga milyaran yang di jual di mana-mana. aku tidak mau membuatnya merasakan kesulitan yang lebih dari ini. Ibu adalah wanita yang Rasulullah sebutkan pada urutan pertama dan kedua ketika beliau ditanya mengenai siapa yang harus diperlakukan dengan baik oleh seorang anak. Aku tahu, salah satu masuk ke surga milik Allah kelak adalah berbakti kepada kedua orang tua terutama ibumu.

Aku tidak mau menjadi seorang malin kundang berikutnya karena membantah ataupun menentang perintah yang ibu. Walau terkadang, perintah tersebut membuat kita berasa tidak nyaman. Usahakanlah patuh dan taat.

Aku berjanji terhadap diriku, untuk setiap umur yang aku lewatkan hanya demi kesenangan pribadi izinkan aku menjadi anak yang patuh. Mencoba membalas seluruh jasa mamah pun sebenarnya sia-sia. Karena, setiap air mata yang keluar dari matanya akan kenakalan kita, setiap doanya yang keluar melindungi kita, dan setiap kasih sayang yang membuat kita merasa bersyukur memilikinya tidak akan mampu terbalas oleh materi yang kita miliki kelak.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fajar Winarso
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Masih aktif sebagai salah satu reporter di majalah kampus GEMA. Seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk menulis dan selalu bersyukur terhadap segala nikmat.

Lihat Juga

Kala Ibu Terlelap